Selasa, 18 Mei 2021

The Flying Paradise 27

27 The Final

 



Sepuluh menit sebelum hempasan pesawat ke atas permukaan Sungai Musi, Mike menyalakan mesin pesawat agar dapat mengendalikan pendaratan dengan baik. Dengan semua hidrolik berfungsi sempurna. Dengan semua bantuan elektronik yang memadai.

Zuuuiiinnnggg …!!!

Mike menyambungkan mikrofonnya ke interkom kabin. “Passengers, brace for impact! Brace for impact!” Kemudian, Mike menarik napas panjang dan bersiap untuk mendaratkan pesawat di atas sungai.

“One thousand,” ujar Laurence, menginformasi ketinggian pesawat di atas permukaan laut.

Mike menoleh. “Siap?”

“Never been ready.”

Mike mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Laurence menyambut uluran tangan itu, menjabatnya dengan sangat erat. “Flaps?” tanya Mike, mulai membaca ceklisnya.

“Flaps, five degrees.” Laurence membalas sambil menurunkan flaps sayap lima derajat.

“Autopilot?”

Laurence mematikan autopilot. “Off.”

Bunyi tuwit-tuwit-tuwit menggema di kokpit menandakan kemudi pesawat berada di tangan pilot, sudah bukan komputer lagi.

Mau tak mau pendaratan itu harus dilakukan di atas sungai. Apakah sungainya kelihatan? Jujur saja tidak. Baik Mike maupun Laurence tak bisa melihat dengan jelas garis sungai. Yang mereka pandang hanyalah kegelapan pekat dengan lampu-lamput pijar kapal kecil mengapung di beberapa titik. Rumah penduduk pun tampak jarang berada di sekitar sini.

Mungkin nanti saat landing lights menyentuh air, sungainya akan kelihatan, batin Mike.

Ketika mendarat, landing lights akan dinyalakan tak peduli sedang siang atau malam. Sorotan landing lights cukup jauh hingga beberapa ratus meter, apalagi bagi pesawat sebesar Boeing 777. Pada ketinggian 1.000 kaki seperti sekarang ini, landing lights belum dapat menerangi apa yang ada di depan pilot. Namun begitu ketinggian pesawat mendekati permukaan air atau darat, landing lights akan menyinari dengan jelas apa yang berada di depan pesawat. Baik itu landasan, rumah, area berumput, pohon, dan lain sebagainya.

Mike harus menggunakan keberuntungannya untuk menentukan di mana area sungai berada. Sejauh ini, Mike hanya mengandalkan GPS. Ada sebuah peta berwarna hitam dan biru di layar. Hitam berarti daratan, biru berarti air. Melalui peta, Mike memosisisikan arah lajunya pesawat. Dia dan Laurence sudah menentukan di bagian sungai mana akan mendarat. Harapan mereka hanyalah GPS ini tidak meleset, dan sedang tak ada kapal yang melintas di atasnya.

Pengumuman pendaratan pesawat di atas sungai sudah dikirimkan ke setiap radio kapal. Sejauh ini, setiap kapal sudah menyingkir ke tepi sungai. Mereka baru akan melaju kembali ketika pesawat tidak mendarat di depan mereka. Landing lights sudah dinyalakan sedari tadi agar setiap kapal dapat melihat kedatangan pesawat.

Pemilihan sungai dibandingkan lautan dilakukan atas pertimbangan safety. Jika pesawat mendarat di laut, badan pesawat bisa tenggelam jauh ke dasar laut dan sulit ditemukan. Jika pesawat mendarat di sungai, akan ada lebih banyak pertolongan, dan pengangkutan badan pesawat pun lebih mudah karena semua sungai rata-rata dangkal.

“Di sungai yang sama,” ujar Mike, “Silkair flight 185 juga mengakhiri hidupnya.”

Laurence tersenyum. “Aku berharap kita tidak memiliki nasib yang sama.”

“Enggak akan, lah,” balas Mike terkekeh. “Saya, kan punya kamu.”

Pada tahun 1997, Silkair penerbangan 185 jatuh di Sungai Musi menewaskan 104 orang di dalamnya. Penyebab kecelakaan adalah pilot bunuh diri. Saat itu, ekonomi Asia sedang mengalami resesi. Atau istilah populernya: Krismon. Dugaan kuat, sang pilot mengalami masalah finansial, lalu bunuh diri dalam penerbangan tersebut, tapi bunuh dirinya mengajak seluruh penumpang ikut serta. Mike tidak merasa sedang ingin bunuh diri saat ini, meskipun apa yang dilakukan pembajak sukses mengombang-ambing mentalnya sebagai manusia.

Beberapa jam lalu, Mike mendapatkan sebuah pesan yang menyatakan bahwa seluruh utangnya yang menumpuk tak terbayar itu akan dikirimkan kepada sang istri. Termasuk foto-foto seksnya dengan Randian di kabin istirahat kru. Kalau Mike tidak ingin itu terjadi, Mike harus melakukan nose dive, turun ke ketinggian tertentu secara tiba-tiba.

Dan, Mike melakukannya.

Sejauh ini, hanya Laurence yang tahu soal itu.

Mike paham, setelah mendarat ini, dia akan dipenjara atas manuvernya membahayakan penerbangan. Sepanjang melamun, Mike tahu dirinya akan diinvestigasi dan dijatuhi hukuman berat. Meskipun Mike sedang berada dalam ancaman, tidak menutup kemungkinan dirinya tetap mendapatkan sanksi.

Too low—gear! Too low—gear!

Suara peringatan akhirnya muncul di dalam kokpit. Ground Proximity Warning System (GPWS) akan menjerit-jerit jika pesawat berada dalam situasi tidak aman. Jeritan barusan mengindikasikan bahwa pesawat berada sangat dekat dengan daratan (di bawah 1.000 kaki) tetapi roda pesawat belum dikeluarkan.

Mike tentu saja tak akan mengeluarkan roda pesawat, karena mereka akan melakukan pendaratan di air. Mendarat di bandara pun, roda pesawat tetap akan berada di dalam wheel well-nya, untuk menghindari potensi bom meledak di belakang sana. Jadi, Mike sudah mengantisipasi peringatan GPWS tersebut.

Too low—gear! Too low—gear!

“I know!” Mike terkekeh sambil mematikan jeritan mengganggu itu. “Kita enggak akan ngeluarin landing gear, woy!”

Ceklek! Sebuah suara pelatuk siap ditembakkan terdengar dari belakang Mike dan Laurence. Dua moncong senjata api tiba-tiba terarah ke kepala Mike dan Laurence. Kedua pilot itu membeku. Mike perlahan-lahan menoleh ke belakang, melihat sesosok orang berdiri di belakang mereka, menodongkan pistol.

“Kamu …?”




“Yep, full thrust!” kata sosok tersebut.

Laurence menoleh dan membelalak terkejut melihat sosok yang berada di belakang mereka. “Tapi ….”

“Full thrust. Now!” titahnya.

“Kita enggak punya fuel cukup.”

“Oh we do have enough fuel,” kekehnya meremehkan. Satu pistol masih teracung ke arah Mike. Sosok itu membungkuk, menggunakan satu tangannya yang lain untuk mengotak-atik sesuatu di layar bagian tengah, mereset beberapa informasi, lalu menampilkan jumlah sisa bahan bakar sebenarnya. Setelahnya, dia menodongkan lagi pistol ke kepala Laurence. “Now, full thrust! Land in Palembang.”

Laurence menggelengkan kepala ketika melihat sisa bahan bakar masih cukup banyak. Bahkan cukup untuk mendarat di Halim sekarang juga.

“Tapi bukannya kita tadi ….”

“Saya memanipulasi informasi bahan bakar,” kata sosok itu. “Membuat kalian berpikir kita melakukan fuel dump, padahal tidak. Bahan bakar kita selama ini cukup untuk mendarat di Jakarta. Now, full thrust!

Five hundred!

Itu adalah suara lain yang muncul dari kokpit. Menyerukan ketinggian pesawat ke daratan, yaitu 500 kaki saja.

Mungkin karena dua pilot masih syok, sosok itu menjelaskan sekali lagi, “First of all, kalau kalian macam-macam. Saya enggak ragu menembak kalian berdua. And yes, I have a flying experience. Kedua, daratkan pesawat ini di Palembang sekarang juga. Jadi berhenti bersikap seperti pilot tolol, masukkan full thrust seperti go around, dan mendarat di landasan.”

Mike masih ingin menanyakan beberapa pertanyaan, tetapi dia mengangguk dan membiarkan Laurence menarik tuas mesin maju ke depan, sehingga pesawat mendongak lagi ke atas.

ZZZUUUIIINNNGGG …!!!

Mesin pesawat kembali menderu kencang, seperti pesawat yang akan melakukan go around. Asalnya pelan, tiba-tiba melaju lagi.

“Bagaimana dengan landing gear?” tanya Mike, setelah dirinya berhasil mengemudikan pesawat ke ketinggian tertentu, menuju Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang. Pesawat oleng kanan-kiri beberapa kali, berguncang seperti terkena turbulensi.

Landing gear aman,” jawab sosok itu.

“Maksudnya?”

“Bom itu enggak pernah ada.” Dia terkekeh. “Itu hanya kotak kosong dengan indikator lampu berwarna merah. Isinya enggak ada apa-apa.”

Bangsat! maki Mike dalam hati. Laurence yang berada di sebelahnya mengeraskan rahang karena kesal.

“Jadi kamu selama ini adalah mata-matanya?”

“Yep,” jawab sosok itu, tertawa bangga. “Bagus, kan akting saya?”

“Why?”

“Enggak usah banyak omong dulu,” balas sang sosok. “I know you have to call the tower. Ayo! Daratkan dulu pesawat ini di Palembang.”

Mike berdecak dan mulai kembali menghubungi menara. “Jakarta Center. This is Delta Victor Niner Niner Niner, informing that … we’re diverting from landing on Musi River to Whiskey India Papa Papa, for a normal landing. With landing gear.”

Menara kontrol yang menemaninya sedari tadi mengonfirmasi ulang informasi terbaru. Setelah permintaan mendarat di Palembang disetujui, The Flying Paradise pun menjelajah rendah menuju bandara di Palembang dan melakukan prosedur approach secara normal. Mike dan Laurence kembali mengatur ulang ceklis pendaratan yang baru. Kali ini, mereka bisa menurunkan roda pesawat sehingga teriakan GPWS seperti tadi tak akan muncul.

Sepanjang proses pendaratan yang baru itu, pistol tak pernah lepas dari menodong kepala dua pilot di dalam kokpit. Sosok itu duduk di jumpseat tengah, mengenakan sabuk pengaman dan mengangkat tangannya tanpa merasa pegal agar pilot di depannya tak berbuat macam-macam.

The Flying Paradise mendapat izin untuk mendarat secara prioritas. Ambulans, pemadam kebakaran, dan avsec bersiap-siap di setiap taxiway, kalau-kalau mereka harus meringkus pembajak yang berada dalam pesawat.

Selama proses mendarat, Mike bertanya kembali, “Kenapa?” tanyanya. “Kenapa kamu melakukan itu?”

“Karena perusahaan ini bobrok,” jawabnya. “Perusahaan ini punya banyak kesalahan yang enggak bisa dimaafkan. Semoga CVR merekam kata-kata saya dan KNKT bisa menyelidikinya. Jadi, kepada KNKT yang terhormat, sebelum kalian menyelidiki pembajakan ini, selidiki dulu Yavadvipa Jet dan semua skandal yang mereka lakukan. Termasuk kecelakaan pesawat yang dirahasiakan itu.”

One hundred. Suara kokpit memberi tahu ketinggian pesawat ke daratan tinggal 100 kaki.

“Tapi gimana cara kamu melakukan semua pembajakan ini?”

Sosok itu terkekeh lagi, meremehkan. “Karena saya enggak kerja sendirian, pilot ganteng. Semua orang di sini mudah banget untuk diatur agar mengikuti keinginan saya. Termasuk kamu sendiri. Jadi, pembajak di darat itu enggak pernah ada. Semua pembajak ada di penerbangan ini. Semua orang dalam pesawat ini punya kans yang sama untuk menjadi pembajaknya.”

Fifty. Suara kokpit memberi tahu ketinggian pesawat ke daratan tinggal 50 kaki. Ini sudah memasuki proses pendaratan, sehingga Mike tak bisa lagi melanjutkan obrolan. Dia harus fokus.

Forty.

Thirty.

Twenty.

Ten.

Roda pesawat menyentuh landasan. Suspensinya menampung semua beban pesawat ….

… dan, ya …, tidak ada ledakan.

“Reverse thrust!” sahut Laurence.

Mike menarik mundur tuas mesin ke belakang, membuat mesin membuka penutup turbin yang dapat membuat pesawat berjalan mundur. Mesin yang dibuat mundur itu membantu mengurangi kecepatan pesawat. Spoiler yang secara otomatis naik di bagian belakang sayap pesawat juga membantu menurunkan kecepatan.

Setelah roda depan menyentuh landasan, Mike mengerem pesawat kuat-kuat.

“Nyantai aja,” ujar sosok di belakang Mike. “Berhenti di ujung landasan. Jangan masuk taxiway.”

“Apa?!” Mike menoleh sejenak ke belakang.

“Ikuti kata-kata saya!”

Mike mengikuti kata-kata pembajak itu. Pesawat yang kecepatannya mulai turun, bahkan ketika menyentuh 60 knots posisi mesin kembali dinetralkan, tetap dilajukan hingga ke ujung landasan. Di luar, ambulans dan pemadam kebakaran mulai mengejar pesawat yang baru saja mendarat.

Sebelum pesawat benar-benar berhenti, sosok itu sudah melepas sabuk pengamannya. Dia berdiri, tetap menadahkan pistol ke arah Mike dan Laurence, lalu mulai berjalan mundur.

“Terima kasih atas penerbangannya. Sampai jumpa di lain kesempatan. Cause you know what …, kayaknya ini bukan perjumpaan terakhir kita. This is not our last hijacking! O. U. R. Dan ingat, berhenti di ujung landasan, atau saya tembak kalian berdua.”

Sosok itu keluar dari kokpit, tetap membiarkan pintunya terbuka. Dengan gesit dia membuka dua pintu depan, kiri dan kanan. Life raft, atau perahu karet kuning yang biasa digunakan untuk merosot dari dalam kabin langsung terkembang karena sosok itu sengaja tak melakukan pelucutan pengamanan. (Atau istilah populernya: disarmed door.)

Ketika pesawat akhirnya berhenti sempurna di ujung landasan, bahkan sebelum perosotan kuning itu selesai mengembang, sosok itu melempar bom asap di masing-masing pintu. Dalam lima detik, bagian kepala pesawat dipenuhi asap putih yang pekat.

Sosok itu kabur keluar, pergi entah ke mana.

Ketika avsec dan ambulans mendekati bagian depan pesawat … sosok itu tak ditemukan lagi.



To be continued ....


<<< Part 26  |  The Flying Paradise  |  Part 28 >>>

The Flying Paradise 26

26 The Landing

 



“Kita sudah mulai glide,” ujar Maulana. “Informasi terakhir yang saya dapat, kita enggak akan mendarat di bandara. Kita akan mendarat di Sungai Musi.”

Di luar, suara mesin pesawat mati kembali. Kali ini memang sengaja dimatikan agar pesawat bisa menghemat bahan bakar sebelum menggunakannya lagi saat impact ke atas air. Ketinggian pesawat tidak cukup untuk mencapai Sultan Mahmud Badaruddin II International Airport, Palembang. Pesawat militer tetap menemani The Flying Paradise membelah gelapnya malam menuju Sungai Musi yang tak memiliki pencahayaan.

Komunikasi radio disebarkan ke seluruh kapal yang sedang bergerak di atas Sungai Musi. Belum dapat dipastikan di bagian sungai mana pesawat akan mendarat, tetapi seluruh kapal diwajibkan merapat ke tepi sungai dan melaporkan pergerakan pesawat di udara. Beberapa kapal laut di muara sungai sudah melihat pesawat yang melayang perlahan-lahan menyusuri jalur Musi. Pelabuhan Penyeberangan Tanjung Api-Api juga sudah mengirimkan laporan visual pesawat yang terbang rendah di atas langit Sungsang, Kabupaten Banyu Asin.

“Jadi kita duduk di mana?” tanya Kristian.

“Ada kabin khusus untuk menyelamatkan diri di master bedroom—”

“Saya ke sana!” tegas Pamungkas tiba-tiba. Dia melepaskan sabuk pengaman dan berlalu meninggalkan common room.

Harry membelalak, teringat akan kabin tersebut. “Gue lebih dulu!”

Pamungkas dan Harry pun lenyap ke bagian belakang kabin. Empat orang sisanya masih berada di common room, menunggu Maulana melanjutkan kata-katanya.

“Saya bisa duduk di jumpseat, enggak apa-apa. Karena kabin penyelamatan hanya punya kapasitas empat orang saja. Lengkap dengan life vest, cadangan makanan, dan obat-obatan. Kalau pesawat meledak, kemungkinan besar kabin itu akan selamat dari ledakan. Selain karena posisinya berada di ekor pesawat, juga karena materialnya tahan api. Saya enggak tahu apakah bisa dimasuki oleh lima orang—”

“Saya enggak perlu masuk,” ujar Jordan tiba-tiba. Semua menoleh ke arahnya dengan bingung. “Saya cari cara lain untuk selamat. Mungkin duduk di jumpseat juga.”

“Sayang, enggak bisa gitu, ah!” sergah Kristian. “Kamu sama aku harus masuk ke dalam kabin itu. Kita semua harus bisa masuk ke dalam kabin dan selamat dari ledakan.”

“Memang sudah pasti meledak? Bukannya kita mendarat di air?” ungkap Jordan.

“Enggak bisa! Kita semua masuk ke dalam kabin, jangan sampai si bangsat Pamungkas itu selamat dan sehat walafiat!” tegas Kristian. “Sama si Harry, pula.”

“Maksimal empat, Mas. Itu beneran sempit,” ujar Randian. “Saya mendesain untuk sepuluh orang, tapi pihak Boeing menolak. Katanya, terlalu berat. Material tahan apinya punya satu massa khusus yang ngebikin beban pesawat di bagian ekor agak-agak besar. Makanya saya bikin master bedroom di belakang juga supaya enggak banyak orang di sana, supaya kabin khusus itu bisa saya masukkan. Tapi desain saya hanya approve empat orang aja.”

“Lima enggak bisa?” tanya Maulana.

Randian menggelengkan kepala. “Ketika pesawat mendarat di air, let’s say badan pesawat terpisah-pisah, kabin itu hanya sanggup menampung beban empat orang aja. Kalau ada orang kelima masuk, kabin khususnya bisa tenggelam.”

“Ya udah, Mas Randian masuk aja, saya sih enggak usah,” pinta Jordan. “Kamu juga masuk, Sayang.”

“Enggak, lah!” tegas Kristian. “Kalau kamu enggak masuk, aku juga enggak masuk.”

“Udah ada kabar belum sih dari maskapai?” tanya Randian. “Siapa tahu maskapai ngabulin dua permintaan terakhir itu sehingga kita masih bisa diselamatkan dari insiden ini.”

Maulana menggeleng. “Saya belum nerima informasi apa-apa, Mas. Tapi saya juga enggak tahu apakah ada cara lain untuk pesawat mendarat selain ditching. Kan, fuel sudah habis.”

Randian mendengkus dan mengusap mukanya dengan pasrah. Pembicaraan itu buntu. Segala cara dilakukan, tetapi tetap tak menemukan alternatif yang lebih baik. Randian mencoba untuk kali terakhir, “Kalau mata-matanya ada di antara kalian,” desahnya, “please … tolonglah kami atas nama kemanusiaan. Kalau kamu mau dua permintaan itu terpenuhi, saya siap bantu kamu hei mata-mata. Nanti, setelah kita mendarat dengan aman di bandara, tanpa kerusakan, tanpa ancaman, tanpa ledakan. Saya bantu mengompori media agar mengusut kasus Yavadvipa Jet sampai tuntas.

“Tapi tolong …. Tolong untuk saat ini bantu pesawat mendarat ke bandara dulu. Do something.”

Maulana hanya menggeleng kecil. Kristian menunduk, sementara Jordan tersenyum kecil ke arah Randian.

“Udah, lah Mas. Gapapa. Mas masuk aja,” saran Jordan. “Saya bersedia enggak masuk ke dalam kabin karena saya merasa bersalah atas tersebarnya informasi confidential itu. Saya tahu teman-teman di sini masih marah atas kejadian itu. Dan saya juga yakin, teman-teman percaya bukan sayalah yang menyebarkannya. Tapi itu semua terlanjur keluar, kalau harus ada korban berikutnya, saya siap untuk—”

“Enggak!” Kristian menutup mulut Jordan sambil mendengus dan menggeleng. “Jangan pernah ngomong kayak gitu.”

Jordan melepas bekapan mulut itu. “It’s my decision.”

“Mas bilang, Mas tahu siapa mata-matanya?” tanya Randian, mengingatkan kembali.

“Ya, saya punya satu dugaan kuat berdasarkan analisis saya selama ini. Dan orangnya bukan Pamungkas, kok. Justru mata-matanya berusaha menunjukkan bahwa orangnya Pamungkas, tapi saya tahu bukan dia,” jawab Jordan.

“Gimana caranya tahu?”

Jordan tersenyum. “Responsnya berbeda dari yang lain. Bahkan, sejak awal meninggalnya Mas Mora.”

“Cabin crew, prepare for emegency landing.” Suara Mike membahana di setiap interkom.

Maulana terkejut dan segera melompat ke jendela. Maulana membuka semua jendela yang bisa dia buka di common room. Dari dalam kabin dia bisa melihat langit gelap dengan titik-titik lampu berwarna kuning di bawah sana. Rumah-rumah itu jaraknya sudah dekat.

“Kita sudah mau mendarat,” ujar Maulana. “Sebaiknya segera masuk ke dalam kabin khusus untuk meminimalisir cedera saat benturan. Silakan.”

Jordan tetap berdiri. “Saya tetap akan berada di luar. Mungkin di master bedroom, tapi di luar.”

“Jordan!” hardik Kristian.

“Ayo, Bapak-Bapak. Kita semuanya ke belakang,” ajak Maulana mendului yang lain. “Masuk enggak masuk ke kabin, semua berada di belakang.”

“Kita enggak bisa duduk di sini?” tanya Kristian.

“Bagian belakang pesawat adalah bagian paling aman dalam setiap kecelakaan pesawat. Apa pun yang terjadi, masuk tidak masuk ke kabin khusus, benar kata Mas Jordan, sebaiknya kita ke belakang,” terang Maulana.

Keempatnya bergegas menyusuri kabin penumpang yang sepi. Melewati jejeran kamar tidur tamu, lalu menghambur ke dalam master bedroom. Maulana menguncinya dan mengarahkan semua ke kamar mandi utama, lalu membuka sebuah pintu khusus menuju kabin anti ledak. Pintu menuju kabin itu tebal dan mungil. Ketika Maulana membukanya, sudah ada Harry dan Pamungkas berada di dalam, duduk nyaman dengan sabuk pengaman melingkari perut mereka. Pamungkas bahkan sudah mengenakan life vest di lehernya, siap dikembangkan. Harry dan Pamungkas sedang bertengkar gara-gara insiden sang manager mengungkap masa lalu Harry, tetapi keduanya berhenti ketika pintu terbuka.




“Mas masuk aja,” ujar Jordan.

Randian ragu. Selain karena tak tega meninggalkan banyak orang di luar, pun karena tak mau berada dalam kabin yang sama bersama Pamungkas.

“Cepat masuk!” seru Harry.

“Waktu kita enggak banyak,” ujar Maulana.

“Saya enggak mau masuk,” tegas Kristian. “Kalau Jordan enggak masuk, maka saya enggak masuk. Mas Randian sama Mas Maulana boleh masuk ke dalamnya.”

Pamungkas memutar bola matanya.

“Enggak apa-apa, Mas masuk aja,” balas Maulana. “Saya bisa berlindung di master bedroom saat impact. Saya, kan dilatih untuk menghadapi keadaan darurat seperti ini.”

“Saya enggak masuk, kalau Jordan enggak masuk,” tegas Kristian.

Jordan memegang bahu kekasihnya. “Kamu yakin?”

“Ya. Yakin seyakin-yakinnya!” tegas Kristian. “Ngapain aku selamat kalau kamunya mati? Mendingan aku sama kamu, hidup ataupun mati. Misal kamu atau aku mati pun pas kita ada di luar sana, at least aku barengan sama kamu. Aku enggak mau kita terpisah ruangan. Aku pengin kita berada di ruangan yang sama.”

“Berisik!” hardik Pamungkas. “Udah, tutup aja kalau enggak mau masuk!”

Pamungkas sudah membungkuk untuk menggapai pintu, tetapi Randian menahannya. “Oke, saya masuk,” ujarnya. “Tapi dengan Mas Maulana.”

“Saya bisa di luar—”

“Mas ikut saya ke dalam!” tegas Randian. “Karena saya butuh Mas tetap selamat setelah pendaratan ini. Supaya saya bisa lanjutin cita-cita pembajak buat mengungkap kebobrokan maskapai. Masuk!”

“Tapi ….”

Randian menarik masuk Maulana ke dalam sementara dirinya juga melompat masuk. Sebelum menutup pintu, Randian berbisik, “Good luck,” kepada Jordan dan Kristian.

“You too,” balas Jordan.

“Kalau butuh bantal, di belakang shower room ini ada lemari berisi peralatan housekeeping. You can use it to your advantage.

“Thanks.”

Dan pintu itu pun tertutup. Pamungkas, Harry, Randian, dan Maulana berada sangat aman di dalam kapsul komposit anti ledak. Jordan masih tak tahu bagaimana nasibnya. Namun dibandingkan berseteru memperebutkan tempat di dalam, sebaiknya dia berada di luar saja dan mencari cara untuk selamat.

Cukup banyak pendaratan darurat di atas permukaan air yang dieksekusi dengan sukses oleh sang pilot. Saking amannya, nyaris tak ada korban jiwa. Garuda Indonesia penerbangan 421 yang mendarat darurat di Bengawan Solo, hanya satu korban jiwa. US Airways penerbangan 1549 di Sungai Hudson, tak ada korban jiwa. Insiden tersebut didramatisasi ke dalam film Sully.

Lima tahun lalu, Nusantara Skyways penerbangan 6552 mendarat darurat di Sungai Mahakam. Hanya satu korban jiwa, itu pun bukan karena pendaratan darurat di air. Uniknya, pendaratan darurat itu dilakukan seorang pramugara yang tidak punya pengalaman mengemudikan pesawat. Yang membuat Jordan yakin bahwa pendaratan ini akan aman seperti sebelum-sebelumnya.

Sungai Musi jauh lebih lebar dibandingkan Sungai Mahakam. Lalu lintasnya padat menuju Palembang, sehingga kapal-kapal yang melintasi sungai ini akan tersebar di mana-mana, siap menolong ketika pesawat akhirnya mengapung di atas permukaan air. Dengan adanya Kristian di sampingnya, apa pun yang terjadi, pasti akan terasa lebih baik.

Jordan membuka lemari yang menyimpan peralatan housekeeping seperti bantal, guling, selimut, bedsheet, dan lain sebagainya.

“Mau kita apakan ini?” tanya Kristian.

“Kita pakai untuk melindungi diri kita,” usul Jordan. “Bantu aku ngeluarin semua bantal ini.”

Jordan dan Kristian dengan kilat melemparkan semua bantal, guling, dan selimut yang mereka temukan ke master bedroom. Mereka tak tahu apakah pesawat sudah akan mendarat atau belum, tetapi mereka tahu waktunya tak banyak lagi. Setelah semuanya diungsikan, keduanya mulai merapikan tempat tidur.

Di atas tempat tidur terdapat dua pasang sabuk pengaman yang bisa digunakan ketika tamu ingin mengamankan dirinya seraya tidur. “Oke, kita tiduran sambil pakai sabuk pengaman,” terang Jordan buru-buru. “Lalu kita tutup badan kita dengan semua selimut dan bantal ini, dan tidurnya harus meringkuk.

“Emang bakal berhasil, ya?”

“Enggak tahu,” jawab Jordan, mencari-cari life vest di bawah sofa lalu menariknya keluar. “Tapi kemungkinan terburuk kan pesawat meledak saat roda menyentuh landasan. Kalau pesawat aja mendarat di atas air, yang berarti enggak akan mengeluarkan roda, harusnya sih pesawat enggak meledak.”

“Terus life vest-nya?”

“Siapa tahu kita mengambang di atas air, life vest-nya sudah kita siapkan. Nih, pake.”

Kristian mengenakan life vest tanpa mengembangkannya. Dia celingukan mencari pintu keluar. Di balik shower room terdapat dua pintu belakang yang bisa digunakan untuk menyelamatkan diri setelah pendaratan di atas air selesai.

“Kita memang enggak akan meledak karena mendarat di air?” tanya Kristian.

Jordan menggelengkan kepala. “Aku enggak tahu. Udah, lah. Bantu aku naikin semua selimut dan bantal ini.”

Dalam tempo yang sangat cepat, Jordan dan Kristian berbaring di atas tempat tidur, mengamankan tubuh mereka dengan sabuk pengaman. Kemudian, mereka menumpuk berlapis-lapis selimut menyelimuti tubuh mereka, dan sempat juga membentengi sekitar tubuh mereka dengan bantal dan guling yang disusun mengelilingi.

“Jangan lupa meringkuk, kepala menghadap kasur, dan stay di posisi tersebut,” titah Jordan yakin.

Kristian mengangguk. Dia membantu kekasihnya memasang lapisan terakhir selimut seraya menumpuk lagi satu bantal di atas tubuh mereka. Lalu, Kristian dan Jordan merapikan selimut yang menutupi kepala mereka dengan rapat, mengganjalnya dengan kepala sendiri.

Sekarang, semua gelap, tertutup dengan sempurna. Pada saat yang sama, suara mesin jet bergaung lagi di tengah keheningan.

Zuuuiiinnnggg …!!!

“Passengers, brace for impact!” sahut Mike melalui interkom. “Brace for impact!”

“I love you,” bisik Kristian tiba-tiba.

Dengan cepat Jordan membalas. “I love you too.”

“Mesinnya udah nyala lagi,” ungkap Kristian retoris. “Berarti sudah dekat dengan sungai. Katanya mereka butuh power untuk memastikan pendaratan dilakukan seimbang sehingga damage-nya minimal.”

“Semoga mereka berhasil.”

Lalu, hening menyeruak di antara mereka berdua. Menunggu saat-saat benturan pesawat dengan permukaan Sungai Musi.

“Aku minta maaf,” ujar Kristian tiba-tiba, dalam kegelapan. Tangan Kristian merayap mencari tangan Jordan. Saat menemukannya, dia menggenggam tangan kekasihnya itu dengan erat. “Aku minta maaf karena aku selingkuh dari kamu.”

“Aku juga minta maaf,” balas Jordan. “Aku enggak sesuci yang kamu kira, kok.”

Karena Kristian tak tahu apakah dia akan hidup setelah ini atau justru mati, dengan berani Kristian mengakui, “Aku pernah begitu sama Harry.”

Jordan malah terkekeh. “Iya, aku tahu.”

“Lho, kok kamu ketawa?”

“Ya emang itu alasannya aku enggak suka Harry.” Jordan menarik tangan Kristian ke mulutnya, lalu mengecupnya. “Aku ini Pisces. Aku punya kekuatan psychic untuk tahu apakah pacarku selingkuh atau enggak. Sejak awal kamu dekat dengan Harry, aku tahu ada sesuatu yang istimewa di antara kalian berdua.”

“Enggak, kok. Enggak ada yang istimewa,” jawab Kristian. “Aku sama dia cuma partner seks aja. Ya, beberapa kali. Dan itu murni kesalahanku. Bukan kesalahanmu, bukan karena kamu. Kalau aku memang orang jujur, sedari awal seharusnya kuutarakan hubunganku sama Harry, atau aku enggak melakukannya sama sekali. So please, jangan merasa bersalah.”

“Aku bakal jujur bahwa aku merasa bersalah.”

ZZZUUUIIINNNGGG …!!!

Mesin pesawat menderu semakin kencang. Tiba-tiba pesawat oleng kiri dan kanan beberapa kali, dan orientasi pesawat agak-agak mendongak ke atas.

Jordan mengeratkan genggaman tangannya kepada Kristian. Lalu mengulai lagi kalimatnya. “Aku bakal jujur bahwa aku merasa bersalah,” katanya. “Aku merasa aku enggak bisa memuaskanmu. Sehingga aku juga melakukan hal yang sama seperti kamu. Aku pernah begituan juga dengan Maulana.”

“Maulana?!” ulang Kristian terkejut. “Kok …, bisa?”

“Karena dia kucing,” jawab Jordan segera. “Selama ini aku mengira kamu enggak pernah puas dengan servis dari aku sehingga kamu merasa perlu menemui Harry dan senang-senang sama dia. Karena aku ingin tahu seburuk apa performaku, aku nge-hire Maulana untuk gituan sama aku. Eh ternyata dia bottie juga. Jadi aku enggak dapat pelajaran apa-apa.”

Kristian terkekeh. “Ngapain sih kamu kayak begitu?” balas Kristian. “Ketika aku melakukannya bareng Harry, itu murni kesalahanku. Kamu bukan faktor yang terlibat di dalamnya. Harry menggodaku, dan aku tergoda. Mungkin karena aku merasa aku enggak seganteng kamu, atau seganteng Harry. Jadi, kalau ada orang se-wow Harry merayu aku, aku kayak ngerasa … yang bener aja sih kalau sampai dilewatin. Kapan lagi gitu bisa ama Harry?”

“Tapi dia, kan lonte. Dia udah sama semua orang. Bisa jadi sebenarnya dialah yang punya HIV itu.”

“Atau Maulana. Karena dia kucing.”

“Oh, iya ya.”

Obrolan pun terjeda sekali lagi. Keduanya belum merasakan pesawat menghempas apa pun di bawah sana. Pesawat terasa masih terbang dengan suara mesin yang kadang berisik, kadang memelan lagi.

“Siapa memangnya yang kamu pikir sebagai mata-mata? Orangnya ada di mana?” tanya Kristian.

“Yang pasti bukan kamu.” Jordan mengecup lagi punggung tangan Kristian. “Orangnya ada di dalam.”

“Di dalam?”

“Di dalam kabin komposit itu. Mata-matanya ada di sana. Bukan Mike, bukan Laurence. Kayaknya juga bukan dua teknisi yang meninggal di sini. Tapi ada di sana. Pura-pura enggak tahu apa-apa, padahal dia adalah mastermind semua ini. Aku baru nyadar tadi ketika kita kumpul bareng, ketika aku diam terus dan enggak berani ngomong apa-apa, karena kupikir semua orang masih marah sama aku.”

“Siapa?”

Jordan menyebutkan nama yang dicurigainya. Kristian mengambil waktu sejenak untuk memproses informasi itu. “Aku enggak percaya dia melakukannya.”

“Oh, lihat aja entar. Begitu kita selamat dari sini, aku bisa buktikan bahwa dia mata-matanya.”

“Tapi ….” Kristian masih ragu. “Tapi itu enggak menunjukkan apa-apa, Sayang. Itu bukan bukti kuat.”

I was there, ketika aku mewawancarai semua orang satu per satu. Wawancara bareng dia paling beda di antara wawancara dengan yang lain.”

Kristian masih tak percaya. Namun sekarang, bukan itu konsen utamanya. “Let’s see aja nanti. Can I kiss you?

Jordan menggeser ringkukan tubuhnya mendekat ke arah Kristian, sambil merapikan selimut yang membalut mereka bertumpuk-tumpuk. “Kamu maju ke sini.”

“Sebentar.”

Dalam kegelapan di bawah selimut, dengan oksigen yang terbatas, mereka pun berciuman. Mungkin cumbuannya sama dengan cumbuan yang selalu mereka lakukan selama lima bulan terakhir. Namun ciuman ini istimewa, karena mereka tak tahu apakah mereka masih akan hidup setelah ini atau tidak.

Kecupan itu lembut, tidak menggelora seperti saat mereka berhubungan seks.

Kecupan itu manis, hangat, dan menentramkan. Mereka meyakini bahwa apa pun yang terjadi, keduanya akan terus bersama.

Kristian melepaskan bibir Jordan. “Apa pun yang terjadi,” bisiknya. “Kita berdua hidup, kita berdua mati, atau salah satu di antara kita pergi duluan … aku pengin kamu tahu bahwa aku cinta sama kamu.”

“Aku juga,” balas Jordan. “Aku enggak pernah berhenti mencintai kamu bahkan setelah tahu si lonte Harry itu betulan ngerayu kamu.”

Keduanya terkekeh.

“Andai aja kita masih punya beberapa tahun lagi untuk barengan, untuk adopsi anak dan hidup bareng,” ungkap Kristian jujur.

“Kamu mau melakukan itu?”

“Kenapa enggak?”

Jordan merasa terharu sekali. Sebagai Pisces, itu adalah hal romantis yang seluruh Pisces di seluruh dunia dambakan. Hidup dalam romantisme bersama kekasih, menciptakan dunia yang dinikmati hanya berdua saja. Tinggal di sebuah pegunungan, di depan danau yang jernih dan hutan-hutan berdaun hijau tua. Mereka hidup di dalam kabin kayu yang mungil, setiap hari hanya bercelana dalam saja mondar-mandir di rumah. Lalu Jordan akan duduk di depan meja kerjanya menghadap ke jendela yang menampilkan pemandangan danau dan pegunungan. Kristian akan muncul bertelanjang dada, menggendong balita kecil yang menangis minta susu.

Ingin rasanya hidup seperti itu selamanya.

“I love you,” bisik Kristian sekali lagi.

“I love you more.”

Mereka lalu berciuman sekali lagi. Dan cukup lama.

Sampai akhirnya mereka menyadari sesuatu. “Kok, kita enggak mendarat-mendarat juga, ya?”

Beberapa detik setelah pertanyaan itu, mereka merasakan pesawat berguncang kecil, lalu mendarat dengan mulus di suatu tempat. Mendarat dengan normal.

Mendarat seperti semua pesawat di seluruh dunia.

Dengan roda belakang yang menggelinding mulus.

Di atas landasan mulus.

Di sebuah bandara.

Jordan menguak selimut sambil mencari oksigen sebanyak-banyaknya. Ketika dia menoleh ke arah jendela-jendela pesawat yang terbuka …

… dia melihat gedung terminal bandara baru saja dilewati pesawat seraya burung besi ini berhenti dengan sempurna dari pendaratan yang sangat-sangat … normal.

Selamat datang di Palembang.



To be continued ....


<<< Part 25  |  The Flying Paradise  |  Part 27 >>>

The Flying Paradise 25

25 The Soul

 



“Depati Amir is closed,” ujar Mike sambil meremas lagi chart-nya dengan kuat. “Fuck.”

Laurence menghela napas sambil mengeluarkan lagi catatannya dan menghitung alternatif baru. “Jadi, kita cobakan Palembang?”

“Enggak ada pilihan lain.”

“Aku masih meragukan jumlah bahan bakar. Aku merasakan kita tidak akan sampaikan ke sana.”

Rahang Mike mengeras. Sang kapten tampak berpikir dengan keras.

The Flying Paradise tidak mendapat izin mendarat di Pangkalpinang. Selain karena landasan terlalu pendek untuk pesawat sebesar Boeing 777 melakukan belly landing, pun karena dua ujung landasan dipenuhi rumah-rumah warga. Tidak seperti bandara di Bali di mana dua ujung landasan mengarah ke laut. Di Pangkalpinang, pesawat overrun sedikit saja bisa menabrak puluhan rumah penduduk.

Palembang adalah alternatif paling masuk akal. Selain landasannya lebih panjang dibandingkan Pangkalpinang, bandara itu juga punya fasilitas pendaratan darurat yang lebih lengkap. Di kedua ujungnya masih ada lahan kosong yang cukup untuk menghentikan pesawat kalau-kalau keluar dari landasan. Tidak ada rumah warga sepanjang beratus-ratus meter dari kedua ujung landasan.

“Will we make it?” tanya Mike lemas.

Dengan berat hati Laurence menjawab. “No.”

“Kalau begitu kita ditching di Sungai Musi.”

Laurence menoleh. “Apakah kamu meyakinkan?”

“Kamu punya pilihan lain?”

Laurence tak punya pilihan lain. Pangkalpinang seharusnya menjadi satu-satunya bandara yang masuk akal untuk didarati, tetapi kalau bandaranya tutup dan merasa tak sanggup didatangi pesawat berbadan lebar yang mendarat tanpa roda, memang hanya Palembang pilihannya. Namun jika Palembang pun tidak akan sampai …

… sungai Musi adalah pilihan terakhir.

Laurence terpaksa setuju.

“Boleh aku mencium kamu?” tanya Laurence tiba-tiba. Pandangannya mulai mengabur. “Aku tidak tahu apakah kita akan selamat atau tidak. Namun aku ingin sekali merasakan kecupan dari bibir kamu sebelum aku mati.”

Suara Laurence bergetar karena tenggorokannya tercekat. Parau itu terdengar memilukan.

Mike menoleh ke sebelahnya sambil mengamati Laurence. Sang kopilot mencintai dirinya, dan tak mengharapkan apa pun selain bisa bersama dengan Mike. Karena pendaratan di atas air jauh lebih berisiko dibandingkan darat, wajar jika Laurence menganggap kemungkinan tak selamat itu nyata.

Jadi, Mike melepas sabuk pengaman, berdiri di depan panel, dan membuka tangannya. “Come here. And kiss me.”

Bahu Laurence berguncang karena permintaannya dikabulkan. Napasnya memburu untuk beberapa saat, seolah-olah tak percaya Mike benar-benar berdiri untuk mengecup bibirnya. Dengan tangan gemetar, senyum yang sangat lebar, tetapi pandangan kabur karena air mata memenuhi tatapannya, Laurence melepas sabuk pengaman dan berdiri.

Mereka berciuman selama beberapa saat. Bibir ketemu bibir. Laurence merengkuh Mike ke dalam pelukannya, dan Mike membalas rangkulan itu dengan intim. Laurence melesakkan bibirnya ke dalam mulut Mike, menikmati setiap sentuhan surga yang bisa dia rasakan sebelum nyawanya melayang.

“Terima kasih,” bisik Laurence di antara kecupan yang dalam itu.

Ketika mereka melepaskan kecupan, Mike masih sempat-sempatnya mengecup kening Laurence dengan lembut dan berbisik, “You deserve someone better. You deserve someone who will love you truly.”

Laurence menggelengkan kepala. “I just want a kiss from you.”

“I’ll give you more than a kiss if you can help me survive in this incident.” Mike mengecup lagi pipi Andre berkali-kali. Tangannya menangkup wajah Andre, seperti tak mau melepaskannya. “I’ll give you more than a kiss if you believe in yourself, and you do everything you could to save yourself.”

“I love you,” bisik Laurence dengan suara bergetar.

“And I want to love you.”

Kemudian kecupan kedua pun bersemi. Cumbuan yang membuat Laurence yakin untuk tetap survive, apa pun yang terjadi. Cumbuan yang membuat Laurence bahagia karena rasa cintanya diterima oleh Mike dengan sangat baik, meski sang kapten belum mencintainya saat ini.

DOR!!!




Sebuah tembakan senjata api terdengar dari kabin penumpang. Mike dan Laurence terentak kaget sambil melihat ke lobi depan. Pintu kokpit masih terbuka lebar, sengaja dibuka untuk proses pendaratan darurat nanti. Entah apa yang terjadi di kabin penumpang sana, tetapi teriakan ketakutan Harry bergaung lebih kencang dari sebelum-sebelumnya.

*  *  *

Andre merasa jantungnya mencelus, jatuh hingga ke dasar lantai. Napasnya langsung memburu, lututnya seketika gemetaran. Andre menggelengkan kepala ketika melihat ciuman mesra dua pilot di depannya. Dia berbalik, menangis, dada terasa sesak, dan berjalan menyusuri lorong samping conference room menuju common room.

Yang ada dalam dirinya adalah rasa sakit yang amat sangat. Sejenis rasa sakit di mana kematian bahkan tak bisa melebihinya. Udara mendengkus keluar dari hidung Andre. Pandangannya otomatis blur oleh air mata yang menggenang.

Andre berjalan sambil berpegangan ke dinding pesawat. Tak sanggup berjalan, tetapi dia harus berjalan.

Dia harus mati.

Dia tak sanggup lagi menghadapi dunia ini.

Sesampainya di common room, semua orang sedang berkumpul mendengarkan Maulana memberikan penjelasan tentang pendaratan darurat. Tentang pintu darurat mana yang bisa digunakan dan apa yang harus dilakukan.

Andre berjalan melewati Maulana, menghambur menuju meja dan mengambil pistol yang tergeletak di sana.

“Andre!”

Semua orang membelalak kaget saat Andre tiba-tiba mengarahkan pistol itu ke kepalanya.

Andre jatuh berlutut di atas lantai, menangis keras, bersiap menarik pelatuk hingga kepalanya pecah dan jiwanya pergi.

“Andre! Jangan!” Maulana berusaha mengambil pistol dari tangan Andre, tetapi teknisi itu langsung mengarahkannya kepada Maulana. Terpaksa Maulana menjauh mundur. “Andre! Kamu ngapain?! Kita sudah mau mendarat.”

“PERCUMA!” seru Andre dalam tangisnya. Sekarang, Andre mengarahkan pistol ke semua orang yang ada di common room. Supaya tak ada yang mendekatinya lalu menghentikannya dari menembak kepalanya sendiri.

“Andre, calm down!” Randian melepas sabuk pengaman dan berusaha berdiri. “Tenang dulu, Andre. Jangan gegabah.”

“DUDUK!” todong Andre ke Randian. Terpaksa, Randian duduk lagi di kursinya. “Percuma selamat kalau dunia ini tetap jahat sama saya.”

“Andre, tenang dulu,” pelas Randian serius. “Simpan dulu pistolnya, kita bicarakan baik-baik.”

“Biarin aja, lah. Si goblok itu emang mata-matanya, kan!” sahut Pamungkas sambil tertawa. “Dia yang punya gangguan jiwa sampe mau bunuh diri segala. Hahaha …!”

“Andre, tolong tenang dulu,” Maulana mengangkat tangannya ke arah todongan pistol Andre. “Apa pun masalah kamu, kita bisa obrolin dulu bareng-bareng.”

“Biarin aja lah dia bunuh diri! Enggak guna juga! Hahaha …!”

Napas Andre sudah seperti kerbau. “Iya, saya emang enggak berguna! Saya banci. Saya homo! Apa pun yang saya lakukan nggak berguna! Saya cuma orang goblok. Saya enggak berhak mencintai atau dicintai!”

“Andre, saya cinta kamu—”

“Berisik, bangsat!” Ceklek! Andre menarik pelatuk, siap menembak. “Dunia ini enggak pernah diciptakan untuk saya. Saya enggak seharusnya berada di sini!”

DOR!!!

Pistol itu diarahkan dengan cepat ke pelipis Andre ….

….

… pelurunya terbang melewati tengkorak dan kepala Andre.




Tubuh sang teknisi jatuh seketika ke atas lantai. Memelotot tak bernyawa. Membuat semua orang membeku di kursinya masing-masing. Harry berteriak keras sekali. Paling keras dari semua teriakan yang dia jeritkan sepanjang perjalanan.

*  *  *

“Oke, aku yang akan mengecek,” ujar Laurence, melompati panel keluar dari tempat duduknya.

“Jangan lama-lama, kita sudah descend.”

“Enggak akan sampe lima menit.” Laurence menghambur keluar kokpit menuju keributan yang sedang terjadi. Tubuhnya langsung limbung ke atas lantai saat tiba di common room dan menemukan Andre tergeletak tak bernyawa di atas lantai.

Laurence berlutut dua meter dari mayat Andre. Tangannya gemetar, air matanya keluar lagi, dadanya sesak.

“Lah, dia kan mata-matanya!” sahut Pamungkas. “Udah metong berarti!”

Maulana melepas sabuk pengaman dan langsung menghambur ke arah Laurence untuk memeluknya. Pertahanan Laurence jebol, dia menangis sekeras-kerasnya dengan tubuh berguncang.

“Siapa yang membunuh? Siapa yang membunuh?” ulangnya dalam isakan.

“Pembajaknya yang bunuh,” bisik Maulana, tetap mengusap-usap punggung Laurence untuk menenangkannya.

“Siapa pembajaknya? Siapa pembajaknya?”

“Kamu tenang dulu.”

Laurence berontak ingin menghampiri Andre, tetapi Maulana terus menahannya. Kristian bahkan turun dari kursinya untuk membantu Maulana yang kesulitan menahan Laurence. Sang kopilot meronta-ronta. Keberadaan pistol di sana membuat semua orang ragu membiarkan Laurence mendekati jasad Andre. Pistol itu tergeletak dekat dengan tangan Andre. Kalau Laurence tertekan melihat kematian Andre, bisa-bisa Laurence menarik pelatuk juga.

Di kursinya, Randian menangis dengan tubuh gemetar. Dia masih enggan berkedip ketika orang yang dicintainya bunuh diri di depan matanya. Bahkan, posisi Randian yang paling dekat dibandingkan yang lain. Itu pun Randian tidak sanggup berbuat apa-apa.

Randian hanya ingin meleleh dan ikutan mati saja. Bom yang ditanamkan pembajak di dalam diri Randian juga meledak. Sama seperti bom yang sudah meledak dalam diri Pamungkas, Harry, maupun Andre. Dalam kepala Randian hanya ada bayangan dirinya mengambil pistol itu dan juga menarik pelatuk mengarah ke kepalanya sendiri.




Namun Randian lebih kuat dibandingkan Andre. Randian menoleh ke orang yang paling dibencinya di ruangan ini sekarang.

Pamungkas.

Manager bangsat itu masih bisa-bisanya menuduh Andre mata-mata. Bahkan menuduh tak lama dari sang teknisi meregang nyawa. Randian mendengkus dengan napas memburu menatap Pamungkas. Tanpa bisa dikontrol, Randian berdiri dan menghampiri Pamungkas.

BUK!

Randian menonjok wajah Pamungkas hingga manager itu terpental dari sofa, tetapi tak sampai jatuh karena perutnya tertahan sabuk pengaman.

BUK! BUK!

Randian terus menghantam Pamungkas tanpa ampun. Sang manager hanya tertawa puas melihat Randian marah.

“Ayo … ayo … pukul saya! Pukul! Hahaha …!”

BUK!

Darah sudah mengucur dari dalam hidung dan sudut bibir Pamungkas. Sebuah goresan merah juga tercipta dari pelipis hingga pipi Pamungkas. Namun manager itu tetap tertawa.

Randian mengacungkan tangannya tinggi-tinggi, bersiap menghantamkan bogem mentah pamungkasnya. Bogem mentah yang sebisa mungkin membunuh manager bajingan itu. Kekuatannya sudah berkumpul di lengan Randian …

… tetapi Jordan melompat ke antara mereka. Jordan menghalanginya.

“Jangan. Enggak worth it,” kata Jordan sambil menelan ludah. “Saya sudah tahu siapa mata-matanya.”

“Dia mata-matanya!”

“Bukan,” jawab Jordan yakin. “Bukan dia. Malah, dia cuma korban dari mata-matanya. Saya sudah tahu. Jadi, mending simpan tenaga kamu buat mata-mata yang sebenarnya.”

“Tapi dia membunuh Andre!” jerit Randian.

“Hahaha …! Cemen lu! Hahaha …!” Pamungkas masih saja meledek.

“Dia bakal tetap masuk penjara, kok,” ujar Jordan yakin. “Enggak ada gunanya bunuh dia sekarang, karena dia enggak akan menderita. Kita fokus menyelamatkan diri dulu.”

“Dia harus mati sekarang!”

“Saya mau bantu Mas bunuh dia, tapi bukan di sini. Nanti, di darat. Kita tetap butuh dia untuk selamat dari insiden ini!”

“Bangsat!”

Randian masih tak terima. Dia masih ingin menghantam wajah Pamungkas hingga mampus, menggunakan otot-otot lengannya yang superbesar. Namun Jordan berhasil menenangkannya. Toh sedari tadi, Randianlah yang semangat untuk mengungkap mata-mata di balik insiden ini dan terhindar dari bom psikologis yang ditanamkan oleh sang penjahat.

Dus, Randian hanya meludahi Pamungkas di wajah dan berlalu ke kokpit. Sambil berlalu, Randian juga menarik Laurence dengan tangan-tangannya yang kokoh. Dia menyeret Laurence yang menangis karena kehilangan menuju kokpit.

Di belakangnya, Maulana, dan Kristian menggotong tubuh Andre ke ruang meeting kecil, membaringkannya ke sofa seberang jenazah Mora. Jordan mengambil plastik dan meraup pistol dengan hati-hati, meski dirinya ketakutan memegang senjata api itu. Jordan pergi ke galley dan menyembunyikan pistol dalam-dalam di salah satu kompartemen. Pokoknya jangan sampai siapa pun dapat menemukannya dengan mudah.

Setelahnya, Jordan menarik selimut lain dari kamar, memberikannya kepada Maulana yang kemudian membungkus tubuh Andre di atas sofa. Darah masih mengucur keluar dari kepala Andre. Mata Andre sudah ditutup dengan damai. Baik Andre maupun Mora dipasangkan sabuk pengaman yang menempel di sofa, agar tubuh mereka tidak terpelanting ke atas lantai saat pendaratan darurat terjadi.

Di kokpit, Randian mencoba usaha terakhir mengomunikasikan dua permintaan pembajak yang belum terpenuhi. Mike mewanti-wanti bahwa pesawat tetap akan mendarat di Sungai Musi seiyanya Randian berhasil membujuk maskapai untuk mengabulkan permintaan itu. Namun Randian tak menyerah.

“Ya udah gapapa! Misal kita mati, seenggaknya kita udah berusaha buat bertahan hidup. Jangan sampai kita mati karena enggak melakukan apa-apa.”

Mike tak dapat meminta bantuan Laurence karena first officer itu sedang terguncang. Laurence masih menangis di kursinya, tak kuasa menghadapi kehilangan yang tiba-tiba barusan. Meski dirinya tahu itu akan sia-sia, Mike pun memanggil radio ke flight dispatcher dan menyerahkannya kepada Randian.

Pembicaraan itu singkat. Intinya Randian dengan berang menyampaikan permintaan pembajak yang belum terpenuhi. Mike pun menyampaikan rencananya belly landing di Sungai Musi, yang berarti pesawat tak akan bisa digunakan lagi dalam bentuk apa pun. Kalau masih ada bagian yang bagus, bisa dipreteli. Namun jika pesawat tenggelam ke dasar sungai, kemungkinan besar tak ada lagi yang bisa diselamatkan.

Sepeninggal Randian dari kokpit, Mike mulai mematikan mesin dan menggunakan kemampuan pesawat untuk meluncur di udara tanpa daya dorong. Posisi pesawat di atas Pangkalpinang sekarang, mulai menurun dengan cara gliding, berharap bisa mencapai Palembang meskipun itu tidak mungkin. Indikator sisa bahan bakar di layar membuat Mike sangat pesimis. Sisa itu akan dia gunakan saat mendarat di atas air, agar pendaratan bisa terasa lebih mulus dan imbang. Agar hidrolik masih tetap bekerja dengan baik.

“Jakarta Center,” panggil Mike. “This is Delta Victor Niner Niner Niner, we’re positive to ditch on Musi River. Requesting assistance and … if possible, command all water vehicles to clear the area.”

Setelah komunikasi beberapa saat dengan radio, Mike menoleh ke arah Laurence dan mengulurkan tangannya. Kopilot itu awalnya masih merenung tak percaya. Kemudian, dia membalas juga uluran tangan Mike.

“It’s going to be alright, okay?”

“Andre meninggal.” Ketika mengatakan itu suara Laurence bergetar.

“Dan dia akan meninggal sebagai pahlawan, asal kita bisa mendaratkan ini dengan sempurna.”

“Tapi dia meninggal.”

“Dan kamu akan hidup,” balas Mike. “Hidup untuk mengenangnya, hidup untuk memberi tahu dunia bahwa Andre orang yang sangat baik.”

“Dari mana kamu tahu dia orang yang sangat baik.”

“Trust me, I know a lot.” Mike tersenyum. “Saya mengenal dia dalam sebuah insiden pesawat, dan dia tetap berjuang meski seluruh dunia jahat kepadanya. Saya mengenal dedikasinya, saya mengenal prestasinya, saya mengenal niat baiknya. Saya mengenal usahanya untuk bertahan hidup di tengah-tengah perlakuan yang enggak adil. Kalau dia harus pergi untuk selamanya … dia bukan sedang menyerah.

“Dia sedang menuju tempat yang lebih baik untuk dirinya.”

Genggaman tangan itu bergetar. Bukannya membaik, Laurence malah semakin terguncang. Dia menangis selama beberapa saat, kembali mengaburkan pandangannya dengan air mata.

“Take your time. But I really need your hand to help me land this plane,” ujar Mike lembut. “Kita lakukan ini untuk dua teknisi yang menyerahkan nyawanya untuk kita. Oke?”

Laurence mengangguk dalam tangis. “Boleh aku membacakan surat yang dia tulis untuk aku?”

“I’d love to hear that.” Mike melepas sabuk pengamannya, membungkuk melewati sebuah panel di dekat kakinya, lalu menarik kepala Laurence ke arahnya. Mike mengecup kepala Laurence dengan lembut. “Read it out loud. Saya juga mau mendengar ungkapan cintanya yang tulus.”

Laurence merogoh saku celananya, mengeluarkan selembar kertas yang sudah terlipat-lipat. Tulisan Andre terkaligrafi di atasnya. Tulisan yang dibuatnya ketika menelan obat penawar racun tanpa tahu apakah obat itu betulan obat, atau malah racun tambahan. Tulisan yang dibuat Andre ketika berpikir dirinya akan mati.

Yes, everything is going to be alright. I love you. And I thank you. I might be dead when you read this, but my love for you will stay infinite. Whatever results that’d happen to my body, I want to see you smile on the other side of the world. 



To be continued ....


<<< Part 24  |  The Flying Paradise  |  Part 26 >>>

Nude 33

  ssendrawkwA emitefiL .33     Pada suatu pagi lima tahun lalu, Miza bangun lebih pagi dari biasanya meski semalaman tak bisa tidur. D...