Selasa, 30 Maret 2021

The Flying Paradise 13

013 The Poison

 


Kecurigaan Jordan akhirnya terkuak.

Bahkan, tak lama sejak Jordan mendesak Pamungkas di conference room tadi.

Kombinasi itu berulang lagi. Pamungkas masuk ke dalam kokpit, lalu Maulana keluar dan membantu menyiapkan empat kamar tidur di kabin belakang. Jordan, Kristian, Randian, dan Harry menunggu di common room. Harry mengajak setiap orang menari-nari untuk video TikTok-nya. Namun tak ada yang mau.

Karena kesal, Harry pun berlalu ke kabin depan sambil bilang, “Ya udah, gue mau TikTokan sama Pak Mungkas aja!” gerutunya.

Dua menit kemudian, bukannya suara TikTok bersama Pamungkas yang terdengar. Harry malah menjerit kencang. “AAAAAARGH …!” Terdengar seperti sedang naik roller coaster. Tentu saja Jordan, Kristian, dan Randian melompat dari sofanya dan menghampiri.

Harry sedang berdiri di depan ruang meeting kecil. Pada saat yang sama, Andre dan Maulana muncul dari belakang. Pamungkas pun keluar dari kokpit, gara-gara mendengar suara teriakan itu. Harry sedang membelalak. Kedua tangannya menyugar rambutnya, mulutnya menganga, lalu Harry berseru, “Pilotnya di sini!”

Tak butuh lama bagi semua orang untuk menemukan Laurence duduk tak berdaya di seberang mayat Mora. Satu tangan Laurence terborgol ke meja di depannya. Laurence sedang duduk sambil menopang kepalanya dengan tangan. Saat Laurence mendongak, matanya sembap. Sudah tak ada air mata, tetapi bengkaknya terlihat jelas.

“Kalau pilotnya di sini, siapa yang nyetir pesawatnya?!” jerit Harry sampai berlutut ke atas lantai karena ketakutan. “Berarti kita lagi jatuh?! Pesawat ini sedang mengarah ke Gunung Salak?!”

Jordan memutar bola matanya. “First of all, ada yang namanya autopilot. And second, pilotnya ada dua. Satu lagi di dalam kokpit, baik-baik aja,” ujar Jordan menjelaskan. “Semoga sih baik-baik aja.”

Sekarang, semua kecurigaan Jordan terbukti. Dia tahu ada yang enggak beres, dan memang benar enggak beres. Laurence berada terlalu lama di dalam ruang meeting. Masa iya berkabung selama itu? Dia harus menyetir pesawat, lho. Enggak bisakah berkabung sambil mengemudikan pesawat? Namun yang tidak Jordan duga adalah Laurence diborgol ke meja.

Memangnya dia berbuat apa?

Pamungkas dengan panik langsung menutup pintu. “Bapak-Bapak yang terhormat, mohon untuk tidak panik dulu—”

“Jelaskan!” tuntut Jordan tak mau tahu.

Pada saat yang sama Harry juga berteriak, “Gue belum mau mati! Gue belum mati!”

Kristian tampak ingin menghampiri Harry, tetapi Randian berada lebih dekat darinya. Jadi Randian membungkuk dan berbisik, “Kita enggak akan jatuh, kok. Tenang aja.” Sambil menepuk-nepuk punggung Harry pelan.




Harry malah dengan panik membuka ponselnya. “Gue harus Whatsapp nyokap! Whatsapp bokap! Whatsapp kucing gue! Gue harus bilang I love you sebelum gue mati!” Dengan tangan bergetar Harry membuka ponsel, tetapi memencet aplikasi yang salah karena jempolnya bergerak-gerak tak mau diam. Membuka Tinder, lah. Membuka Microsoft Word, Clock, Grindr (Grindr?!), VPN, Shopee, dan entah aplikasi apa lagi. Jemarinya terus-menerus bergoyang.

Maulana akhirnya menghampiri Harry dan membawanya ke jumpseat terdekat untuk menenangkannya. Setelah membantu Harry duduk di atasnya, Maulana mengambil ponsel itu. “Pak Harry tenang aja, Pak. Sini saya bantu simpan ponselnya.”

“Dari tadi saya tahu ada yang salah, Pak. Tapi Bapak berkelit terus,” ujar Jordan. “Mengapa satu pilot ada di dalam sini dan terborgol?”

Pamungkas mengusap rahangnya, mencoba mencari kata-kata. Pamungkas tak berhasil. Dia menoleh ke arah Andre di depan koridor, tetapi teknisi itu jelas enggak akan bicara karena merasa ini bukan kapasitasnya. Setelah menarik napas panjang, menatap karpet dengan gundah, mengusap kedua tangannya (pokoknya banyak sekali gestur gelisah), Pamungkas pun berkata.

“Ya. Tapi saya mohon, Bapak-Bapak jangan panik dulu. Dengarkan saya—”

“Tuh, kan! Pesawat mau jatuh!” jerit Harry. Dia merebut lagi ponsel yang sedang dipegang Maulana. Pada saat yang sama, layar tiba-tiba menyala.

Di lobi, ada layar monitor besar di atas pintu sebelah kanan yang menunjukkan posisi terbang pesawat. Layar itu tiba-tiba berganti menjadi layar putih dengan tulisan berwarna hitam di tengah-tengahnya. Karena cahaya mendadak terang oleh bagian layar yang putih, semua orang menoleh ke arah sana. Bahkan, semua layar yang ada di kabin penumpang, yang asalnya menunjukkan peta perjalanan pesawat, berubah menjadi pesan tersebut.

Tik, tok. Tik, tok. Tik, tok. Waktu terus berjalan. Sudah memutuskan untuk memenuhi permintaan pertama saya? Atau sebaiknya mendarat saja di alam baka? Bom memang enggak akan meledak kalau kalian bisa begitu selamanya. Tapi, masa iya, sih mau terbang terus …? Apa kalian memilih bercinta dengan setiap laki-laki yang ada sampai dikirim ke neraka? Mentang-mentang kalian homo semua.

Jordan memelotot sambil menutup mulutnya ketika membaca pesan itu. Semua orang di sana, tak terkecuali Pamungkas, kaget dengan kehadiran pesan yang menyusup tiba-tiba. Harry sampai menjatuhkan ponselnya ke atas lantai. Harry merosot sambil menangis.

“Tuh, kan …. Kita bakal meledak! Seperti di film Final Destination!”

“Ada bom?” gumam Jordan. Dia langsung menoleh ke arah Pamungkas dan menatap dengan tajam. “Please bilang ini hanya bercanda.”

Pamungkas sudah membuka mulutnya. Namun tak ada kata-kata keluar. Lutut Kristian gemetar, dia duduk di atas lantai kabin untuk menenangkan dirinya. Hanya Randian yang berkacak pinggang—meski hatinya berkecamuk—ketika membaca pesan itu. Mungkin karena sedari tadi dia tahu ada yang enggak beres.

“Apa maksudnya ini?!” tuntut Randian, mulai murka.

Pamungkas menghela napas. “Kami sedang mencoba menyelesaikan masalah ini.”

Jordan membentak, “Dan kenapa pilotnya diborgol satu, hah? Kenapa?!”

Pesan itu berganti dalam dua detik. Pesan baru berbunyi:

Dan betul, meski saya ada di darat, saya enggak bekerja sendirian. Kalau keputusan #1 sudah didapat, umumkan saja. Nanti teman saya pasti mengabari saya. Sudah saya bilang, pergunakan benda-benda itu dengan bijak.

*  *  *

Lobi depan menjadi tempat berkumpul baru penumpang The Flying Paradise. Sudah tiga puluh menit sejak pesan itu tiba di layar setiap TV.

Mike mengemudikan pesawat. Dia perlu melaporkan waypoint yang dilewati kepada radio dan menjaga perjalanan dengan lancar—meskipun sedari tadi menggunakan autopilot. Mike sudah menyantap makanan yang disajikan, pandangannya melamun menatap langit yang terus-menerus sore di hadapannya. Di balik kacamata hitam aviator yang memantulkan sinar keemasan mentari, Mike menangis.

Maulana duduk di atas lantai, dengan pintu kokpit terbuka, mengawasi dua ruangan. Mengawasi pilot agar tetap waras. Mengawasi penumpang agar tetap waras. Setelah pesan itu muncul di TV, tangan Maulana tak henti-hentinya bergetar. Bagaimana pun, Maulana seorang manusia. Dia punya rasa takut, sedih, cemas, dan marah.

Harry memeluk lutut seraya bersandar ke pintu lavatory kru terbang di area lobi. Lelah menangis. Ponselnya tergeletak di depannya, tetapi tak bisa melakukan apa-apa. Jaringan Wi-Fi dimatikan 30 menit lalu oleh Pamungkas agar tidak ada yang mengirim berita ini ke luar. Harry menggulir Whatsapp-nya, meratapi pesan-pesan yang masih berstatus jam—belum terkirim ke mana pun.

Di seberangnya, Kristian berbaring telentang dan melintang di depan pintu depan. Di hidungnya ada masker oksigen yang beberapa kali terakhir diganti dengan yang baru. Kristian terkena serangan panik. Napasnya sudah normal sekarang, tetapi bahunya masih berguncang. Air mata tak henti-henti merembes keluar dari sudut matanya.

Jordan duduk di depan Kristian, bersila sambil memastikan kekasihnya mendapat suplai oksigen yang cukup. Dia duduk menghadap Pamungkas di seberang ruangan. Rahangnya mengeras, hatinya dipenuhi rasa marah setelah Pamungkas akhirnya menceritakan semuanya. Tentang bom, tentang borgol, tentang pistol, dan tentang alasan Laurence terkunci di ruang meeting kecil.

Randian berada paling dekat dengan Jordan. Dia duduk di kursi tunggu seberang ruang meeting, membuka jendela pesawat dan memandang keluar. Sama seperti yang lain, Randian berkontemplasi pada segala kemungkinan setelah Pamungkas menceritakan yang sebenarnya. Kepalanya tak mau berhenti untuk terus menganalisis mengapa bisa terjadi dan bagaimana menyelesaikannya.

Pamungkas duduk bersandar ke dinding di depan ruang kerja. Dia kelelahan. Menceritakan semua ini membuat hatinya lega, tetapi dia dihantui masalah baru. Dia tak ingin orang-orang ini mengabarkan kepada dunia soal situasi mereka. Bisa-bisa media menganggap keamanan pesawat ini bermasalah, dan … kargo itu. Kargo rahasia dan terlarang itu.

Andre duduk di pintu ruang meeting kecil, mengawasi Laurence yang berada di dalam, sekaligus menunjukkan eksistensinya dalam forum. Tak ada yang tahu mengapa Andre ingin dekat-dekat dengan Laurence, dan Andre bersyukur tak ada yang bertanya. Dia hanya ingin memandang wajah Laurence terus-menerus, jika memang ini napas terakhirnya di dunia.

Laurence duduk seperti tanpa nyawa di dalam ruangan. Tangannya masih terborgol, tepian bawah kemejanya sudah terlepas dari balik celana. Sesekali, saat Pamungkas menjelaskan situasi terakhir tadi, Laurence melirik ke arah Andre dan tersenyum. Teknisi itu tersenyum juga. Keduanya saling menguatkan, meski tak ada kata-kata saling terbalaskan di antara mereka.

Mora, di seberang Laurence terbujur kaku …. Sudah. Itu saja. Memang seharusnya begitu.

“Jadi kita …,” ujar Randian dari kursinya, memecahkan keheningan, “… enggak bisa minta bantuan … karena image perusahaan.”

“Maksud saya bukan begitu,” balas Pamungkas segera, untuk kesekian kali menjelaskan kepada para penumpang mengapa tak ada tindakan signifikan untuk menyelamatkan pesawat. “Maksud saya … kita bisa selamat dari sini tanpa perlu memberitakan apa-apa.”

“Caranya?” tantang Jordan.

Pamungkas menghela napas. Lalu, mengangkat bahu. “Entah,” jawabnya pendek. Setelah jeda, dia menambahkan, “Mungkin karena kalian semua sudah tahu kondisinya …. Ada yang punya ide? Selain minta bantuan, tentu.”

“Pembajaknya enggak bilang apa-apa soal jangan minta bantuan, lho,” ungkap Jordan.

“Karena dia enggak peduli,” balas Pamungkas. “Pesawat ini meledak kalau mendarat. Yang artinya dia enggak peduli kita hidup atau mati. Tapi yang pasti kita bakal meledak kalau roda belakang menampung seluruh beban pesawat saat mendarat.”

“Ya udah, pake roda depan aja mendaratnya!” sahut Harry dengan wajah bete. “Kan pesawat ini banyak rodanya! Yang belakang jangan ada yang pake.”

Tak ada yang sudi menimpali komentar Harry. Andre sudah membuka mulut dan bermaksud menjelaskan, “That’s not the point!” tetapi Maulana menggelengkan kepala dari jauh, menyarankan Andre untuk tak menghabiskan energi.

Poin utamanya bukan soal cara mendarat. Poin utamanya adalah Pamungkas tak mau insiden ini diendus oleh media.

Karena kalau media sampai tahu, selain image perusahaan jadi buruk karena safety kebobolan, KNKT akan ikut campur dalam investigasi. Bahkan, misal mereka mendarat dengan selamat di suatu tempat pun, baik itu KNKT, NTSB, Boeing, dan entah lembaga apa lagi, akan menyelidiki setiap hal dari pesawat ini. Termasuk mengapa barang-barang terlarang itu bisa ada dalam kargo pesawat.

Semuanya di ujung tanduk.

Lama-lama Pamungkas menyadari … memang penerbangan inilah yang perlu disasar oleh si pembajak. Penerbangan ini nyatanya bernilai tinggi. Yavadvipa Jet adalah pihak yang diserang.

“Ya udah, sembilan juta dolarnya keluarin aja,” usul Harry. “Dibandingin pesawat ini, lebih mahal beli ini, kan daripada ngeluarin sembilan juta dolar?”

Pamungkas menggeleng. “Setiap flow keuangan akan tercatat dengan detail. Meski kita punya auditor sendiri, dan mungkin kita bisa bekerja sama dengan auditor soal income sembilan juta dolar, tetapi seluruh pajak yang berjalan selalu terlaporkan ke negara. Uang sebanyak itu pasti ketahuan kalau hilang dalam laporan akhir.” Pamungkas menarik napas panjang. “Misal kita mau kirim pun, ke mana? Pembajaknya belum ngasih info.”

“Bukankah ada satu orang di sini yang menjadi pembajak?” tanya Randian retorik. Senyumnya terkembang sebelah. “Umumin aja, siapa tahu dia lapor ke pembajak di darat, lalu mereka ngasih infonya.”

Hening kembali melanda kabin. Pamungkas menatap Randian sambil menyipitkan mata curiga.

Meski semua orang di situ sekarang tahu, ada mata-mata yang bekerja sama dengan pembajak, tak ada yang berani membicarakan soal itu, pun menuduh seseorang sebagai pelakunya. Setiap orang tak mau mengambil risiko dicurigai gara-gara mengangkat topik. Dalam tiga puluh menit terakhir, setiap orang akan melirik siapa pun yang berbicara, hanya untuk menebak apakah orang tersebut mata-matanya.

Sembilan orang di kabin depan itu, terdiam lagi.

….

Sangat sunyi dan tidak berprogres, sampai akhirnya Kristian terbangun sambil memegang perut. Seluruh wajahnya berkeringat. “Saya … saya sakit perut.” Lalu gemuruh suara perut menggelegar di dalam lobi. “Saya mau ke toilet.”

Malah, suara menggelegar itu bukan dari perut Kristian juga. Harry langsung membelalak dan memegang perutnya sendiri. “Gue dulu!” Harry melompat ke lavatory terdekat, menutup pintu, dan suara kentut, Brot! Brot! Dut! terdengar sampai keluar. Setiap orang di ruangan bahkan bisa mendengar suara berikut yang keluar dari pantat Harry adalah feses yang mencair. “Cunt!” umpat Harry.

Jordan menunduk dan menatap ke perutnya. “Kayaknya … kayaknya aku juga.”




Pada saat yang sama, Pamungkas dan Randian berpandangan. Ternyata, mereka juga. Namun yang pertama berseru adalah Andre, “Sebenarnya saya dari tadi sudah nahan-nahan.” Keringat di pelipis Andre mengucur deras.

Tanpa banyak bicara, dalam dua menit, lima orang di kabin depan berhamburan mencari toilet. Ada satu toilet di belakang kokpit yang belum dipakai, Pamungkas menggunakannya. Dua toilet di common room digunakan oleh Kristian dan Jordan. Dua toilet di kabin penumpang diisi Randian dan Andre. Saking perihnya perut Andre, dia tak peduli lagi ketika toiletnya berhadap-hadapan dengan toilet Randian.

Baru duduk sejenak di atas toilet, pintu lavatory Pamungkas diketuk Maulana dengan cemas.

“APA?!” sentak Pamungkas dari dalam.

“Aku mau minta kunci borgol,” balas Maulana.

Brrrooottt …! Duuuttt …! Pamungkas menarik napas panjang saat mengeluarkan cairan ke dalam mangkuk toilet. “NANTI DULU!” balasnya.

“Darurat!”

“Apa?! Laurence mulas juga?!” Brot, brot, brot …!

“Bukan,” jawab Maulana. Setelah jeda sejenak karena lavatory Pamungkas dipenuhi suara-suara mistis yang tak enak di telinga, Maulana pun menjawab, “Mike yang mulas.”

*  *  *

Setiap tubuh manusia bereaksi berbeda pada racun. Ada yang daya tahan tubuhnya lemah, ada yang daya tahan tubuhnya kuat. Setiap orang di dalam The Flying Paradise, mendapatkan reaksi yang berbeda-beda. Dan ini, menambah kekacauan yang sudah kacau sebelumnya.

Yang pasti, setiap orang kecuali Maulana dan Laurence, mendapatkan diare. Selama dua puluh menit pertama sejak serangan perut itu, lavatory di The Flying Paradise terisi oleh orang-orang yang sakit perut. Pamungkas bahkan terpaksa memberikan kunci borgol kepada Laurence, membiarkan copilot itu menerbangkan pesawat dengan Maulana duduk di belakangnya dan berjaga-jaga.

Selain diare, Mike dan Jordan—karena mereka makan lebih sedikit dari yang dihidangkan—hanya mengalami sakit perut yang membuat wajah mereka keringatan. Randian mengalami hal yang sama, tetapi tubuhnya sesekali menggigil sehingga dia menarik bedcover tebal dari salah satu kamar untuk dia balutkan menyelimuti seluruh tubuhnya di common room. Randian juga meminta Andre menghangatkan suhu ruangan.

Andre dan Pamungkas merasa tidak enak badan. Rahang dalam mereka memproduksi ludah yang sangat banyak. Seolah-olah mereka mau muntah. Keduanya berbaring di sofa common room, mengatur napas dengan stabil agar dapat menghilangkan perasaan tidak enak itu. Harry nyaris memiliki semuanya, tetapi kepalanya juga terasa berputar-putar seperti naik roller coaster.

Kristian? Kolaps. Tubuhnya panas, napasnya pendek, matanya merah hingga mengeluarkan air mata, dan mengaku pandangannya blur. Jordan duduk di sampingnya sambil memastikan Kristian mendapatkan suplai oksigen yang cukup dari tabung. Satu tangannya mengompres kening Kristian berkali-kali.

Kejadian ini benar-benar melelahkan.

“Ini pasti bagian dari rencananya,” ujar Randian. Suaranya parau dan bergetar. Dia merapatkan selimutnya sambil kembali menyesap teh hangat yang sudah dua kali disajikan oleh Maulana. “Kita dibuat keracunan, supaya Laurence dibebaskan, lalu Laurence akan mengambil alih kemudi. And then we’re doomed.”

Sambil menelan ludah yang terkumpul banyak karena rasa mual, Andre menyanggah. “Kalau ini demi Laurence berada di balik kemudi, untuk apa dia menyimpan bom? Dia bisa jatuhin pesawat sekarang juga. Tapi kita,” menelan ludah dulu, “kita masih terbang dengan aman.”

“Ya itu karena Mike sekarang ada di kokpit, meski dia sakit.”

“Ular! Ular!” jerit Harry sambil menangis dan menunjuk ke kumpulan bunga di dalam vas. Selama beberapa menit terakhir Harry mengalami halusinasi. Secara khusus, Harry teringat film Snakes on Plane, sehingga di matanya ada banyak sekali ular di ruangan.

Sekarang sudah 90 menit sejak semua orang terserang diare. Sudah tak ada yang bolak-balik ke toilet karena mungkin semua cairan tubuh sudah terkuras. Kecuali Harry, dia masih saja mengerang, “Argh! Udah di ujung! Udah di ujung!” Lalu dia melompat dan masuk ke toilet untuk membuang hajatnya. Harry bahkan sudah mencoba setiap lavatory di pesawat, mengira akan sembuh dengan melakukan hal itu.

“Kita bisa ngecek bomnya enggak, sih?” tanya Jordan. “Ngelihat barangkali bisa kita lepaskan dari roda pesawat? Kalau bisa, kan enggak harus meledak.”

Pamungkas mendelik dengan tatapan meremehkan. Andre menggeleng kecil. “Wheel well, atau tempat tersimpannya roda saat ini, tidak memiliki tekanan kabin. Misal punya pun, enggak ada akses ke sana.”

“Tapi kita bisa lihat bomnya?”

Andre menghela napas, menelan ludah. “Saya enggak bisa jamin.”

Maulana masuk lagi ke dalam common room. Di tangannya ada nampan berisi enam mangkuk es krim rasa charcoal yang saat makan malam tadi disimpan kembali ke refrigerator karena tak ada tanda-tanda bahaya. Dia meletakkan nampan di meja tengah, lalu mengecek ponselnya.

“Menurut website, sih … activated charcoal bisa membantu mengikat racun di dalam tubuh. Saya enggak tahu apakah charcoal dalam es krim ini betulan ada, atau sebagai perasa aja. Tapi bagi yang mau coba, sudah saya siapkan.”

Saat ini, Wi-Fi kembali menyala atas desakan Randian agar seseorang bisa meng-google tindakan tepat mengatasi keracunan makanan. Karena Pamungkas menolak memanggil bantuan militer atau mendarat darurat agar semua orang bisa ditangani oleh medis, terpaksa Wi-Fi kembali dihidupkan, tetapi hanya Maulana yang boleh mengaksesnya. (Atas pertimbangan, Maulana tidak terdampak racun karena dia belum menyantap makan malam.) Seluruh ponsel lain disimpan di tengah-tengah. Itu pun setelah Harry diminta menghapus setiap pesan darurat yang nyaris terkirim di Whatsapp-nya.

Sedari tadi, Maulana mencari cara mengobati orang-orang dengan bantuan Google. Semua pelatihan tentang keracunan makanan sudah agak Maulana lupakan, karena itu sudah lama banget. Dua bulan lalu seharusnya Maulana memperbarui lisensinya. Namun, namanya juga perusahaan yang punya sisi kelam, kadang-kadang Yavadvipa Jet menunda pelatihan krunya atas alasan finansial.




“Apa lagi yang kamu temukan?” tanya Randian.

“Sebentar.” Maulana bergegas ke galley dan kembali membawa beberapa hal. Ada kaleng-kaleng Pocari Sweat dingin, obat-obatan dasar yang tersedia dalam setiap pesawat, dan air kelapa kemasan. Beberapa botol air putih juga tersedia di sampingnya. Semua minuman itu sudah dilabel aman beberapa jam lalu. “Silakan minum minuman elektrolit untuk mengembalikan cairan tubuh. Yang membuat Bapak-Bapak lemas sekarang adalah kurangnya cairan. Saya bagikan satu per satu, ya. Ada Pocari Sweat dan Hydro Coco. Dan ini … ini antibiotik.”

“Antibiotik?” ulang Randian.

“Kita di sini masih belum tahu penyebab keracunannya apa,” jawab Maulana. “Tapi kalau penyebabnya bakteri, penanganannya ya antibiotik. Saya enggak tahu apakah ini antibiotik yang tepat, tapi kenapa enggak kita coba aja?”

“Apa kita bisa sembarangan coba?” tanya Randian.

Maulana menggeleng. “Saya enggak tahu. Saya hanya baca dari Google.”

Lima menit setelah setiap orang meneguk minuman elektrolit, sesuatu terjadi di layar yang terpasang di dinding kabin. Awalnya, layar itu menunjukkan peta posisi pesawat yang sudah memasuki wilayah Rusia Timur. Lalu, layar berubah putih dan silau sambil menunjukkan pesan seperti dua jam lalu. Pesannya berbeda.

Sakit, ya? Kacian …. Padahal, di laci nakas kamar utama ada obat penawarnya. Kalau mau baikan, ya segera telan. Kalau enggak, dalam tiga jam, semua nyawa melayang. Nah, begitu baikan, silakan berunding kembali membahas tawaran.

Maulana bergegas ke kabin belakang dan kembali membawa sekantung kecil dari bahan kulit yang berisi obat. Dia membukanya ke tengah-tengah, beberapa orang bangun untuk menatapnya.

“Apa ini benar obatnya?” tanya Pamungkas. “Di mana kamu nemunya?”

“Di master bedroom. Di nakas sebelah tempat tidur.”

“Bagaimana kita tahu ini obat penawarnya?” tuntut Randian. “Satu orang di dalam pesawat ini dengan sengaja membuat kita keracunan. Siapa tahu obat ini malah membunuh kita!”

Hening sejenak sampai akhirnya Pamungkas berkata. “Enggak,” tegasnya. “Saya yakin pembajaknya ingin kita hidup. Karena kalau kita mati, maka pembajakan ini enggak bernilai. Kalau saya mati, dia enggak akan dapat apa yang dia inginkan.”

Meski ingin membantah, Randian tahu kata-kata Pamungkas benar.

“Ular kobra!” jerit Harry sambil menunjuk lampu. Dia menutup mukanya.

Kondisi Harry dan Kristian sudah sangat mengkhawatirkan. Racun atau bukan, obat ini perlu dicoba. Namun siapa yang harus mencobanya?

“Saya harus setuju sama kata-kata Pak Pamungkas,” ujar Jordan lemah. “Dengan adanya satu mata-mata di antara kita, dan satu orang di luar yang mengatur segalanya, pesawat ini harus mendarat dengan selamat. Masa iya mata-matanya ikutan mati?”

“Tetap aja. Kita enggak tahu ini obat apa,” sergah Randian.

“Ular kadut!” Harry memutar-mutar matanya.

Pamungkas menggunakan jeda waktu sejenak untuk mengambil keputusan. “Andre, kamu makan obatnya!”

Andre mengerutkan alis, menelan ludah dalam rasa mual. “Apa?!”

“Kalau lima belas menit setelah Andre minum obatnya dia mati, kita enggak akan minum obatnya.”

“Pak, yang benar aja,” kata Maulana.

“What the fuck?!” umpat Randian.

“Kok Bapak tega, sih?!” sahut Jordan.

Ketiga orang itu mengatakannya secara bersamaan. Namun Pamungkas tak mendengarkan. Malah, manager marketing itu berkata, “Dia cuma teknisi. Enggak ada nilainya. Kalau mati pun enggak apa-apa. Ayo, sekarang minum obatnya.”

Selain rasa mual di dalam perut, perasaan sakit hati juga menggerogoti organ dalam tubuh Andre. Dia tahu Pamungkas orang brengsek yang jahat. Namun dia tak menyangka Pamungkas bisa sejahat itu. Andre memang hanya teknisi biasa. Gajinya kecil dibandingkan Pamungkas. Eksistensinya pun nyaris tak disadari oleh kebanyakan orang.

Namun Andre juga punya nyawa. Enggak seharusnya didiskriminasi karena profesinya teknisi.

“Saya enggak setuju!” bela Randian. “Kalau kita harus minum obat ini, maka semua di sini meminumnya. Bukan Andre saja.”

“Kalau kita semua minum, nanti semua bisa-bisa mati. Kita kan belum tahu ini obat apa racun!” sergah Pamungkas ngotot.

“Ya udah, mati sekalian aja semuanya. Supaya pembajaknya enggak dapat apa-apa.”

“Enggak!” balas Pamungkas. “Dalam kondisi seperti ini, kita harus punya strategi matang. Kita juga perlu berkorban, supaya—”

“Saya akan minum,” potong Andre tiba-tiba. Semua orang menoleh ke arahnya. Mata Andre merah dan berair, tetapi dengan tegas dia mengatakan, “Saya akan minum.”

“Andre! Jangan! Please ….” Randian memohon. Selain tubuhnya menggigil, tangan Randian tampak bergetar sekarang.

Dengan kilat Andre mengambil satu obat dan sebotol air putih.

“ANDRE!” teriak Randian, melompat ke arah teknisi itu untuk mencegahnya menelan obat, tetapi Andre sudah memasukkan obat ke dalam mulutnya. Randian menindih tubuh Andre, mencoba mengeluarkan obat itu, tetapi Andre memalingkan wajah ke atas sofa, menutupi pandangannya.

Yang bergaung di common room saat ini adalah isak tangis Andre, lolongan Randian, ditemani deru mesin jet di luar kabin. Lima menit berlalu, Andre tak menunjukkan gejala apa pun. Randian merosot ke atas lantai, tak percaya cowok di depannya berani melakukan itu tanpa pertimbangan. Andre perlahan-lahan bangkit, mengelap air mata di pipi, lalu berjalan ke galley. Semua orang memandang kepergiannya dengan miris.

Andre mengambil selembar kertas yang bisa dia temukan, kemudian membuat surat. Mendekati tempo lima belas menit, Andre meminta akses ke kokpit dan memberikan surat itu kepada Laurence. Setelahnya, Andre berbalik. Di lobi dia menemukan semua orang, kecuali Kristian dan Harry, berdiri. Mereka menunggu reaksi yang terjadi pada tubuh Andre.

Namun apa yang Andre rasakan? Dia malah merasa semakin segar. “Saya ….” Andre menelan ludah, bukan karena mual, melainkan mencari kata-kata. “Saya merasa lebih segar.”

Pada saat yang sama, Kristian berjalan tertatih-tatih menyusuri lorong samping conference room. Dengan napas yang pendek Kristian berkata, “Saya tahu,” ujarnya pendek-pendek. “Maulana mata-matanya!”

“Apa?” Maulana mengerutkan alis.

Jordan menghampiri Kristian, membantunya duduk di atas kursi lorong. Kursi yang dua jam lalu ditempati Randian. “Kamu ngomong apa, sih? Dari mana kamu dapat kesimpulan itu?”

Kristian menatap Maulana dengan tatapan tajam. “Semua sudah jelas,” katanya. “Pertama, dia satu-satunya yang enggak keracunan.”

“Tapi Maulana sudah mencicipi makanannya,” bela Pamungkas. “Sebelum kalian menyantap makan malam, Maulana mencoba satu per satu.”

“Justru itu. Kalau sudah mencicip, kenapa dia enggak keracunan? Atau jangan-jangan, dia sama sekali enggak makan. Apa Bapak melihat Maulana mencicipinya dengan mata kepala sendiri?”

Pamungkas terdiam. Sesaat kemudian, Pamungkas menoleh ke arah Andre. “Oh, Andre pasti lihat!”

Andre menggeleng. “Saya … saya cicip atas permintaan kru kabin. Saya … saya enggak lihat kru kabin cicip makanan sebelum saya.”

“Tapi saya nyicip, kok!” sergah Maulana membela diri. “Saya juga mencobanya.”

“Kedua,” lanjut Kristian, “dia mencari akses internet agar bisa berkomunikasi dengan pembajak di darat. Supaya dia bisa memberi tahu situasi. Dengan Bapak ngasih akses Wi-Fi, dia bisa berkomunikasi dengan siapa pun di luar. Hanya dia semata.”

Maulana menggelengkan kepala. “Silakan cek hape saya. Saya hanya meng-googling cara mengatasi keracunan makanan, Pak. Saya tidak berkomunikasi dengan siapa-siapa.”

“Ketiga ….” Kristian tetap melanjutkan. “Saya tahu persis di laci nakas master bedroom tidak ada obat apa pun beberapa saat lalu, tepat ketika saya melakukan photoshoot dengan Harry. Mengapa sekarang jadi ada obat? Laci nakas, pula.”

Hening sejenak dalam ruangan.

Pamungkas berjalan pelan-pelan sambil berpikir. “Jangan-jangan yang membuka switch masker oksigen itu ….”

Sepuluh menit kemudian, setelah diskusi yang sangat alot di dalam lobi, Laurence bebas dari tuduhan. Maulana terborgol di ruang meeting kecil. Duduk tepat di seberang mayat Mora.



To be continued ....


<<< Part 12  |  The Flying Paradise  |  Part 14 >>>

The Flying Paradise 12

012 The Engineer

 


Nama teknisi itu Andre. Baru berumur 28 tahun, berzodiak Aquarius, dan cinta mati pada first officer (copilot) penerbangan feri The Flying Paradise. Semalam, Andre sudah menyatakan perasaannya, berharap Laurence tahu. Dia tak membalas pun, tak apa. Yang penting pilot itu tahu. Yang Andre inginkan adalah menunjukkan eksistensinya. Karena bagi Andre, terlihat oleh sang pujaan hati penting.

Mengapa harus Laurence?

Bagi Andre, cowok itu memesona. Andre bisa menjabarkan dengan jelas, penuh data, mengapa Laurence adalah orang paling tepat untuk menghabiskan waktu bersama-sama. Laurence pintar, tahu banyak hal, temannya banyak, aktif hangout di mana-mana, tampak selalu gembira.

Selama berbulan-bulan, setiap bangun pagi, Andre berharap bisa bertemu dengan Laurence dua atau tiga detik di bandara. Atau kantor. Atau tempat parkir. Di mana pun. Yang penting bisa melihatnya berjalan dengan seragam pilot yang gagah itu, bercengkrama dengan teman-teman pilotnya yang bejibun, berbicara dalam bahasa Indonesia berantakan yang terdengar lucu.

Pertama melihat Laurence, Andre menganggapnya laki-laki ganteng biasa. Setelah melihatnya punya banyak kawan, Andre mulai tertarik. Suatu waktu, Laurence diminta menjelaskan sebuah problem pada Boeing 737-800 yang diterbangkan sebagai charter warga Tionghoa dari Xiamen ke Denpasar. Andre ada di sana untuk mendengarkan keluhan Laurence sang pilot atas masalah yang terjadi. Dari cara Laurence menjelaskan semua hal teknis, Andre tahu Laurence orang pintar. Laurence enggak berbasa-basi dengan istilah yang terlalu umum. Laurence tahu apa yang dikatakannya.

Sejak kejadian itu, harapan untuk bertemu Laurence setiap hari tumbuh dalam hati Andre. Enggak muluk-muluk, sumpah. Melihat dari jauh saja, sudah cukup. Andre berharap Laurence gay juga, agar cintanya bisa bersatu. Meskipun dirinya tahu, itu sangat enggak mungkin. Pertama, misal Laurence seorang gay, pasti seorang pramugara di luar sana akan duluan mengklaim Laurence sebelum seorang teknisi biasa-biasa macam Andre mencoba peruntungan.

Tak apa. Kan, menikmati rasa cinta, enggak perlu dengan memiliki.

Kapan hari tanpa sengaja mereka berpapasan di kantor, lalu kulit lengan mereka bersentuhan, berhari-hari Andre enggak mau mencucinya. Sentuhan itu memberikan sebuah setrum listrik yang membuat Andre ceria.

Kapan hari Laurence membeli sekaleng soda dari vending machine, dua buah kaleng keluar gara-gara mesinnya error. Kebetulan, Andre sedang lewat di depan vending machine itu. (Bukan berarti Andre membuntuti Laurence ke mana-mana.) Laurence celingukan mencari seseorang, lalu Andre ada di sana, dan Laurence pun memanggil. “Hei, hei, maukah kamu menerimakan kaleng soda ini? Mesinnya memberikan dua.” Tentu saja Andre menerimanya. Hingga hari ini kaleng soda itu dia simpan di kamarnya, dipandangi setiap malam, sambil mengingat-ingat momen ketika Laurence memberikannya.

Ya, Andre sebucin itu. Mungkin faktor dirinya Aquarius. Namun memang begitu kenyataannya.

Jadi, ketika tiba-tiba dia ditugaskan untuk mengikuti penerbangan feri pesawat terbaru Yavadvipa Jet, yang awalnya lesu karena berarti dia harus meninggalkan kesempatan bertemu Laurence berhari-hari, malah jadi gembira setelah tahu Laurence akan ikut dalam penerbangan itu. Lebih gembira lagi dalam perjalanan mereka dari Jakarta ke Seattle, dua kali Andre ditempatkan di sebelah Laurence dalam pesawat. Jakarta – Tokyo di samping Laurence. Tokyo – Seattle di samping Laurence juga.

Mereka mengobrol sepanjang perjalanan. Dan seperti dugaan Laurence, cowok itu benar-benar cerdas. Tahu banyak hal. Orangnya kadang kelihatan misterius, tetapi setelah memancing dengan sebuah topik, obrolan terus mengalir seperti air terjun.

Saking bahagianya, Andre orgasme begitu sampai ke hotel. Ya, orgasme. Tanpa kemaluannya disentuh, tanpa ada kegiatan seksual.

Ketika Andre tiba di hotel, terpisah di lobi karena lantai mereka berbeda, Andre menjatuhkan diri ke atas tempat tidur. Telungkup sambil memeluk bantal. Belasan jam kenangan perjalanan udara ke Seattle dia proyeksikan dalam kepala. Semua gestur Laurence, mimik wajahnya, suaranya, cara bicaranya, senyumnya, matanya yang menyipit saat tersenyum, aroma parfumnya …

… Andre telungkup sambil ereksi selama berpuluh-puluh menit.

Kemudian Mora menginterupsi. “Seneng banget, dah!” Mora melemparkan bantal ke wajah Andre sambil cekikikan. Teknisi junior itu sudah mengganti pakaiannya dengan kaus dan celana pendek. Dia melompat ke atas tempat tidur sambil menatap Andre dan ngakak tanpa suara. “Ciyeee … yang duduk samping Kak Loreng di pesawat!”

Andre melemparkan bantal yang barusan ke wajah Mora. Teknisi junior itu ngakak semakin keras.

Ya, Mora sudah tahu. Tahu bahwa Andre gay, tahu bahwa Andre mencintai Laurence. Gara-gara suatu hari Andre memandang Laurence dari jauh terlalu lama. Lalu Mora menyikut, “Kakak naksir pilot itu, ya?”

Andre memelotot. “Enggak, lah! Kamu ngomong apaan, sih?!”

“Naksir juga gapapa, Kak. Gue paham. Emang orangnya ganteng dan pintar, sih.”

Bukannya berkelit, Andre mendadak merasa harus menceritakan perasaannya ini kepada seseorang. Jadi, Andre memberi tahu Mora. Di mana Mora dengan baik hati enggak menceritakannya lagi kepada siapa pun, karena enggak ada satu pun orang di kantor yang menggoda Andre soal Laurence kecuali Mora. Malah, Mora dengan baik hati sering mengingatkan Andre kalau ada Laurence di ruangan. “Tuh, si ganteng lewat.”

“Berisik, kamu!” Andre balas menyikut, tetapi pandangannya langsung tertuju kepada Laurence yang sedang lewat.

Nah, malam pertama di Seattle, ketika Andre sedang asyik membayangkan lagi wajah Laurence dalam kepalanya, Mora mengatakan sesuatu yang membuat jantung Andre berdebar.

“Dia homo, kok Bang,” kata Mora tiba-tiba.

“Apa?!” Andre mendongak.

“Tahu Herun?” tanya Mora. Andre mengangguk. Herun staf darat yang memang kelihatan gay karena kemayu. “Si Loreng tuh pernah sama Maulana.”

“Maulana yang di pesawat tadi?! Yang pramugara itu?” Andre membelalak.

Mora mengangguk. “Herun bilang, kata Maulana, dia pernah gituan sama Laurence. Jadi Laurence ya homo juga.”

Gelegak gairah muncul dalam diri Andre. Darahnya berdesir kencang tiba-tiba.

Kemungkinan itu ada.

Kemungkinan cinta bersatu itu ada.

Kemaluannya mengeras tiba-tiba. Menjadi sangat penuh, seolah-olah siap membuncah. Dengan jail, Mora membuka Instagram Laurence, menggulir gambar Laurence di depan kolam renang, telanjang dada hanya mengenakan celana pendek saja. Tubuh Laurence yang jenjang dan atletis itu tampil di depan wajah Andre. Andre sampai memelotot dan memejamkan mata.




“Anjing, Mora! Jangan ditunjukin! Fuck!

“Lah, emang kenapa?” Mora menarik hapenya. Dia menggulir lagi akun Laurence, lalu menunjukkan foto Laurence berbaring telanjang dada bersama anjingnya.




Laurence tampak sangat memesona di situ.

Crot! Crot! Crot!

Sperma Andre membasahi celana dalamnya. Itu kali pertama Andre orgasme tanpa ada rangsangan seksual selain rekaman keindahan Laurence dalam kepalanya (dan Mora yang jail menunjukkan IG Laurence). Ketika Andre bangkit berdiri, basah sperma itu menembus ke celananya yang berwarna cokelat terang. Mora ngakak bukan main.

Antara Andre ingin marah karena ditertawai, atau justru bahagia karena melakukan keputusan yang tepat memberi tahu Mora. Cowok straight itu enggak pernah menunjukkan penolakan pada siapa Andre sebenarnya. Bahkan, Mora sangat suportif.

Maka dari itu, Andre terguncang bukan main ketika Mora tiba-tiba meninggal di dalam pesawat. Andre duduk di seberang mayat Mora berpuluh-puluh menit di ruang meeting kecil, merasa marah, merasa sedih, merasa tertekan, merasa kehilangan, merasa dunia ini begitu jahat.

Tempat kerjanya sudah cukup jahat. Pamungkas selalu merundungnya dengan mengomelinya ini itu. Laurence adalah pelariannya agar dia tetap bahagia. Mora adalah rumahnya ketika Andre merasa terpuruk. Kepergian Mora membuat Andre ingin sekali mengambil alih kemudi, lalu menabrakkan pesawat ke gunung agar semua orang di pesawat mati termasuk dirinya.

Termasuk Pamungkas.

Termasuk si pemerkosa sialan itu!

“Hey … bisa ngobrol bentar?” Pemerkosa itu tiba-tiba menghampirinya.

Andre sedang duduk di jok penumpang, mencoba berpikiran positif atas kejadian yang sedang menimpanya. Mencoba mengikhlaskan kepergian Mora, mencoba menjadikan Laurence sebagai masa depannya.

Lalu, penjahat kelamin itu muncul dan duduk di kursi samping Andre.

“Enggak boleh,” jawab Andre sambil memalingkan muka ke luar jendela.

“Elah …, kamu bakal gitu terus sama saya, nih ceritanya?”

“Waduuuh … jadi saya harus bersikap biasa aja sama perlakuan itu?” Andre menggeleng-geleng tak percaya.

“Saya udah minta maaf sama kamu. Saya udah kirim apa pun yang kamu mau. Kenapa kamu enggak mau maafin saya?”

“Saya enggak minta barang-barang itu!” tegas Andre sambil menoleh dan menatap mata Randian dengan tajam.

Namanya Randian. Arsitek yang mendesain kabin interior The Flying Paradise. Andre tak mau mengingat-ingat lagi kejadian yang menimpanya. Atau menceritakan kejadian yang mana.

(Ya, kejadiannya lebih dari sekali.)

Randian cukup sering menang tender menjadi desainer interior untuk beberapa pesawat jet pribadi di Yavadvipa Jet. Karena harus sejalan dengan sisi teknis, Randian cukup sering berinteraksi dengan teknisi. Salah satunya mendiskusikan lajur-lajur kabel penting, kabel hidrolik yang tak boleh terganggu, di mana saja meletakkan masker oksigen, bahkan hingga penentuan lavatory.

Suatu hari, Randian muncul di hanggar, bertelanjang dada karena habis berolah raga. Maksud Randian adalah mengecek ulang prototipe desain yang diletakkan di salah satu sudut hanggar. Andre sedang ada di sana, membersihkan peralatan. Randian menangkap Andre salah tingkah melihat tubuh telanjangnya. Lalu, Randian menggoda Andre, dan Andre tak menunjukkan tanda-tanda keberatan.

Tentu saja Andre tak keberatan kalau hanya mengobrol. Namanya juga gay. Begitu ada laki-laki menarik dengan wajah maskulin dan badan berotot, mengajaknya mengobrol, untuk apa Andre pergi dari situ? Sayangnya Randian mengira itu persetujuan Andre untuk berhubungan seks.

Andre tak pernah menyetujui persetubuhan itu. Namun Randian tetap menariknya ke ruang kosong dan melecehkannya. Parahnya, Randian seorang bottom. Jadi arsitek itu akan melingkarkan ikat pinggang di leher Andre, mencekiknya sampai Andre tak bisa bernapas kalau teknisi itu enggak mau menggenjot pantatnya dengan kemaluan.

Dan itu tak terjadi sekali.

Terakhir kali terjadi adalah beberapa minggu lalu saat Randian rajin mengunjungi hanggar untuk membangun prototipe The Flying Paradise. Randian melakukannya lagi kepada Andre. Tanpa persetujuan. Setiap Andre mengungkapkan ketidaknyamanannya, Randian hanya membelikannya hadiah-hadiah mahal agar dimaafkan. Banyak sekali barang-barang dari Randian dalam sebuah lemari di kosan Andre. Tidak ada satu pun hadiah itu Andre gunakan. Dua buket bunga mungkin sudah layu dan membusuk, Andre tak peduli.

Andre lebih sudi memandangi dan memeluk sekaleng soda yang diberikan Laurence karena mesin error dibandingkan menerima seluruh barang mahal dari Randian. Masalahnya, barang-barang itu dikirimkan langsung ke kosannya. Jadi, terpaksa Andre menerimanya. Kalau dibakar di depan pintu, orang-orang sekosan bakal curiga.

Maka dari itu Andre enggan ikut dalam penerbangan feri ini. Kalau bukan karena Laurence dan Mora, dia akan memperjuangkan diri supaya enggak ikut.

Jangan pernah anggap Andre lemah karena menurut saja saat diperkosa Randian. Bukan hanya ikat pinggang di leher itu yang membuat Andre tak berkutik. Mulai dari badan Randian yang besar dan lebar, ancaman pada profesinya, posisi Randian yang lebih superior dibandingkan dirinya, juga kemampuan sang arsitek untuk memanipulasi Andre agar teknisi itu merasa bersalah dan menurut.

“Saya cinta kamu, Andre,” bisik Randian. “Kenapa sih kamu enggak pernah mau dengerin kalimat itu? Saya serius.”

“Kalau cinta memperlakukan saya kayak begitu, saya mendingan enggak dicintai.”

Untuk memeluk, Laurence memohon izin Andre semalam. Sepenting itulah konsen dibutuhkan dalam bercinta. Cowok di sampingnya sekarang ini, mencengkram tangan Andre tiba-tiba dan memaksa Andre mencumbu bibirnya. Memang penjahat dia ini, batin Andre.

“Jangan bilang gitu, dong,” jawab Randian. “Enggak adil buat saya yang sudah berusaha memperbaiki semuanya. Saya mengakui kesalahan saya, lho. Itu berat banget buat saya. Saya lakukan karena saya cinta sama kamu. Anehnya yang kamu lihat dari saya cuma kesalahan saya aja.”

Andre hanya menggelengkan kepalanya. Tak percaya cowok ini masih saja membela diri.

“Jangan munafik,” ujar Randian. “Beberapa kali kamu sama saya, kamu nikmatin itu juga.”

Ya. Karena terpaksa! jerit Andre dalam hati. Terpaksa melakukannya, terpaksa menikmati, terpaksa orgasme di depannya, terpaksa mencumbunya setiap mereka berpapasan di tangga kantor, terpaksa membuntutinya ke toilet untuk mengisap kemaluannya. Karena kalau Andre tidak melakukannya, Randian akan menyebarkan ke orang-orang soal orientasi seksual Andre. Randian yang dekat dengan para petinggi kantor, bisa dengan mudah mendepak Andre dari perusahaan ini.

Dalam situasi post-pandemi seperti ini, perusahaan mana lagi yang bakal menerima karyawan baru, hah?! Kalau bukan karena pekerjaan dan Laurence, Andre sudah meninggalkan tempat ini sedari awal.

Satu-satunya hal yang membuat Andre bertahan adalah senyum Laurence. Jadi saat ini pun, ketika si brengsek ini dengan kurang ajar duduk di samping Andre, dia membayangkan Laurence saja supaya hatinya lebih tenang. Laurence yang malu-malu di bawah pesawat beberapa jam lalu. Laurence yang tersenyum untuknya.

Laurence yang menuliskan pesan kecil di atas sebuah kertas.

“Oke, saya mau nanya sesuatu sama kamu,” ujar Randian tiba-tiba, mengabaikan dengan cepat topik krusial yang baru saja dibahas. “Saya enggak sengaja curi dengar obrolan kamu sama Pamungkas. Pesawat ini ada bomnya, ya?”

Benar-benar, deh. Orang enggak tahu diri, batin Andre.

Karena kesal, Andre pun bilang, “Ya, ada. Meledak kalau kamu dekat-dekat saya terus. Oke? Jadi, menjauh dari saya sekarang juga.”

Randian mengerutkan alisnya. “What the fuck?!”

Andre mendorong bahu Randian sambil berkata. “Ada bom di pesawat ini, bom yang akan meledak karena orang kayak kamu masih hidup. Jadi pergi dari sini sebelum saya betulan ledakin bom ini sekarang juga. Pergi!”

Rahang Randian mengeras. Dia menatap wajah Andre dengan pandangan tak percaya. Setelah menggeleng kecil, Randian pun pergi.

Andre menangis setelahnya. Bahunya berguncang. Pertahanannya jebol. Yang bisa Andre lakukan hanyalah mengeluarkan kertas pemberian Laurence yang dia simpan dalam saku.

Everything is going to be alright. You can do it. See you on the other side of the world.

Terima kasih, Laurence. Sampai jumpa lagi di bagian lain dunia ini. Semoga aku bertemu denganmu di sana, lengkap dengan senyum dan keceriaanmu.

*  *  *

Sore itu, atau pukul 10 malam waktu Seattle, Pamungkas mengumpulkan semua orang di conference room, yang akhirnya diubah menjadi dining room. Katanya, Pamungkas akan memberikan pengumuman.

Jordan mengamati aktivitas Pamungkas dan Maulana sedari tadi. Terkadang, Andre muncul untuk ikut membantu, tetapi teknisi itu tampak kelabu. Wajahnya terlihat sedih sepanjang perjalanan. Jordan sampai menulisnya ke dalam catatan, berharap itu sebuah petunjuk yang penting.

Maulana tampak sibuk menyiapkan sesuatu di conference room. Kemungkinan besar makanan. Bunyi klak-klik-klak-klik di galley menggaungkan kesibukan microwave dibuka tutup dan plastik-plastik pembungkus makanan dibuka. Kemudian, Maulana dan Andre bolak-balik dari galley ke conference room untuk menyajikan hidangan. Selama proses ini, Pamungkas tak terlihat di mana pun.

Setelah hidangan selesai, Pamungkas keluar dari kokpit, dan Maulana pun masuk. Lalu, Pamungkas masuk ke dalam conference room diikuti penumpang yang lain. Katanya, sudah waktunya makan malam, sekaligus meng-update kabar terbaru mengenai kejadian yang terjadi di pesawat.

“Ini beracun enggak?” tanya Harry sambil mengendus piring yang masih kosong.

“Kru kabin kami sudah mengecek semua makanan dari potensi berbahaya,” ujar Pamungkas. “Setiap makanan yang berbau aneh, atau bau almon kuat, langsung disingkirkan. Sejauh ini, tak ada makanan yang dicurigai. Kru kabin dan teknisi sudah mencicipi sebagian makanan untuk mengetes reaksinya. Lebih dari lima belas menit tidak ada reaksi apa pun. Makanan ini aman.”




Setiap makanan yang sama, dimasukkan ke dalam satu wadah besar. Sehingga, konsepnya seperti prasmanan. Beef teriyaki dalam wadah besar yang sama, perkedel dalam wadah besar yang sama, mashed potato dalam wadah besar yang sama. Asalnya, setiap makanan ini terpisah-pisah. Kalau harus keracunan, ya keracunan semua. Menurut keterangan Andre yang sudah mencicipi beef teriyaki, dia mengambil sesendok dari beef teriyaki yang sudah digabungkan. Sehingga kalau beef teriyaki itu mengandung sianida, Andre sudah almarhum sedari tadi.

Pamungkas pun menunjuk satu sisi meja yang dipenuhi benda-benda yang tidak dimakan.

“Sesuai hasil googling kita semua,” lanjut Pamungkas, “meskipun kita bukan petugas medis atau ahli gizi di sini, kami sudah menyiapkan masker oksigen kalau-kalau ada yang menelan sianida. Ada enam masker oksigen dan tabungnya di sana. Semua orang mendapat satu. Kalau ada yang merasa pusing atau aneh setelah menyantap makanan, silakan ambil masker oksigen dan bernapas dengan menggunakan benda itu. Jangan dimuntahkan makanannya, untuk menghindari sianida masuk ke pernapasan. Dan, kebetulan, kami punya es krim rasa charcoal.”

“Charcoal!” seru Harry gembira. “Enak, tuh!”

Charcoal dipercaya bisa menyerap sianida dalam tubuh. Sudah kami siapkan untuk kita konsumsi sebagai dessert. Semoga bisa melindungi kita semua.” Pamungkas tersenyum dan memberi jeda sejenak. “Jika ada yang merasa aneh, sekali lagi, mohon untuk tidak memuntahkan apa pun. Kedua, silakan lepaskan semua yang menempel di badan—saya enggak tahu fungsinya apa, tapi Google bilangnya begitu. Jangan lupa, hirup oksigennya. Sementara untuk antidotes-nya, karena kita enggak punya hydroxocobalamin dan sodium nitrite secara medis, ada sekumpulan buah-buahan dan ati ayam panggang yang menurut Google … mengandung dua senyawa tadi.

“Dan juga,” lanjut Pamungkas, “sebentar lagi kita masuk wilayah udara Rusia dan Jepang Utara. Kalau memang ada apa-apa dengan makanan ini, pilot siap mendarat di bandara besar mana pun yang ada di Vladivostok atau Sapporo untuk keadaan darurat. Pilot belum menyantap apa pun sampai saat ini. Kalau makan malam di depan kita ini aman, pilot baru akan menyantapnya. Semoga semua dapat memaklumi.”

Makan malam berlangsung hening dan menegangkan. Setiap orang di dalam ruangan menyantap hidangan dengan cara mengunyah 32 kali—sesuatu yang tak satu pun dari mereka lakukan sehari-hari. Termasuk Jordan. Makan malam ini terasa lebih lama dari seharusnya.

Dalam 50 menit, semua orang akhirnya menghabiskan makan malam. Pamungkas mengelap bibirnya dengan lap, lalu mengambil napas panjang.

“Baiklah, saya akan meng-update perkembangan terbaru penerbangan ini,” katanya, membuat semua orang diam dan mendengarkan dengan saksama. “Setelah mendiskusikan bersama kru terbang, kami akan mengidentifikasi kematian Mora begitu tiba di Shanghai. Kami akan meminta petugas medis yang kompeten untuk mendiagnosa secara akurat. Yang penting kita sudah punya jam kejadiannya kapan.

“Menurut pilot, udara di dalam kabin tidak bersirkulasi di sini-sini saja. Namun, udara dari luar masuk, dan udara kotor dibuang keluar. Jadi, mohon untuk tidak mencemaskan udara yang tercampur sianida. Udara di dalam kabin aman untuk dihirup.

“Berikutnya, mohon maaf atas kejadian masker oksigen yang terjadi sebelumnya. Ada kesalahan teknis kecil, human error, tetapi saya bisa menjamin tidak ada sesuatu apa pun yang membahayakan. Kita semua di sini aman, seaman berada di rumah dan di atas tanah.”

Senyum itu palsu, batin Jordan. Ketika Pamungkas menyelipkan senyuman di antara kata-katanya, Jordan yakin ada yang disembunyikan. Pun, Pamungkas bicara terlalu lama. Jeda setiap kalimat cukup panjang, seolah-olah Pamungkas berhati-hati sekali dalam memberikan informasi. Seolah-olah ada informasi yang tak boleh bocor kepada penumpang.

“Ada empat kabin tamu di depan master bedroom, silakan Bapak-Bapak menggunakan yang mana saja. Kru kabin kami akan menyiapkannya untuk Bapak-Bapak gunakan. Meski di luar matahari masih bersinar, Bapak-Bapak bisa menutup seluruh jendela agar kabin minim penerangan. Waktu Seattle sekarang menunjukkan pukul … sepuluh malam. Tapi di luar, masih pukul empat sore.”

Memang seperti itulah perjalanan dari barat ke timur. Berangkat pukul empat sore, selama enam jam kemudian masih pukul empat sore di luar.

“Yang pasti, saya bisa menekankan …,” lanjut Pamungkas, “kita semua baik-baik saja. Begitu tiba di Shanghai, kita akan menyetok ulang makanan dalam pesawat. Membeli baru, dan mengawasinya dengan ketat.”

Jordan tak tahan untuk bertanya. Instingnya sebagai penulis, dan sebagai Pisces, membuatnya berbicara ketika Pamungkas mengakhiri pidatonya. “Pramugaranya ke mana?”

“Kru kabin kami sedang di station-nya,” jawab Pamungkas sambil tersenyum.

“Di galley?” Jordan melepas sabuk pengaman dan bangkit berdiri.

Pamungkas segera menahannya, “Mas mau ke mana?”

“Mengecek ke galley,” jawab Jordan. “Station-nya pramugara tadi di galley, kan? Bapak sendiri yang bilang pas wawancara spesifikasi jumpseat sama saya tadi. Sekarang saya mau lihat apa dia ada di sana atau enggak.”

“Mas membutuhkan bantuan kru kabin kami?”

“Ya. Sort of,” bual Jordan. Dia hanya ingin menggertak Pamungkas.

Pamungkas menoleh ke arah Andre. Dia berbisik, “Panggil Maulana dan—”

“Dan teknisinya juga di sini,” tegas Jordan tiba-tiba. “Saya pengin pramugara dan teknisinya ada di ruangan ini sekarang. Dan Bapak Pamungkas juga.”

Semua orang melihat ke arah Jordan, tetapi Jordan tak peduli. Dia memang menyukai perhatian dengan bumbu-bumbu drama seperti ini. Toh, dia ada tujuan tertentu, kok. Apalagi sekarang Pamungkas mulai menatapnya dengan pandangan tak suka.

“Kalau boleh tahu, Mas Jordan membutuhkan bantuan apa dengan kami bertiga?”

Jordan mencoba mencari-cari alasan. “Yaaa … wawancara? Dan ini penting.” Misal mereka betulan muncul bertiga, Jordan tinggal mengarang-ngarang pertanyaan saja. Yang penting Jordan ingin mendesak Pamungkas soal satu hal.

“Tidak bisa dilakukan satu per satu saja?” usul Pamungkas. Suaranya mulai terdengar defensif.

“Enggak. Harus tiga-tiganya.”

Kristian yang duduk di sebelah Jordan menyikut. Ketika Jordan menoleh, dia melihat Kristian menggelengkan kepalanya kecil, seolah-olah ingin mengatakan, “Jangan.”

Namun Jordan tak mendengarkan. Dia malah menantang Pamungkas, “Kenapa kalian bertiga enggak bisa berada di satu ruangan yang sama? Kenapa harus gantian berada di kokpit? Kebetulan saya lihat pramugaranya masuk ke kokpit tadi.”

Rahang Pamungkas mulai mengeras. Setelah jeda yang cukup lama, apalagi semua orang kini menatap Pamungkas, menunggu jawabannya, laki-laki berzodiak Gemini itu berkata, “Kami sedang meeting di dalam kokpit. Dan diskusi, sedang berlangsung. Kru kabin kami mewakili saya dan teknisi yang sedang makan malam di sini.”

Jordan belum mengeluarkan kartu asnya. Mungkin sekarang waktunya?

“Oke, kalau gitu, pilotnya. Saya enggak perlu Bapak-Bapak bertiga, tapi saya butuh satu pilot saja untuk wawancara,” ujar Jordan, mendesak.

“Tidak bisa dilakukan di Shanghai saja ketika mereka sedang tidak bekerja?”

“Kenapa harus di Shanghai kalau di sini juga bisa?”

“Karena mereka sedang mengemudikan pesawat. Konsentrasi mereka bisa terganggu oleh interview.”

“Lho, bukannya mereka sekarang sedang meeting di dalam kokpit?” Jordan tersenyum lebar. “Dan saya tahu persis, satu pilot bisa meninggalkan kokpit sejauh ada satu kru yang menggantikan di dalam. Bapak sendiri yang bilang ke saya seperti ini, beberapa jam yang lalu. Enggak bisakah saya request satu pilot saja berbicara dengan saya lima menit?”

Pamungkas menarik napasnya, mencoba menguasai amarah yang menggelegak. “Tidak bisa,” tegasnya. “Kru kokpit tidak boleh diganggu untuk wawancara.”

Jordan sudah membuka mulutnya untuk bertanya, Lalu mengapa satu pilot berada di ruang meeting kecil dan belum keluar sampai sekarang? Jordan tahu persis pilot itu masih berada di sana. Namun Randian, yang duduk di seberangnya tersenyum, sambil menggelengkan kepala juga. Tangannya terangkat ke atas, seolah-olah memberikan kode kepada Jordan, “Tahan dulu.”

Dan Jordan pun menguasai dirinya kembali. Sedikit banyak, dia setuju pada saran Randian. Jordan tak bisa mencecar kru terbang ini begitu saja. Jadi, Jordan berkata, “Ya udah, gapapa. Di Shanghai aja berarti.”

Ini membuktikan kecurigaan Jordan dan Randian (karena mereka sudah membahas ini sedari tadi, bahkan bersama Kristian yang mendadak ikut bergabung dalam obrolan), bahwa ada yang tak beres dengan penerbangan ini. Satu pilot berada di ruang meeting kecil, sisa satu pilot menerbangkan pesawat. Lalu kru terbang dan pihak maskapai berganti menemani kokpit, sesuai regulasi FAA setelah kejadian Germanwings.

Jordan tahu persis … keadaan tidak baik-baik saja.



To be continued ....


<<< Part 11  |  The Flying Paradise  |  Part 13 >>>

Nude 33

  ssendrawkwA emitefiL .33     Pada suatu pagi lima tahun lalu, Miza bangun lebih pagi dari biasanya meski semalaman tak bisa tidur. D...