Tampilkan postingan dengan label Kerkhoven. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kerkhoven. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 Maret 2021

Kerkhoven 13

-13-
Slipdas

 

Tentu saja aku tidak langsung pergi.

Hal pertama yang kulakukan adalah mencari pijakan agar Dian tidak menggantung terus-menerus seperti itu. Dia pasti sangat kelelahan. Kutemukan sebuah meja cukup tinggi di seberang ruangan. Meski aku harus tertatih-tatih melewati barisan mayat, aku tetap melakukannya. Dian berteriak dengan sangat tegas, “A! Pergi, A! Jangan lama-lama di sini!”

Aku tak mendengarkan. Aku membawa meja itu ke bawah kaki Dian, sehingga cowok itu bisa berpijak.

“Siapa mayat-mayat ini?!” seruku panik. Bahkan, aku agak-agak ingin menangis.

“A, cepetan pergi dari sini, A. Ini bukan tempat yang aman buat Aa! Pergi dari desa ini!”

“Tapi jelasin dulu, siapa mereka? Dan kenapa tempat ini bahaya?”

Dian seharusnya tampak seksi. Dian memenuhi segala jenis fantasi BDSM yang pernah kubayangkan. Tubuh telanjangnya tampak semakin berotot karena kedua tangannya tertarik ke atas. Namun kali ini aku sedang enggan berpikir mesum. Aku ingin sekali menolong Dian, meskipun pahaku sendiri nyerinya bukan main. Aku tak sanggup memanjat ke atas meja atau melepaskan ikatan tangan Dian di atas sana.

“Mereka semua korban Corona!” seru Dian akhirnya. “Makanya, A! Burukeun! Kabur dari sini, keluar dari desa!”

Aku membelalak mendengarnya.

Korban Covid-19?!

Dibiarkan berjejer dalam satu ruangan, tak terkubur seperti ini?!

Tanpa pembungkus?!

WHAT THE FUCK?!

Apa gunanya aku isolasi dua minggu di kamar sebelah kalau di sini ada puluhan jenazah Covid-19?!

Dian seperti ingin menangis. “Cepat, A! Pergi dari sini. Jangan sampai Aa jadi korban berikutnya.”

“Tapi ... tapi kamu—”

“Jangan pikirin saya, A. Saya dihukum di sini supaya saya mati juga karena Corona. Gara-gara saya nyaris ngebocorin informasi penting ke Aa. Tapi Aa harus nyelamatin diri Aa sekarang! Cepat pergi, A!”

Aku malah menangis di tempat dan menggelengkan kepala. “Enggak bisa ...! Saya enggak bisa ninggalin kamu di sini, Mas!”

“Jangan peduliin saya, A! Aa harus peduliin diri Aa sendiri!”

“Kenapa harus saya aja yang meduliin diri saya sendiri?! Kenapa kamu juga enggak peduliin diri kamu sendiri?!”

Dian, masih dengan kedua tangan terikat ke atas, di mana wajahnya sekarang terhimpit ketiaknya sendiri, mencoba menjelaskan kepadaku dengan sabar. “Karena Aa satu-satunya harapan saya, A! Kalau Aa selamat, Aa bisa sebarkan yang sebenarnya soal desa ini ke luar. Negara kita mesti tahu yang sebenarnya!” Suara Dian bergetar. Kulihat tubuhnya berguncang hebat, dadanya kembang kempis. Dian menangis. “Baris empat, ketujuh dari kanan .... Itu keluarga saya semua, A! Keluarga saya sudah mati! Tolong, A .... Aa harus selamat! Cepat kabur dari sini, A!”

Aku ikutan menangis. “Tapi apa yang harus saya sampaikan, Mas? Saya enggak tahu apa-apa!”

“Apa pun! Dunia harus tahu!”

Lalu, dua pintu gudang yang ada di seberang ruangan, terdengar berisik. Seseorang sedang membuka gemboknya dari luar. Pintu itu akan dibuka.

“A ...! Tolong, A ...! Selamatkan diri Aa,” seru Dian terakhir kali.

....

Terakhir kali ..., karena aku terpaksa pergi dari gudang itu, kembali ke kamarku yang tadi di mana Nunung masih tergeletak tak sadarkan diri. Sambil menangis tersedu-sedu aku menyeret tubuhku di sepanjang dinding. Kupecahkan kaca jendela kamar, lalu aku merangkak keluar melewati garis kuning polisi yang membentang di sana sini.

Aku tak tahu lagi apa yang terjadi di dalam sana. Kudapati diriku berjalan tertatih-tatih melewati halaman rumput yang luas. Aku berada di satu sisi area gedung, sementara mobilku ada di sisi lain, terparkir bisu. Sekitar tiga orang menjaga mobilku. Satu orang duduk di atas kap mesin, dua orang lain berdiri dan bercakap-cakap. Sudah tak mungkin aku menggunakan mobilku. Selain kuncinya ada di kamar, kakiku juga tampaknya belum bisa digunakan dengan sempurna.

Jadi, aku berjalan dalam kegelapan, menyusuri pepohonan tinggi pinggir jalan yang juga kutemui sebelum bertemu gerbang pohon beringin. Suasana gelap sekali, tanpa penerangan sedikit pun. Di kejauhan sana aku melihat lampu-lampu rumah warga, tetapi ... rasanya jauh sekali. Dan Dian juga berharap aku bisa keluar dari desa ini.

Tapi bagaimana caranya?

Aku tak punya kendaraan, kakiku cedera, aku tak tahu harus pergi ke mana dalam kegelapan ....

....

Namun aku tak akan menyerah.

Sekitar dua atau tiga jam kemudian, aku akhirnya mencapai rumah Pak Kades. Kurasa aku tersesat beberapa kali di dalam hutan. Kakiku yang tak beralas berkali-kali menginjak kodok, dedaunan basah, batu kerikil yang menyakitkan, bahkan tanaman berduri. Hujan turun lagi saat itu. Cukup deras, seperti hari pertama. Tubuhku kedinginan, tetapi rasa sakitku menjadi bias. Pada saat yang sama aku melihat rumah Pak Kades.

Dan saat itu juga aku tahu aku sedang menjadi buronan.

“Euweuh! Geus leungit!”

“Anjing, leungit ka mana émangna?! Mobilna aya kénéh!”

“Teuing! Tapi si Nunung paéh. Sigana ku manéhanna!”

Aku tak mengerti satu pun yang mereka bicarakan. Namun yang kulihat ada empat orang laki-laki berbadan besar, membawa senter di satu tangan dan golok di tangan lain. Dari ekspresi wajah mereka yang risau, tampak jelas mereka sedang kehilangan sesuatu. Dan dengan nama Nunung disebutkan di sana, sudah pasti akulah yang dicari.

Tak ada Pak Munarman di halaman rumah itu. Keempat laki-laki itu langsung berlari ke arah Kerkhoven, sehingga aku bisa menyelinap keluar semak-semak berduri, lalu berjalan menyusuri jalan masuk desa dalam gelap.

Sambil menangis aku teringat lagi dua minggu lalu saat membuntuti Dian yang bertelanjang dada di sepanjang jalan ini. Hujan deras mengguyur kami, tetapi laki-laki itu tampak menawan dengan sehelai daun pisang raksasa menutupi kepalanya. Aku menangis karena laki-laki itu sekarang terikat di dalam gudang serai yang penuh mayat ... dan mayat keluarganya juga ada di sana.

Hujan deras yang muncul lagi di jalan ini mengaburkan isakanku. Air mataku bercampur dengan tetesan hujan yang mengalir di wajah. Aku berjalan pelan-pelan, di tengah jalan tanah merah yang berlubang dan berlumpur. Kukira semua orang pasti sedang heboh di Kerkhoven mencariku, jadi aku harus menggunakan kesempatan ini berjalan kaki melewati dua pohon beringin.

....

Tidak. Dugaanku salah.

Ketika aku sampai di area tebing di mana mobilku tak bisa lewat hari pertama ..., beberapa orang sudah menungguku. Air dari satu tebing mengalir seperti tempo hari, mencipta air terjun ke tebing curam di seberangnya. Awalnya aku tak bisa melihat mereka, karena suasana gelap. Lalu satu orang menyalakan senter, dan belasan lain menyalakannya juga.

Orang pertama yang menyalakan senter itu adalah Pak Munarman. Berdiri paling depan.

“Selamat malam Pak Rizki,” sapanya.

Aku membelalak terkejut. Tubuhku yang menggigil karena hujan, semakin gemetaran karena rasa panik. Tentu saja aku tak menjawab sapaan itu. Aku langsung mencoba mencari jalan keluar dari situasi ini.

Tak bisa. Di belakangku, empat laki-laki yang kulihat di rumah Pak Munarman sedang berjalan ke arahku sambil menyorotkan senter mereka. Beberapa orang lain juga membuntutinya.

Aku dikepung dari dua arah.

“Sudah habis ya efeknya, Pak?” tanya Pak Munarman sambil terkekeh. “Pisang goreng bikinan istri saya memang enak, apalagi kalau dicampur jamur spesial kayak yang Bapak makan dua minggu lalu. Bikin kita bisa berhalusinasi terus. Hahaha.”

Beberapa orang di belakang Pak Munarman tertawa.

“Masih hari ke-13 lho, Pak. Bapak belum selesai karantinanya.”

“Saya mau pergi!” jeritku, dengan suara serak dan merintih karena kebanyakan menangis. “Saya mau pulang.”

“Lho, bukannya Bapak mau lihat-lihat dulu desa kami?” Pak Munarman berjalan pelan-pelan ke arahku, “Atau Bapak sudah lihat semuanya?”

Melihat belasan orang mengepungku dengan golok di tangan mereka, kurasa aku sudah melihat semuanya. Ini adalah desa terkutuk!

“Padahal Nunung sudah masuk setiap hari ke kamar supaya ilusi itu tetap memanjakan Bapak. Dia pel lantainya yang berdebu, dia bersihkan semuanya, eh Bapak tetap kabur juga. Bapak takut hantunya ... atau Bapak takut Corona di ruang sebelah?”

Pak Munarman tertawa lagi, diikuti kekehan dari rombongannya.

“Kenapa?” tanyaku, dengan suara parau. “Kenapa Bapak melakukan itu ke saya?”

“Karena saya enggak suka wartawan!” sahutnya tegas. Suaranya menggelegar seperti petir di bawah hujan deras. “Saya enggak suka mereka ikut campur dan memperburuk nama desa ini! Kami menjaga desa ini sejak lama, namanya selalu baik sampai akhirnya Corona datang. Delapan puluh persen dari kami terkena Corona. Dokter-dokter yang kami tahan di Kerkhoven kami ancam agar tidak memberikan informasi ini ke Kemenkes .... Atau nyawa mereka melayang. Kayaknya mereka lebih sayang nyawa. Bagus, lah kalau begitu. Makanya mereka setia membantu kami mengecek siapa saja yang kena Corona.

“Termasuk saya. Positif juga. HAHAHA!” Pak Munarman tertawa kencang sekali.

Aku tak tahu apakah dari mulutnya yang menganga lebar itu keluar droplet yang akhirnya masuk ke mataku atau enggak. Tak ada yang mengenakan masker satu pun di sini. Mungkin aku sudah terinfeksi Covid-19 sedari kemarin. Namun saat ini aku tak peduli.

“Lalu yang Bapak inginkan itu apa?” tanyaku.

“Ya saya pengin Bapak mati, lah!” jawab Pak Munarman sambil mendengus geram. “Saya ingin mencegah informasi soal desa ini bocor ke luar. Paham?!”

Inikah yang Dian maksud tentang bahaya itu?

Aku mulai bisa mendapat gambaran penuh sekarang. Inilah rahasia desa yang Pak Munarman dan orang-orang ini sembunyikan dari luar. Inilah alasannya aku ditempatkan di ruang utama Kerkhoven yang penuh hantu, tepat di sebelah gudang serai berisi mayat-mayat Covid-19. Malah, serai-serai itu tampaknya digunakan untuk mengaburkan bau busuk mayat agar tidak tercium ke kamarku. Inilah alasannya Dian menjagaku. Bukan dari hantu-hantu, melainkan dari kejahatan kepala desa ini. Inilah juga alasannya semua hantu itu menatapku malam hari. Mereka meminta bantuan. Bukan ingin menggangguku.

Sepicik itukah seseorang demi nama baik desa tanpa kasus Corona sehingga melakukan semua ini? Atau mereka menyembunyikan sesuatu di dalam desa yang tak ingin diketahui publik semisal pemerintah melakukan invasi?

Pak Munarman mengacungkan goloknya tinggi-tinggi ke udara. Tetes hujan deras mengaburkan pandanganku akan mata golok itu, tetapi aku tahu dia sedang akan menghunuskannya ke arahku.

“MATI!” sahut Pak Munarman bersemangat.

Dan yang kulakukan adalah ...

... aku melompat.

Aku melompat ke tebing curam di sebelahku, meluncur dan memerosot di saluran air yang licin dan berlumpur. Aku ingat Dian berkata bahwa aliran air ini menuju Sungai Cimenong di bawah, yang kemudian mengalir ke Sukabumi.

Entahlah. Entah aku akan sampai ke sana, atau aku mati di jalan.

Yang pasti aku bisa terbebas dari golok itu. Kalau harus mati pun, aku mati di tanganku sendiri.

Aku merosot mengikuti aliran air terjun kecil itu. Kutabrak beberapa pohon dan tumbuhan di sepanjang jalan. Lalu, BYUR! Aku tenggelam ke sebuah aliran sungai yang deras dan berbatu.

Dan kepalaku membentur satu batu kali yang keras di dasarnya.



The end.


<<< Part 12  |  Kerkhoven

Kerkhoven 12

-12-
Magajizn

 

Tentu saja aku terbangun dalam keadaan terikat.

Aku merasakan pusing teramat sangat di dalam kepalaku. Sehingga, ketika aku sadar, aku masih belum sanggup membuka mata. Aku hanya mengerutkan wajahku ke dalam, mencoba menahan rasa sakit tersebut. Lama kelamaan, rasa pusing itu memudar. Aku bisa membuka mataku perlahan-lahan.

Pupil mataku langsung menyesuaikan dengan pencahayaan yang minim. Tampaknya hari mulai memasuki malam. Kulihat ada noda cairan di kausku, tepat di bawah leher. Mungkin aku dicekoki sesuatu ke mulut—entahlah. Karena, perutku terasa agak mulas.

Aku berada di kamarku. Tanpa ilusi. Aku diikat ke sebuah kursi besi menggunakan tali rafia. Ikatannya cukup kencang, meski menurutku sia-sia karena aku bisa berontak dengan sangat kuat agar talinya putus. Apalagi tali ini diikatkan ke kursinya juga. Kursi besi yang mulai keropos.

Aku berada di dinding kamar yang menempel ke balkon.

Oh, balkon itu tak ada.

Ketika aku menengok ke luar, ke tempat yang seharusnya balkon, di sana hanya ada teras bertegel yang sudah dipenuhi rumput. Tak ada pagar, tak ada pot tanaman, tak ada meja dan kursi untuk minum teh. Yang ada malah rumput dengan bebungaan kuning yang bunganya sempat Dian bawa masuk ke dalam kamar.

Aku kembali memindai seisi kamar.

Tak ada siapa-siapa di dalamnya. Tak ada manusia, tak ada hantu. Hari mulai gelap. Azan magrib bersahut-sahutan di luar sana. Kusadari ada satu jalur basah dari pintu masuk kamar ke pintu kamar sebelah. Seolah-olah seseorang mengepel lantai, tetapi hanya di jalur antar dua pintu saja. Sisanya tetap kotor dan berdebu.

Eh, bukan. Kurasa itu bukan pel.

Kurasa seseorang menggeret sesuatu yang berat dan basah melewati kedua pintu itu, meninggalkan jejak.

Aku mencoba melepaskan diri dari ikatan tali rafia itu selama sepuluh menit. Sampai talinya benar-benar tipis karena tertarik, tetapi tali itu tak putus juga.

Yang mengikatku benar-benar bodoh. Tak bisakah dia menggunakan tali tambang saja?

Aku tak bisa melanjutkan pemberontakan di atas kursi, karena pintu kamarku terbuka. Nunung masuk sambil menarik sesuatu di dalam kantung plastik besar. Dia tampaknya kelelahan menarik benda itu, makanya dia meninggalkan jejak basah antara dua pintu.

Nunung mengabaikanku. Dia melihatku sebentar dengan tatapan bengis, lalu berlalu begitu saja ke ruang sebelah. Dia menyimpan sesuatu di sana, untuk waktu yang cukup lama. Kugunakan kesempatan ini untuk mendorong tubuhku sekali lagi, menjauhi sandaran kursi. Aku mencoba mengoyak ikatan rafia yang mulai menipis dengan sisa tenaga yang kupunya. Rasanya perih sekali. Rasanya seperti ada kawat-kawat tipis yang mencoba mengikatku di seluruh tubuh.

Tasss!

Satu tali berhasil putus!

Kebetulan, tali itu tadinya mengikat lengan atasku. Jadi, aku bisa mengeluarkan kedua lenganku—meski susah payah—dan akhirnya mengeluarkan tubuhku dari seluruh ikatan itu.

Sayangnya, aku tak menyadari ....

... Nunung sudah berdiri di sampingku dengan sebuah sekop besi besar di tangan.

Ketika aku mengeluarkan kakiku yang terikat ke kaki kursi, Nunung melayangkan sekop itu. Aku sempat menyadarinya beberapa milidetik, sehingga aku membungkuk untuk menghindar. Namun sekop itu tetap mengenai tubuhku.

DONG!

“AAARGH!” Sekop Nunung mengenai pundak dan punggungku. Rasanya perih seperti diperas. Aku tersungkur ke atas lantai dengan satu kaki masih terikat ke kursi. Jadinya, kursi itu ikut jatuh bersamaku.

BUK! BUK!

“AAAAAARGH!” Karena aku terkapar di atas lantai, Nunung menghantamkan kepala sekop ke pahaku. Rasanya sakiiit ... sekali. Mataku memelotot, teriakanku kencang, mulutku menganga, seolah-olah nyawaku akan keluar.

Namun aku masih punya tenaga untuk melawan. Kakiku yang masih terikat ke kursi, yang kebetulan bukan sasaran sekop barusan, langsung kuangkat dan kuhantamkan ke tubuh Nunung. Perempuan bertubuh mungil itu langsung tersungkur ke atas lantai juga. Kugunakan kesempatan itu untuk melepaskan kakiku dari kursi, meski rasanya paha, pundak, dan punggungku masih snut-snutan.

Aku tak sanggup berdiri. Aku mencoba bangkit, tetapi tungkaiku terasa nyeri. Sehingga, aku hanya bisa menyeret tubuhku pelan-pelan. Nunung sudah kembali berdiri dan mengarahkan sekopnya ke arahku. Meski seluruh tubuhku kesakitan, aku masih punya sisa tenaga untuk menghindar.

DUK! DUK! DUK!

Kali ini mata sekop itu tidak mengenai tubuhku. Nunung menghunuskannya ke arahku, tetapi aku berhasil menghindar dan menghindar, sehingga lantailah yang menjadi korbannya. Satu kali aku sempat menahan sekop itu dengan tanganku, lalu kudorong Nunung hingga dia terjatuh dan kepalanya membentur salah satu kursi besi. Sekop itu terlepas dari tangan Nunung.

Kuraih langsung meja terdekat, dan kucoba sekali lagi untuk berdiri sambil berpegangan. Kali ini berhasil, meski jalanku agak terpincang-pincang. Setiap aku melangkah, aku mengerang kesakitan. Aku mencoba menghampiri balkon—

BUK!

Nunung melempariku dengan sesuatu. Entah batu, entah apa. Rasanya keras sekali, menghantam tepat ke belakang kepalaku.

Aku terjatuh lagi ke atas lantai, tetapi sekarang dalam posisi merangkak. Bagaimana pun, aku tetap tak berdaya karena rasa pusing tadi menghantamku lagi setelah benda keras itu memukul kepalaku.

Aku terduduk di atas lantai, masih berusaha bangkit dan melawan, tetapi tenagaku hampir habis. Kurasa sesuatu memang masuk melalui mulutku, sehingga aku kehilangan banyak energi.

Sambil memegang kepalanya, Nunung juga berhasil bangkit. Dia mendengus seperti kerbau. Diraihnya sekop yang tergeletak di atas lantai, lalu berlari dan bermaksud menghantamku lagi dengan benda itu.

Aku mati.

....

Aku bisa mati.

Masalahnya, aku tak bisa bergerak lagi. Aku masih bisa memulihkan diri, tetapi butuh waktu. Posisiku sekarang terduduk dalam perlindungan minim. Sekop itu bisa saja dihantamkan ke kepalaku hingga aku mati. Akan sangat mudah melakukannya.

Nunung sudah berada satu meter dariku, mengangkat sekopnya tinggi-tinggi, dan akan menghantamkannya ke kepalaku ...

....

... tetapi dia tak melakukannya.

Sekop itu tetap teracung di udara. Membeku seperti manekin.

Aku mendongak untuk melihat wajah Nunung. Dia tidak sedang melihat ke arahku. Dia sedang melihat ke sesuatu di belakangku. Ekspresinya sama seperti setiap kali dia sungkan berbicara denganku sehari-hari. Matanya memelotot.

Ketakutan.

Aku menoleh untuk melihat apa yang sebenarnya dia lihat selama ini di belakangku.

Tentu saja.

Puluhan orang itu. Dipimpin Thomas Kerkhoven tepat di belakangku.

Sosok-sosok itu berdiri tanpa ekspresi, memandang Nunung dengan tatapan mengintimidasi. Thomaslah yang membuat Nunung tak berani menatap wajahku. Bukan karena Nunung bersikap sopan seperti kebanyakan orang Sunda. Sekarang, aku jadi paham, satu-satunya momen ketika Nunung berani menatap wajahku tempo hari, adalah saat Thomas berada di balkon. Tidak berada di ruangan yang sama dengan kami.

Ya. Nunung takut kepada Thomas.

Dan kepada rombongan jiwa-jiwa yang terbakar di gedung ini.

....

Mungkinkah saat sosok-sosok halus itu mengejarku di lorong bukan karena ingin menangkapku? Mungkinkah karena mereka ingin mencegahku masuk ke kamar agar tidak diserang Nunung?

....

Prang!

Nunung menjatuhkan sekopnya ke atas lantai, menciptakan bunyi berisik di seantero kamar. Dia berjalan termundur-mundur. Kemudian, Nunung berlari, tetapi ...

... dia terpeleset lantai basah yang dia ciptakan sendiri.

Tubuh Nunung oleng, langsung jatuh seperti ada kulit pisang membuat kakinya licin. Kepalanya mengantam mata sekop yang dia jatuhkan.

....

Nunung pingsan. Entah mati. Bagian belakang kepalanya berdarah. Mata Nunung terpejam.

Aku mengatur napasku untuk menenangkan diri. Mataku masih membelalak tak percaya, menyaksikan perempuan itu pingsan oleh ulahnya sendiri. Setelah dadaku berdegup dengan normal, aku bangkit perlahan-lahan, kembali berpegangan pada meja. Aku berbalik, berdiri menghadap puluhan sosok yang sudah mati lebih dari seratus tahun lalu. Ekspresi mereka masih sama. Seperti malam-malam gelap di dalam peti mati, menatapku tanpa emosi.

Aku tahu mereka membantuku. Aku tahu mereka melindungiku. Jadi, dengan mata agak berkaca-kaca, aku tersenyum kepada mereka.

Untuk kali pertama, mereka menunjukkan ekspresi mereka.

Semuanya tersenyum. Dan, mengangguk.

....

Hal berikutnya yang kutahu, aku harus berlari ke kamar tamu sebelah karena aku teringat tiga puluhan hantu ini meminta tolong kepadaku terkait ruangan tersebut. Aku bisa saja memecahkan kaca jendela dan kabur melalui balkon, tetapi mereka baru saja menolongku dari Nunung yang berpotensi membunuhku. Kurasa tak ada salahnya membantu mereka sebelum aku benar-benar kabur dari sini.

Aku berjalan ke ambang pintu terlarang. Ini kali pertama aku akan masuk. Aroma lemongrass tercium sangat kuat dari sini. Namun ruangan itu kosong. Tak ada apa pun di dalamnya.

Oh, kecuali jejak seretan basah yang diciptakan Nunung.

Dari pintu tempatku berdiri, jejak basah itu terlukis hingga ke pintu berikutnya yang ada di seberang ruangan. Aku berjalan terpincang-pincang, berpegangan pada dinding, menuju pintu itu. Pintunya tak terkunci, mungkin untuk memudahkan mobilitas Nunung. Semakin dekat dengan pintu, aroma serainya semakin pekat.

Aku membuka pintu ruangan sebelah dengan gemetar. Aku tak tahu apa yang akan terjadi berikutnya, tetapi perasaanku tidak enak ....

....

Pintu terbuka. Aku berdiri di ambang pintu, dan membeku.

Ruangan yang kulihat adalah sebuah gudang besar, mungkin enam kali kamar yang kutinggali selama tiga belas hari terakhir. Seperti pabrik. Di satu sudut, tampak bertumpuk-tumpuk batang daun serai, seolah-olah ini adalah gudangnya serai. Namun yang membuatku terpana adalah ...

... puluhan mayat-mayat yang dijejerkan seperti ikan asin di atas lantai. Setiap mayat itu hanya diselimuti oleh sarung, atau kain terpal, atau kantung plastik. Sebagian di antaranya mengeluarkan cairan. Mungkin itu cairan yang membasahi lantai.

Aku sampai terduduk di atas lantai, tak percaya dengan pemandangan di hadapanku. Jadi ... jadi selama dua minggu terakhir aku tidur bersebelahan dengan puluhan mayat? Mayat apa ini? Kenapa mereka tidak dikubur? Kenapa mereka disimpan di dalam gudang serai?

“Kabur ...!” Aku mendengar seseorang berseru dengan suara parau.

Kuedarkan pandangan ke segala arah, tetapi aku tak dapat menemukan siapa pun. Yang kutemukan hanyalah mayat-mayat yang tergeletak begitu saja tanpa nyawa. Mayat yang wajahnya bahkan tak ditutupi apa pun, sehingga lalat beterbangan di sekitarnya.

“Cepat pergi dari sini! Kabur!” Suara itu lagi. Terdengar seperti merintih, tetapi ditujukan kepadaku. Apakah salah satu mayat itu berbicara kepadaku. “Pergi, A! Bahaya!”

Kutemukan dari mana sumbernya.

Dian.

....

Dia sedang tergantung di salah satu dinding dekatku, sehingga aku tak melihatnya sedari tadi. Kedua tangannya terjulur ke atas kepala, diikat ke kuda-kuda atap. Kakinya tak menapak ke tanah. Dian menggantung kelelahan sekitar satu meter di atas permukaan lantai. Telanjang, hanya mengenakan celana panjang yang sudah sobek. Keringat membasahi seluruh tubuhnya. Dan tubuh yang indah itu ... penuh dengan luka.

“Cepat kabur, A! Mereka sebentar lagi datang! Pergi jauh dari desa ini! Cepat!” serunya panik.



To be continued ....


<<< Part 11  |  Kerkhoven  |  Part 13 >>>

Kerkhoven 11

-11-
Gang

 

- Dinten Katilu Belas -

Aku harus pergi hari ini juga, simpulku. Harus. Aku tak peduli lagi pada liputanku. Lebih baik aku dipecat dari kantor, daripada aku jadi gila beneran gara-gara semua kejadian ini.

Pagi hari, aku terbangun di ruangan berbeda.

Bukan, bukan berbeda. Ini justru ruangan sebenarnya.

Kamarku tidak seperti kamar yang kulihat selama dua belas hari terakhir. Meja rias itu tak pernah ada. Pun dua meja yang menampan lampu, hilang dari tempatnya. Sofa dan kursi yang kukira adalah sofa antik nyatanya hanya sofa besi biasa yang jelek.

Tempat tidur berkelambu itu tak ada. Mungkin tak pernah ada. Aku terbangun di atas sebuah dipan keras yang tidak nyaman. Kusingkap selimut tipis jelek warna abu-abu—mungkin selimut rumah sakit—dan kutemukan bahwa tempat tidurku tidak selebar dua belas hari terakhir.

Aku turun dari tempat tidur untuk melihat apa yang ada di bawahnya. Kutemukan kasur tipis buluk dibalut oleh seprai putih yang sudah belel dan warnanya pudar. Lalu di bawahnya adalah tumpukan kayu yang menahan kaki-kaki besi hingga membentuk rangka tempat tidur. Dan apa yang kutemukan dari tumpukan kayu itu?

Bahwa kayu-kayu itu merupakan kayu bekas peti mati.

Kuhabiskan sepanjang pagi menyusun semua pakaianku ke dalam koper. Jejeran lemari megah yang biasanya kulihat ternyata hanya lemari butut dari kayu yang keropos. Kamar ini tidak lebih keren dibandingkan kamar Dian di sebelah. Namun aku tak mau menghabiskan waktu menyesali mengapa aku bisa dibutakan oleh ilusi yang mengerikan. Aku fokus berbenah.

Laptop kumasukkan dengan sembarang, pakaian kulemparkan tanpa kulipat, kutinggalkan semua peralatan mandiku karena koperku jadi terlalu penuh. Kuletakkan semuanya dekat pintu, siap diangkut.

Kemudian, aku keluar dari kamar.

Lorong yang berada tepat di bukaan pintuku tampak berbeda. Lorong itu lebih gelap dan kotor. Debu menyeruak masuk saat aku membuka pintu, seolah-olah tak pernah ada manusia yang melewatinya selama dua tahun terakhir. Aku langsung berlari ke kamar Dian yang ...

... yang pintunya terkuak sedikit.

Dian tetap tak ada di dalamnya. Dan ruangan itu pun tampak lebih berantakan dari sebelumnya.

Kamar Dian seperti tidak pernah digunakan dalam dua abad terakhir. Berdebu, bersarang laba-laba, kotor, beberapa perabotan kayu bekas terbakar dirapatkan berjejer ke tembok ... satu-satunya yang bersih adalah sebuah kasur kecil yang mungkin digunakan Dian selama menemaniku karantina. Bagian situ rapi, baru, dan tampak normal.

Namun tetap saja, tak ada Dian di dalamnya.

Aku keluar lagi dan mulai berlari menyusuri lorong. Sepanjang kulewati setiap kamar di kanan kiriku, beberapa pintu terkuak kecil maupun lebar. Dan semuanya tampak seperti kamar-kamar yang diabaikan. Seolah-olah, tak pernah ada tamu lain yang menginap di sana.

Aku tiba di ujung lorong, di sebuah pintu yang ... terkunci. Aku mencoba menarik atau mendorongnya dengan kuat. Pintu itu terkunci total. Gedung Kerkhoven ini terdiri dari beberapa gedung memanjang yang setiap sayapnya memiliki rentetan ruangan. Gedungku berada paling ujung, jauh dari lobi utama. Gedung sebelah ada di hadapanku, menaiki tiga undakan berlantaikan tegel. Namun aku tetap tak bisa keluar. Aku terkunci total.

Aku mencoba masuk ke salah satu kamar kosong yang kukira terkunci karena sedang ada yang karantina. Aku mencoba keluar lewat jendelanya, tetapi juga terkunci. Bahkan seolah-olah tergembok dari luar.

Dua menit kemudian aku menyadari sesuatu.

Bukan hanya terkunci, seluruh gedung ini ... tersegel.

Ada garis kuning polisi membentang di beberapa tempat yang menjadi jalan masuk. Aku terkurung dalam gedung yang seharusnya tak boleh dimasuki secara hukum. Memangnya apa yang terjadi dengan gedung ini?

Aku berjalan mundur perlahan-lahan. Selain garis kuning polisi yang membentang di mana-mana, kusadari juga bahwa langit-langit lorong nyaris runtuh. Sebagian besar plafon sudah tak ada, bolong-bolong, menampilkan kuda-kuda atap yang bersembunyi di baliknya. Dan dinding berwarna hitam. Terbakar.

Tanganku bergetar sambil mengamati itu semua. Lututku gemetar seraya aku berjalan mundur menjauhi pintu di ujung lorong.

Lalu, sosok itu keluar satu per satu dari kamar paling ujung. Puluhan sosok yang selalu mengamatiku setiap malam. Mereka melayang di atas lantai kotor dan berdebu. Ekspresi mereka sama seperti setiap kali mereka mengamatiku di peti mati. Aku tak bisa menebak mau mereka apa.

Jadi, aku segera berbalik dan berlari, kembali ke kamarku. Menurut hematku, dari balkon sana, aku bisa melompati pagar dan pergi meninggalkan gedung ini. Aku bisa memecahkan kacanya yang besar itu, lalu berlari keluar. Ya. Aku bisa kabur dari sana!

Aku berlari semakin cepat. Rasanya seperti sedang dikejar. Karena, puluhan sosok malam itu melayang semakin cepat membuntutiku. Setiap aku menoleh ke belakang, kulihat mereka sedang menggapaikan tangannya ke arahku, lalu menggelengkan kepala.

Dan, di bawah sinar mentari, aku akhirnya bisa melihat kulit mereka melepuh.

Kulit mereka menghitam karena gosong. Sebagian bahkan memiliki garis-garis bara api dari dalam tubuhnya, seperti lava.

Mereka semua seperti terbakar, tetapi tanpa api.

Mereka tak bersuara. Mereka terus saja menggapaiku seperti zombi.

Mereka ingin menarikku.

....

Tidak! Tidak mau!

Thomas bahkan berdiri di depan pintu kamarku sambil mengangkat tangannya ke arahku. Dia juga menggelengkan kepala.

Akan tetapi, aku tak peduli. Aku tak punya jalan lain. Aku harus berada di kamar dan mendobrak jendela agar aku bisa pergi dari sini!

Aku menganggap Thomas seperti hantu yang ada di TV. Mereka hanyalah makhluk halus di mana aku bisa berjalan menembus tubuhnya. Memang benar. Aku bisa berlari menembus tubuhnya. Aku menabrak Thomas Kerkhoven seperti menabrak bayangan holografis di udara. Aku langsung membuka pintu, dan—

BUUUKKK!

Kepalaku dipukul sesuatu.

Aku pingsan.

Namun sebelum pingsan, aku berhasil melihat siapa yang baru saja menghantamku dengan sapu. Dia berdiri di pinggir pintu, mengarahkan gagang sapu tepat ke keningku, lalu menghantamkannya sekeras mungkin.

Seluruh duniaku langsung gelap tetapi sosok itu kulihat berdiri di samping tubuhku, menggenggam gagang sapu dengan sangat erat. Dia memastikan aku pingsan.

....

Sosok itu adalah Nunung.



To be continued ....


<<< Part 10  |  Kerkhoven  |  Part 12 >>>

Kerkhoven 10

-10-
Droom

 

- Dinten Kadua Belas -

Hingga hari ke-12 berakhir, aku tak pernah bertemu Dian lagi. Wajahnya terakhir kulihat kemarin pagi. Setelah itu, sepanjang hari, aku kepikiran oleh kata-kata Nunung. Namun hari ini kuputuskan untuk menanyakan langsung, siapa tahu Nunung yang mengada-ada.

Sayangnya, aku tak berhasil menemukan Dian di mana pun. Kamarnya kosong. Selain kosong dari Dian, kosong pula dari pakaian-pakaian kotor yang menumpuk dan menggantung—seperti yang kulihat tempo hari. Seolah-olah Dian sudah tak menetap di kamar ini lagi.

Nunung menolak permintaanku untuk menceritakan lebih lanjut soal Dian. Dia hanya mengulang-ulang perintah untuk berhati-hati, menjaga diri dari Dian. Seolah-olah semua kebaikan Dian hanyalah kedok sebelum Dian melakukan sesuatu yang berbahaya kepadaku.

Namun sisa karantinaku tinggal dua hari lagi. Aku sudah harus menyetor 50 tulisan sebelum aku memulai liputanku di desa ini. (Yang semakin sini semakin kuragukan, apakah aku tetap perlu meliput soal Desa Cimenong?) Jadi, aku menyibukkan diriku pada hari ke-12 karantina untuk menyelesaikan tulisan. Kuselesaikan semua pada pukul 11 malam.

Lalu, aku tertidur.

Dan aku bertemu lagi mimpi aneh itu.

Rutinitasnya masih sama. Aku ada di dalam peti mati, kamar tampak gelap dengan semua perabotan terlihat jelas, lalu pintu terbuka, diikuti lima belas orang itu masuk satu per satu ke dalam ruangan. Semuanya berdiri mengitari peti matiku, menatapku lagi tanpa ekspresi. Bedanya, kali ini ada sekitar lima belas orang lain, entahlah, yang masuk dan berdiri mengisi ruangan. Ada yang berdiri dekat meja, sofa, nakas, meja rias, pintu ke balkon, pintu ke kamar mandi, sudut-sudut ruangan, semua terisi penuh. Mereka pun sama-sama menatapku yang terbujur kaku di dalam peti.

Selama beberapa jam pertama, mereka hanya menatapku. Seperti biasa. Namun aku sedang sebal kepada Thomas, sehingga aku melemparkan pandangan ke arah lain, sengaja tak melihat sosoknya. Thomas memerkosaku tempo hari. Meski aku memberikan konsen, tetapi dia menggunakan wujud yang bukan sebenarnya, jadi kuanggap saja dia melakukan pemerkosaan.

Memangnya ini Grindr, foto dan aslinya beda?

....

Tolong,” kata Thomas tiba-tiba.

Ini adalah malam pertama ada percakapan di dalam mimpi anehku ini. Dengan terpaksa, aku menoleh ke arah Thomas. Namun, aku belum mengatakan apa-apa.

Kami tidak suka mayat-mayat di sebelah.

Mayat-mayat?

Ngomong apa, sih?

Karena aku tahu ini mimpi, aku merasa tidak takut kepada mereka. Malah, aku mulai terbiasa dengan mimpi aneh ini. Seolah-olah sudah menjadi rutinitasku, sehingga rasa ngeriku hilang total. Jadi kalau mereka bahas mayat-mayat, responsku ya biasa-biasa saja.

Ini bukan mimpi,” ujar Thomas kemudian.

Aku seperti membelalak kaget, meski aku tahu mataku tidak memelotot seperti yang kukira.

Pak Rizki tidak sedang bermimpi,” lanjut Thomas.

Tiga puluh orang di dalam ruangan mengangguk.

Thomas menambahkan, “Pak Rizki sedang bangun sekarang. Bahkan, setiap malam, Pak Rizki tidak tidur. Pak Rizki sedang hidup saat ini. Pak Rizki tidak sedang berada di tempat tidur. Pak Rizki sedang berada di wujud asli tempat tidur yang dulunya terbakar ... lalu kayu-kayu jatinya yang bertahan diubah menjadi peti mati.”



To be continued ....


<<< Part 09  |  Kerkhoven  |  Part 11 >>>

Kerkhoven 09

-9-
Geestesziekte

 

- Dinten Kasabelas -

Aku tak tahu apa yang terjadi setelahnya.

Yang kutahu, aku terbangun keesokan paginya dengan tubuh lebih segar. Kali pertama membuka mata, aku langsung melihat langit-langit tempat tidurku yang disaungi kelambu. Napasku teratur, tubuhku bergelung dengan nyaman di bawah selimut. Sinar matahari pagi menyeruak masuk melalui kaca jendela yang tirainya disibak lebar-lebar.

Aku langsung waspada. Kupandangi area di mana aku melihat empat belas sosok hantu itu berdiri menatapku. Kuraba perlahan-lahan dengan tanganku, area di mana laki-laki berkumis itu baru saja menggagahiku dalam bentuk Dian.

Lalu, aku menoleh ke arah balkon. Di luar sana, Dian sedang melakukan sesuatu dengan salah satu tanaman.

Aku bangkit duduk. Kudapati tubuhku masih telanjang bulat sisa bercinta dengan sosok itu. Kutarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhku, lalu Dian pun masuk ke dalam sambil membawa beberapa kuntum bunga berwarna kuning. Aku tidak tahu ada bunga kuning di sana. Terlihat seperti bunga liar yang tumbuh di rerumputan.

“Eh, udah bangun, A?” sapa Dian ramah. Senyumnya manis dan lebar seperti semalam. Namun yang ini terasa lebih hangat. “Pusing enggak? Atau mual?” Dian mengganti bunga di dalam vas meja dengan bunga yang baru. Kemudian dia menyodorkanku air putih untuk diminum.

“Kamu ... kamu bukan—”

“Bukan,” jawabnya. Dan dia tersenyum lagi.

Aku masih ragu untuk menerima sodoran air minum itu. Jadinya malah kupandangi saja air di dalam gelas.

“Tenang aja , A. Saya bukan jurig, da.” Dian terkekeh akrab. “Ini minum dulu. Takutnya Aa dehidrasi.”

Aku ingat betul Dian tak pernah memanggilku selain dengan sebutan Aa. Kuputuskan bahwa Dian di depanku ini Dian yang asli. Jadi, kuambil gelas dan kuteguk sampai habis.

“Ada pusing-pusing enggak? Mun ada, entar saya beliin Panadol. Mau?” tawar Dian sambil meletakkan gelasku ke atas meja. Dia juga mengambil sepiring nasi goreng hangat yang entah kapan dimasaknya.

Aku menggelengkan kepala. “Kenapa Mas jawab ‘bukan’?” todongku. “Kenapa Mas langsung bahas jurig?”

“Makan dulu. Nanti saya cerita. Tenang .” Dia tersenyum lagi.

Aku menerima sodoran nasi goreng itu meski agak ragu. Kusuap dua kali seraya Dian membereskan sesuatu di sofa panjang. Sehelai selimut. Dian melipat selimut itu, merapikan bantal, lalu meminggirkannya ke ujung sofa.

“Semalam téh saya tidur di sini. Gapapa kan, A?” tanyanya.

Aku mengangguk, masih mengunyah nasiku.

“Aa enggak saya apa-apain, kok. Sumpah.” Dia bahkan menunjukkan satu tangan yang jemarinya membentuk huruf V.

“Jam berapa sekarang?”

Dian melihat ponselnya. “Masih jam setengah delapan, A. Nanti setelah ini, kalau Aa mau bobo lagi, mangga A. Cuma saya mah yakin Aa pasti pengin nanyain banyak hal ke saya. Bener teu?”

Aku mengangguk.

“Saya enggak bisa nyembunyiin lagi rahasia soal kamar ini, A. Maaf pisan ini mah mun Aa jadi keganggu gara-gara ditempatin di sini. Tapi kamar ini téh memang ... gimana, ya A ... ya gitulah.”

“Semalam Mas datang jam berapa?” tanyaku, sambil melanjutkan menyantap nasi goreng.

“Saya datang jam sebelas sesuai janji saya. Sebenernya saya téh pengin langsung datang seudah saya nelepon, tapi saya beneran enggak bisa ninggalin rumah tetangga saya itu. Mereka lagi berkabung jadinya saya perlu bantuin mereka meringankan beban, kayak bantu salatin, bantu kafanin, gitu-gitulah.”

Ada yang meninggal, ya?

Aku ingin bertanya siapa yang meninggal dan kenapa meninggal, tetapi aku lebih tertarik pada masalahku sendiri. “Terus, apa yang Mas temukan pas masuk ke sini?”

“Aa téh pingsan di atas lantai. Buligir.” Dian menarik napas. Wajahnya lebih serius sekarang, tetapi masih terasa hangat. “Dan mereka masih ada pas saya datang. Jadi ... jadi saya paham masalahnya apa, A.”

“Mereka?” ulangku.

“Iya. Yang berdiri di sana berombongan,” kata Dian, menunjuk area pinggir tempat tidur, di mana aku melihat empat belas sosok itu berdiri sambil menatapku tanpa ekspresi. “Ada lebih dari tiga puluh.”

“Tiga puluh?” ulangku.

Dian mengangguk. “Enya, A. Tiga puluh, kan? Biasana mah 33, A. Emang Aa lihat berapa?”

Ini menyeramkan, sih. Dengan jujur kukatakan, “Aku cuma lihat lima belas, termasuk ... termasuk yang—”

Dian mengangguk dan menyelaku. “Termasuk Thomas. Yang kumisnya tebel itu, pan?” Dian tersenyum lebar lagi, mencoba menenangkan dan memberi kode bahwa semua baik-baik saja. “Biasanya mereka ada 33, A. Kalau Aa cuma sedikit, berarti belum keluar semua. Kan mereka téh butuh energi buat tampil di depan Aa. Enggak gampang buat mereka nunjukin diri. Makanya mereka nyicil, A.

“Biasanya dimulai dari Thomas. Terus Eva sama Mila muncul. Terus yang lain ngikutin. Untuk muncul di depan manusia, harus ada energi si manusia yang melemah. Karena Aa terus-terusan diisolasi di sini, energi Aa téh semakin hari semakin lemah. Jadi mereka bisa muncul satu per satu.

“Sekali lagi saya minta maaf mun Aa jadi keganggu sama situasi ini. Saya pengin ngasih tahu Pak Kades kalau kamar ini enggak boleh dipake, tapi saya teu bisa ngalawan Pak Kades. Saya mah cuma suruhan. Ya udah, saya coba jagain Aa sebisa saya .”

“Ada apa dengan kamar ini?”

“Bukannya Thomas Kerkhoven udah cerita ke Aa?” tanya Dian. “Thomas bilang dia udah cerita semuanya.”

Mana aku tahu apakah itu semuanya atau tidak. Fakta bahwa dia menipuku dalam bentuk Dian saja membuatku kesal bukan main.

Tunggu, Thomas tidak bercerita soal apa yang kulakukan dengan dirinya kepada Dian, kan? Tentang aku bercinta dengan hantu itu, dalam bentuk Dian, dan bla-bla-bla memalukan lainnya? Apa Thomas juga cerita soal aku gay, lalu aku punya foto-foto Dian, lalu aku menikmati sosok Dian melakukan penetrasi ke tubuhku?

Mukaku langsung bersemu merah. Aku tak berani menatap Dian sekarang.

“Thomas juga menceritakan semua yang kalian lakukan di sini,” tambah Dian. (Mati saja aku! Mati saja!) “Dengan detail. Dari awal sampai akhir. Saya mah enggak apa-apa, A. Yang penting Aa baik-baik aja.”

Aku tetap tak berani menatap wajah Dian. Tak bisa membayangkan laki-laki berkumis itu bercerita dengan tenang soal diriku yang naksir Dian.

“Mereka bukan makhluk jahat. Tapi mereka merasa terganggu,” ungkap Dian jujur.

“Terganggu karena saya, Mas?” tanyaku, hati-hati.

“Bukan.” Dian mendesah. “Aa bakal tahu nanti.”

“Dari mana Mas bisa tahu semua ini? Dan gimana caranya Mas bisa ngobrol sama mereka santai-santai begitu? Memangnya Mas enggak takut?”

Dian terkekeh kecil. “Enggak, lah.” Dia menggaruk kepalanya sebentar. “Mereka ... mereka téh memang cuma bisa ngobrol sama saya aja, A. Warga sedesa mah enggak bisa ngobrol ama mereka. Selain warga desa enggak berani, Thomas dan lain-lain enggak maueun.”

“Kok bisa gitu?”

“Karena saya,” Dian menelan ludahnya, “saya keturunan mereka. Mereka cuma merasa aman bicara sama saya.”

Ini mengejutkan, pikirku. Namun ini menjawab banyak pertanyaan seperti mengapa Dian bisa sangat ganteng untuk ukuran pemuda yang tinggal di desa. Aku yakin sekali ada darah orang Eropa di wajahnya, tetapi aku selalu menampik teori itu.

“Oke, karena Mas keturunan mereka, dan Mas bikin mereka merasa aman, kenapa mereka bisa merasa terganggu. Apa alasannya?”

“Aa bakal tahu nanti. Saya enggak bisa bilang apa-apa. Tapi ... tapi mungkin ada alasan kenapa Pak Kades harus menempatkan Aa di sini.”

“Memangnya kenapa?” Akhirnya aku mendongak, dengan cemas berharap Dian memberikan petunjuk.

“Nanti Aa bakal tahu sendiri,” ulangnya untuk kali ketiga. Pandangan Dian mulai sayu. “Aa masih sanggup buat karantina?”

Aku mengangkat bahu. Dan aku pun mengulang pertanyaanku, “Memangnya kenapa?”

Dian balas mengangkat bahu. “Yaaa ..., saya téh pengin Aa pergi dari sini, supaya enggak digangguin. Supaya aman. Tapi saya juga pengin Aa tinggal di sini buat ... buat ....”

“Buat apa? Aman dari apa?”

Giliran Dian yang menunduk sambil menggosok tengkuknya. Dian tampak bimbang. Sesekali dia mencuri pandang ke arahku, mempertimbangkan, lalu menunduk lagi dan memikirkan ulang. “Ya udahlah, pecat mah pecat saya,” gumamnya pelan, tetapi aku bisa mendengarnya. Dian menghela napas, “Tolong jangan bilang saya yang bilang ya, A. Tapi ada sesuatu di desa ini yang enggak beres. Kalau suatu hari Aa—”

Cekrek!

Pintu kamarku terbuka tiba-tiba. Dian langsung menghentikan kata-katanya. Kami berdua menoleh dan menemukan Nunung sudah berdiri di ambang pintu.

Nunung menatap Dian sambil mengerutkan alisnya, “Keur naon sia di dieu?” tanyanya, dalam bahasa Sunda yang tak kumengerti sama sekali.

Henteu ...,” jawab Dian gugup dan berdiri. “Teu nanaon.

Indit!” seru Nunung, tampak tak senang. Aku sama sekali tak mengerti apa yang Nunung katakan. “Indit, siah! Manéh téh kan teu menang aya di dieu. Ngadéngékeun teu ceuk si Bapak kumaha?

Enya ..., enya ...,” gumam Dian mengalah. Dian menatapku sebentar, lalu berjalan keluar dari kamar. Dian tak menoleh lagi setelah dia masuk ke lorong dan lenyap dari pandangan.

Karena aku tak mengenakan sehelai benang pun, tubuhku masih terbalut oleh selimut yang kulilitkan ke seluruh tubuh, aku tak bisa turun dan menyusul Dian. Pun menghampiri Nunung yang mulai mengeluarkan sapunya. Namun aku tetap bertanya kepada perempuan itu, “Ada apa, sih?”

Nunung menoleh. Akan tetapi, baru menoleh sebentar, dia langsung menundukkan lagi pandangannya. Tak berani melihat wajahku. “Ah, bukan apa-apa, kok Pak.”

“Kenapa Dian langsung pergi? Dia disuruh sama Pak Kades?”

Nunung menggeleng. Dia malah bertanya, “Bapak gapapa, kan?”

“Maksudnya?”

“Bapak enggak diapa-apain sama si Dian, kan Pak?”

Aku mengerutkan alis. “Dia udah bantu saya banyak banget justru. Dia udah nolongin saya beberapa kali. Emang kenapa?”

Nunung mulai mengelap meja. Tanpa berani menoleh ke arahku, dia menjawab, “Saya kira Bapak sudah tahu.”

“Tahu apa?”

Badanku mulai merinding. Seolah-olah sebuah aliran listrik meremang ke setiap pembuluh darahku, bersiap mendengar fakta yang tak ingin kudengar sebelumnya. Aku mulai meragukan penilaianku kepada Dian, meski Nunung belum mengatakan apa-apa.

Nunung menarik napas panjang dan menjawab, “Dian kan kena gangguan jiwa, Pak. Dia téh ... dia téh orang gila.”



To be continued ....


<<< Part 08  |  Kerkhoven  |  Part 10 >>>

Kerkhoven 08

-8-
Gemeenschap

 

- Dinten Kasapuluh -

Malam ini, aku meminta Dian untuk datang ke kamarku.

Bukan. Bukan untuk mengaku bahwa aku memotretnya diam-diam, bukan untuk memintanya berpose agar aku bisa memotret lagi, bukan pula untuk melakukan sesuatu yang tidak senonoh. Aku tetap merasa perlu menceritakan soal apa yang kualami kepadanya. Pun untuk memberi tahu bahwa kemarin aku mencoba menemuinya, tetapi dia sedang tidur. (Barangkali CCTV mengira aku sedang akan kabur dari kamarku.)

Rencananya aku ingin menemui Dian sejak pagi, tetapi hari ini hujan mengguyur Desa Cimenong sepanjang hari. Aku mencoba menelepon melalui telepon tua itu, tak ada yang mengangkatnya. Kucoba Whatsapp Pak Munarman, sampai sore belum dibalas juga. Melalui Whatsapp, Dian sepakat untuk datang ke kamarku pukul delapan malam. Katanya, dia harus melakukan sesuatu di desa begitu hujan selesai. Jadi, aku menghabiskan waktu yang kupunya untuk menyelesaikan artikelku saja.

Pukul tujuh malam, pintu kamarku diketuk.

Hujan sudah lama berhenti. Bahkan sebelum magrib, sudah tak ada air menetes dari langit. Namun ketika kubuka pintu, Dian tampak basah kuyup. Dia tersenyum manis sambil mengacak-acak rambutnya yang kini basah.

“Maafkan. Tadi di jalan hujan,” sapanya.

“Oh. Gapapa. Bentar, saya ambilkan handuk, ya.”

Ini bukan pertanda bagus. Ternyata Dian yang basah kuyup tampak lebih seksi. Kepalaku langsung memutar memori pada hari pertama tiba di desa ini. Ketika aku berjalan membuntuti Dian di bawah hujan deras, lalu aku mengamati setiap titik air menempel di permukaan kulitnya.

Dian masuk ke kamar mandi untuk mengelap kepala dan tubuhnya dengan handukku. Ketika keluar, Dian sudah telanjang lagi, dengan sehelai handuk melilit di pinggangnya. Tubuhnya lembap, rambutnya masih basah. Dan aku sudah mengantisipasi hal tersebut dengan menyiapkan bajuku untuk dia pakai. Kuhamparkan di atas tempat tidur.

“Pakai baju saya aja, Mas. Gapapa,” kataku, memunggunginya sambil pura-pura sibuk dengan ponsel. Padahal aku sedang menghindari visual sosok jantan yang indah itu.

“Cukup emang?” tanyanya. Aku tidak menjawab pertanyaan itu.

Ternyata, tak ada yang cukup. Semua bajuku kekecilan di tubuh Dian yang besar dan jangkung. Selain tubuhku lebih kecil dari Dian, aku juga gay. Yang berarti semua pakaianku ngepas badan. Bukan baju-baju longgar yang sering dikenakan cowok straight.

“Saya pakai baju saya yang di sebelah saja,” ujar Dian sambil berjalan ke arah pintu. Kemudian, dia berhenti. “Saya baru teringat. Semua baju saya sudah diambil Nunung untuk dicuci.”

Dia berbalik. Mengangkat bahunya bingung.

“Mungkin saya seperti ini saja,” katanya, tetiba duduk di sofa panjang. “Tidak apa-apa kan, Pak?”

Aku membelalak kaget. Tentu saja apa-apa, batinku. Karena nanti aku jadi terangsang lagi. “Enggak apa-apa, Mas.” Aku mencoba tersenyum dan berbalik ke arah Dian.

Tak dapat kupungkiri, Dian semakin memesona. Dia duduk di atas sofa dengan manis. Kedua tungkainya agak membuka sedikit, layaknya laki-laki kalau duduk pakai celana. Namun karena dia mengenakan handuk, kepalaku jadi fokus ke apa yang ada di antara paha itu.

Tidak, Rizki. Tidak boleh. Dan tidak bisa juga pakai ponsel untuk memotret apa pun di sini.

“Jadi, Pak Rizki ingin bercerita soal apa?” tanya Dian, serius.

Aku mencoba menguasai diriku sendiri. Sebisa mungkin aku menatap wajahnya. Bukan ke dadanya, bukan ke perutnya, bukan ke selangkangannya. “Soal ... soal sejarah rumah ini.”

“Sejarah rumah ini?”

Aku mengangguk. “Kayaknya saya diganggu hantu deh, Mas. Saya enggak masalah, sih. Toh hantu-hantunya enggak melakukan sesuatu yang berbahaya. Tapi saya jadi ingin tahu, apa saya mengganggu mereka sampai-sampai mereka muncul terus? Kalau saya tahu sejarah tempat ini, mungkin saya bisa lebih paham. Dan tolong jangan ngeles lagi. Yang saya maksud adalah hantu di kamar ini, bukan di pohon beringin atau di mana pun.”

“Baiklah,” jawab Dian tenang. Dia mengangguk paham, matanya masih menatapku dengan serius. Dia lalu menjawab, “Memang tempat ini berhantu.”

Aku cukup terkejut karena Dian tidak berkelit lagi seperti sebelumnya.

“Kamar ini adalah pusat dari seluruh kerajaan hantu yang ada di gedung ini,” lanjut Dian.

Sial.

Apa aku bisa request ganti kamar sekarang? Sudah hari kesepuluh, sebenarnya. Sisa empat hari lagi.

Dalam kondisi seperti ini, pun dengan muka serius macam Dian, aku langsung percaya saja semua yang dia katakan. Mungkin pada akhirnya Dian lelah berkelit soal hantu. Lelah membuatku berpikiran positif bahwa tak ada apa-apa di sini. Padahal nyatanya, memang ada apa-apa. Memang semua penampakan itu nyata.

Dian melanjutkan jawabannya, “Ini kamar utama keluarga Kerkhoven. Tidak pernah diisi setiap hari, tetapi selalu diisi keluarga itu setiap ada anggota keluarga yang beristirahat di sini. Sejak keluarga Kerkhoven menetap dalam masa berkembangnya kebun teh, rumah ini ramai dikunjungi. Hingga suatu hari, ketika beberapa keluarga Kerkhoven sedang menetap di sini untuk akhir pekan, bersama dengan bawahannya—baik itu orang Belanda atau orang pribumi, rumah ini terbakar.

“Semua orang mati dalam kebakaran itu. Satu-satunya yang selamat adalah rumah ini. Rumah ini tetap berdiri kokoh dan tegap. Paling ... genting-gentingnya saja yang berjatuhan. Menurut warga desa, sering ada penampakan laki-laki dan dua wanita berkeliaran di sekitar lorong—”

“Nah, iya! Itu!” penggalku antusias. “Saya juga lihat mereka, Mas!”

Dian tersenyum kecil sebelum melanjutkan, “Mereka keluarga yang terbakar itu. Mereka sering terlihat menghantui gedung ini, bahkan setelah gedungnya berubah fungsi menjadi kantor desa. Dukun-dukun setempat sepakat bahwa kamar ini adalah sumber semua penampakan itu. Sehingga kamar ini ditutup agar tidak ada penampakan yang meresahkan warga.”

“Lalu kenapa diberikan kepada saya?”

“Jiwa-jiwa yang terkurung di sini tak pernah punya niatan jahat kepada siapa pun. Mereka hanya ingin memiliki gedung ini sepenuhnya. Tidak pernah mereka menyakiti atau melukai manusia. Malah manusianya yang menyakiti satu sama lain di sini. Mereka tidak suka.”

Aku terpukau pada lancarnya Dian menjelaskan ini semua. Seperti dugaanku, Dian pasti tahu banyak tentang tempat ini. Dia hanya tak ingin membuatku panik dengan cerita hantu, sehingga dia selalu berkelit dengan pertanyaan langit-langit bocor atau kecoa. Mungkin dia rasa ini saat yang tepat untuk membeberkan semuanya. Apalagi aku sudah bertemu para “jiwa” tersebut beberapa kali. Setidaknya dalam mimpi aneh itu.

Sejak Pak Munarman memberiku kamar ini, aku tahu Dian tak setuju. Aku masih ingat hari pertama, ketika aku asyik menyantap pisang goreng bersama kepala desa, Dian tampak tak terima. Bahkan hingga mengantarku ke dalam kamar, Dian seperti mempertanyakan keputusan Pak Munarman. Fakta bahwa dia sekarang tinggal di kamar sebelah, seperti mengindikasikan bahwa dia menjagaku. Atau ketika aku pingsan, dia adalah orang yang menolongku. Seolah-olah dia tahu bahwa semua ini akan terjadi.

Aku tak bisa menyalahkannya.

“Lalu kenapa saya ditempatkan di sini?” tanyaku.

Dian menggelengkan kepala. “Itu saya tidak tahu. Itu keputusan Bapak Munaman.”

“Apa tidak ada tempat isolasi lain selain di sini?”

“Saya juga tidak tahu.”

Tidak tahu, ya? Kukira dia tahu.

“Pak Rizki jangan khawatir,” lanjut Dian, “hantu-hantu itu tak pernah mengganggu siapa pun. Mereka—”

“Memang enggak, kok,” selaku, ingin menyetujui poin Dian. “Mereka enggak ganggu sama sekali. Meski sering banget masuk ke mimpi, tapi enggak ngapa-ngapain. Dan saya juga biasa aja sebenarnya. Saya cuma pengin memastikan apakah saya berhalusinasi atau memang itu semua ada.”

“Itu semua ada,” tegas Dian, serius.

Agak ngeri juga sih dengan Dian malam ini. Aku menduga dia sudah ingin sekali memindahkanku dari sini, tetapi dia enggak punya kuasa untuk melakukan itu. Aku memahami sudut pandangnya. “Oke, oke. Saya udah paham, Mas.” Aku tersenyum, mencoba mencairkan suasana. “Sekarang nyantai aja, hehe. Saya udah legaan, kok.”

Dian pun mengangguk. Dia tersenyum manis sekali ke arahku. Menatap mataku agak lama ...

...

Eh, bukan. Cukup lama sampai-sampai aku penasaran apa yang sedang dia pikirkan soal aku.

“Kenapa?” tanyaku.

“Itu saja?” tanyanya, tergelak kecil masih sambil memandangku dengan tatapan ganteng.

Wajahku memerah. “A-ada lagi?” tanyaku balik, bingung.

Dian diam sejenak sebelum akhirnya berkata. “Saya tahu, kok,” katanya.

Aku membelalak kecil.

Tahu? Maksudnya tahu? Tahu apa?

“Saya tahu ada yang memfoto saya kemarin,” lanjutnya to the point. “Atau kemarinnya lagi. Dan orangnya pakai foto itu untuk onani. Enggak sengaja saya lihat dari jendela balkon waktu saya menyiram pot-pot bunga di luar sana kemarin malam.” Dian masih saja tersenyum.

Di lain sisi, aku membeku. Ketakutan. Merasa sangat malu karena tepergok.

Aku tak bisa menggerakkan tanganku. Jantungku berdegup kencang, kali ini untuk alasan ingin mati. Ya. Aku ingin mati. Aku malu banget. Kalau harus mati saat ini juga, di sini, dengan cara apa pun, aku rela melakukannya. Tanganku dan sekujur tubuhku langsung basah oleh keringat dingin. Seperti aku kesemutan sebadan-badan. Kesetrum oleh rasa malu.

Aku ingin sekali meminta maaf dan berjanji tak akan melakukannya lagi, kalau perlu menghapus semua foto itu selamanya, di depannya sekarang juga. Namun meski mulutku terbuka, tak ada kata-kata keluar dari mulutku.

“Enggak apa-apa,” ujar Dian dengan tenang dan manis. Senyumnya tak pudar sedikit pun. Dan itu bukan senyum jahat atau licik. Itu senyum manis yang menenangkan.

“Ga ... gapapa?” tanyaku terbata-bata, dengan suara tercekat, seperti suara cecurut mungil.

“Saya bisa paham,” ujarnya. Dian lalu bangkit dan menghampiriku ke tempat tidur. Dia langsung duduk di sampingku. Tubuhnya masih terasa dingin dan lembap, mungkin karena dia kehujanan barusan. “Apalagi saya juga merasakan perasaan yang sama.”

Aku mengerutkan alis. Tak paham.

Aku tak menjawab apa-apa. Aku hanya menatap wajah Dian dari dekat, membeku tak bisa bergerak. Yang bisa kudengar saat ini hanyalah suara detak jantungku sendiri. Aku begitu tersihir oleh sempurnanya wajah Dian di depanku. Seolah-olah tak ada cacat di sana. Kulitnya mulus, menggoda, dengan wajah tampan yang membuatku ingin membelainya.

Tak ada kata-kata apa pun lagi setelahnya. Aku dan Dian saling berpandangan. Saling tersenyum. Susah payah aku menghalau mukaku yang bersemu karena malu.

Yang ada malah aku terangsang lagi. Secara langsung. Bukan dengan menggeser gambar seksi di ponsel. Sosok tampan pemuda kampung itu ada di depanku sekarang. Nyata. Bisa kupegang dan kugerayangi sepuasnya. Telanjang. Tak berdaya. Dan baru saja mengaku punya perasaan yang sama.

Lalu, bibir itu mendekati bibirku.

Dan kami berciuman.

....

Tidak hanya itu, kami bercinta di atas tempat tidur.

Setelah ciuman yang terasa sejuk, Dian berdiri di depanku, melepas handuknya. Aku bisa melihat kemaluan itu sekarang. Tampak nyata dan detail. Lebih gemuk dari perkiraanku, apalagi ketika kemaluan itu membesar dan mengeras.

Mungkin karena Dian orang kampung, dia tidak tahu foreplay. Namun aku tak peduli. Ketika Dian tiba-tiba mendorongku ke atas tempat tidur, menelanjangiku dengan mulutnya, dan memasukkan kemaluannya ke tubuhku, aku tak peduli. Aku tak membutuhkan itu.

Aku hanya membutuhkan tubuh Dian yang sempurna untuk menggagahiku.

Jadi aku hanya diam berbaring di atas tempat tidur, mengangkang, memberikan lubang pantatku kepadanya. Dian memasukkan kemaluannya perlahan-lahan, dilicinkan oleh ludah, lalu menggenjotnya dengan gentle juga. Aku hanya diam merasakan kenikmatan itu. Diam sambil memandangi indahnya Dian di hadapanku.

Mataku hanya fokus pada wajah Dian yang tampan.

Lalu, pada dada bidang dan perut kotak-kotak itu.

Atau bisep-trisep kokoh di lengannya yang memukau. Membuatku serasa dilindungi pangeran berkuda.

Aku terpesona oleh senyum Dian yang manis. Pun pada lembutnya dia mempermainkan tubuhku menggunakan kemaluannya.

Sekitar pukul delapan malam, setelah bermenit-menit pada posisi seks yang sama—tetapi aku tak peduli—akhirnya aku orgasme. Aku menyemburkan spermaku tanpa sedikit pun menyentuh kemaluan sendiri. Tahu-tahu tubuhku menggelinjang dan bergetar dan aku merasakan kepuasan tiada tara.

Setelah aku merasakan kenikmatan itu, Dian pun mengeluarkan kemaluannya dari tubuhku.

“Kamu mau dikeluarin juga?” tanyaku.

Dian menggeleng. “Tidak usah.”

Pada saat yang sama, teleponku berdering. Aku tergelak kecil sambil menatap Dian, bersyukur bahwa telepon dari siapa pun itu tidak mengganggu momenku bersama Dian. “Untung enggak nelepon di tengah-tengah barusan,” ungkapku.

Dian tersenyum lagi.

Aku duduk di tempat tidur, masih dalam kondisi kemaluanku mengeras dan mengacung menantang langit. Kuambil ponsel di atas meja dan kutemukan nomor tak dikenal memanggil.

“Halo?” sapaku setelah mengangkatnya.

“Halo? A? Ini Dian, A. Aduh, punten hape saya téh lowbat. Ini juga pake hape temen saya, terus minta nomor Aa ke Pak Kades. Saya bakal agak telat A ke Kerkhovennya gapapa, A? Masih belum beres bantuin satu tetangga saya, A. Lagi ada musibah. Punten nya, A. Punteeen pisan. Palingan saya bisa datang jam sepuluhan. Gapapa, A?”

Pluk!

Aku langsung menjatuhkan ponsel ke atas lantai. Tubuhku membeku. Mataku memelotot oleh rasa ngeri. Kemudian, dari belakang aku mendengar seseorang yang kukira Dian berkata, “Baru nyadar, ya?”

....

Perlahan-lahan aku menoleh ke belakang.

Sosok itu masih ada di sana.

Telanjang di atas tempat tidurku, berbaring menyamping sambil membelai kumisnya yang tebal.

....

Namun sosok itu bukan Dian.

Dia adalah laki-laki berkumis yang sering menyesap teh di balkon.

Di belakangnya, di samping tempat tidur, berdiri empat belas sosok yang kulihat dalam mimpiku semalam. Semuanya menatapku. Sama seperti mereka menatapku berjam-jam dalam mimpi.



To be continued ....


<<< Part 07  |  Kerkhoven  |  Part 09 >>>

Nude 33

  ssendrawkwA emitefiL .33     Pada suatu pagi lima tahun lalu, Miza bangun lebih pagi dari biasanya meski semalaman tak bisa tidur. D...