aboB llabteksaB .52
Sabtu sore pekan yang sama,
sekolah Tommy akan melangsungkan pertandingan dengan sebuah SMA dari Rajamantri
Kulon. Keysha ingin sekali menonton pertandingan itu, karena beberapa kakak
kelas yang ditaksirnya bermain sebagai tim inti. Dia mengajak ketiga temannya,
tetapi Evelyn tidak bisa datang karena punya acara pribadi dan Arthur harus
pergi ke Jakarta bersama keluarganya. Tommy yang tahu pada hari Sabtu ada tugas
memijat bersama ayahnya, menyatakan bersedia ikut.
Pertandingan diadakan di sebuah
GOR baru sekitaran Jalan Gatot Subroto. Tommy tiba lima belas menit sebelum
acara dimulai. Ketika Tommy memasuki area parkir, Keysha sudah menunggu di
sana.
“Macet enggak tadi?” tanya Keysha
basa-basi sambil menarik Tommy masuk ke pintu utama.
“Lumayan, sih di Pasteur.”
“Ayo! Aku udah beliin tiketnya.”
Cukup banyak penonton hadir di
pertandingan itu, baik dari sekolah Tommy maupun sekolah lawan. Setelah Tommy
amati, lebih banyak penonton cewek yang datang untuk mendukung Jerome
dibandingkan penonton cowok yang datang karena benar-benar mendukung tim basket
sekolah. Sekumpulan cowok-cowok kelas X yang tergabung dalam ekskul basket juga
hadir untuk menyaksikan kakak kelas mereka bertanding.
Tommy langsung mulas begitu
melihat Revan juga ada di antara cowok-cowok itu. Dan Revan, entah mengapa,
kebetulan menoleh ke belakang ke arah Tommy, sehingga dia juga menemukan Tommy
hadir dalam pertandingan itu.
Mati
aku, batin Tommy.
“Duduk di sini, yuk!” usul Keysha
sambil menarik Tommy duduk di barisan yang cukup dekat dengan lapangan, hanya
berbeda tiga row dari tempat duduk
Revan. “Kamu dukung siapa?”
Tommy mengerutkan alis. “Ngng ...
dukung sekolah kita?”
“Bukan. Maksud aku, pemain basket
yang kamu dukung?”
Tommy tak begitu mengerti
pertanyaan Keysha, sehingga dia hanya mengerutkan alis dan menoleh ke arah
lapangan dengan heran. Kesepuluh anggota tim belum memasuki lapangan.
“Yah, misal yang paling kamu
jagokan untuk masukin bola ke keranjang, paling jago dribble, paling ganteng. Yang kamu suka deh dari tim inti sekolah kita!”
Jawaban Tommy sudah jelas
sebenarnya. Yang pertama Jerome (alasan jelas), lalu Bara (badannya paling
oke), lalu Kyle (mukanya kayak bule), lalu Teuku (paling ganteng campuran Arab
dan lokal), lalu Syahri (tampak manis banget), lalu Alex (kepribadiannya kocak
dan menyenangkan), lalu ... intinya Tommy sudah mengurutkan dengan jelas, dari
yang most favorite, sampai least favorite, tentang sepuluh cowok di
tim inti klub basket itu. Beberapa hari terakhir Tommy diam di pinggir lapangan
sekolah untuk melihat tim inti klub basketnya latihan. Selain menggebet Jerome,
tentunya Tommy menggebet anak basket yang lain.
Namun Tommy tak mengungkapkan itu
kepada Keysha. “A-aku dukung semuanya lah, Sya.”
“Oh, iya, ya!” Keysha menepuk
keningnya. “Kamu, kan cowok.”
“Kapan sih tandingnya dimulai?”
Keysha menatap jam di pergelangan
tangannya. “Bentar lagi kayaknya. Eh, aku udah bawa snack buat kita, lho.”
“Makasih, Sya. Aku kayaknya ke
toilet dulu, deh. Supaya enggak
perlu pipis di tengah pertandingan,” ujar Tommy sambil bangkit berdiri.
“Good idea!” Keysha mengacungkan jempolnya. “Aku simpanin tas kamu
di sini, ya. Biar kursinya enggak
diambil orang.”
Tommy memang ingin buang air
kecil. Namun sebagian alasannya pergi dari sana adalah Revan menatapnya
terus-menerus dari barisan paling depan. Tommy tahu dia tak punya alasan untuk
takut kepada Revan. Lagi pula ini tempat ramai, tidak mungkin Revan
merundungnya di sini. Namun jiwa lemah hayati yang berada di alam bawah sekong-nya Tommy tetap bergejolak.
Bagaimana pun, Revan adalah ancaman bagi gay
lemah macam Tommy. Dan tempat ini dihadiri cukup banyak anak-anak dari sekolah
Tommy, yang kalau Revan berbuat macam-macam, cowok itu bisa mengungkap
identitas Tommy yang sebenarnya.
Jadi sambil buang air kecil di
toilet GOR, Tommy menarik napas berkali-kali untuk menenangkan diri. Kamu bisa Tom, kamu bisa menghadapinya,
ulang Tommy dalam hati kepada diri sendiri. Misal Revan nge-bully pun, orang akan simpati ke kamu
karena kamu enggak
berbuat apa-apa yang salah. Kamu hanya ingin menonton basket dengan damai
bersama Keysha.
Setelah mencuci tangan di depan
wastafel, Tommy menarik napas panjang sekali lagi dan menyiapkan diri. Penonton
mulai riuh di dalam GOR sana. Tampaknya MC sudah membuka acara. Namun saat
Tommy keluar dari kamar mandi, seseorang memanggilnya.
“Hey, bencong!”
Oh shit, batin Tommy.
Itu Revan. Baru saja menuruni
tangga menuju toilet. Dia muncul sendirian sambil memasukkan kedua tangan ke
saku celana. Kebetulan tak ada orang lain di area tersebut karena semua orang
sudah bersiap menonton pertandingan.
Tommy menelan ludah dan otomatis
ketakutan. Namun dia berusaha tegar untuk dirinya sendiri. Tak digubrisnya
sapaan Revan, Tommy langsung melengos melewati Revan di anak tangga. Namun,
Revan tak menyukai diabaikan seperti itu. Revan mencengkram bahu Tommy, lalu
mendorongnya hingga terjatuh ke atas lantai. Kepala Tommy bahkan membentur
pintu toilet.
Tommy mencoba bangun
perlahan-lahan meski rasa takut mulai merayapi setiap inci permukaan kulitnya.
Dia melihat Revan berjalan perlahan-lahan menghampirinya, tampak intimidatif.
Tak ada siapa pun mem-backup Revan.
Jadi kalau Tommy dibunuh di tempat, tak akan pernah ada saksi mata.
“K-kamu mau apa sih Rev?” tanya
Tommy memberanikan diri. Namun karena ketakutan, suaranya keciiil ... sekali.
Lebih mirip berbisik.
“Manéh ngomong naon, sih?!” sentak Revan kesal. “Yang
jelas ngomong téh! Percuma manéh punya kontol kalau suara kayak awéwé gitu mah!”
Tommy menunduk ketakutan. Dia
mulai tersudut di dinding dekat pintu masuk ke toilet.
BRAK!
“NGOMONG,
BENCONG!” bentak Revan sambil memukul dinding di sebelah wajah Tommy.
Tommy malah menjerit ketakutan,
“Aw!” saat bogem mentah itu melewati telinganya dan menghantam tembok dekat
kepalanya. Suara Tommy yang agak feminin saat menjerit barusan, membuat Revan
terkekeh puas.
“Mun sia bencong masih kénéh—“
Kata-kata Revan terputus oleh
suara seseorang di ujung tangga. “Nah, itu si Tommy!”
Dewi Fortuna sedang berpihak
kepada Tommy sore itu. Tiga orang berseragam basket sekolahnya menuruni tangga
dengan tergesa. Salah satu di antara ketiganya adalah Jerome. Namun yang
berjalan paling awal adalah Bara, yang badannya bagus itu. “Kan, gue bilang
apa, ada si Tommy di sini.”
Jerome mendesah lega. Namun dia
agak bingung melihat Tommy yang sedang ketakutan dan Revan berdiri sambil
mendengus di sebelahnya. “Ngapain kalian di sini?”
“Enggak ngapa-ngapain, kok Kak,”
jawab Revan sambil menunduk takut.
“Kita enggak ada waktu lagi,” sahut Teuku
di belakang Jerome. “Tommy, kamu bisa ikut kami?”
Tommy belum menjawab apa-apa.
Jerome langsung menarik tangan Tommy pergi. “Ayo, kita cuma punya waktu lima
menit!”
Rupanya, tangan Kyle agak-agak
tremor dan bergetar tanpa alasan. Padahal, Kyle termasuk tim inti babak
pertama. Jerome menarik Tommy ke ruang ganti sekolah mereka, menyodorkan Tommy
kepada Kyle yang mulai menangis karena tak bisa bermain.
“Kamu skip babak pertama dulu, Kyle,” ujar pelatih. “Kalau memang Tommy
bisa bantu menenangkan tangan Kyle melalui pijatan, kita bawa Tommy ke bangku
pemain cadangan.”
“Bisa, Pak!” ujar Jerome percaya
diri.
Sejujurnya, Tommy tidak tahu apa
dia bisa mengatasi masalah Kyle atau tidak. Mungkin ayahnya bisa, tetapi Tommy
tak yakin dia bisa melakukannya. Apalagi ruangan penuh testosteron ini membuatnya merasa
terintimidasi. Entah mengapa Tommy merasa seperti perempuan lemah di sarang
penyamun yang ikhlas digerayangi hingga orgasme. Habisnya cowok-cowok ini
badannya lebih tinggi dibandingkan Tommy. Mereka semua mengenakan kaus basket
tanpa lengan yang memamerkan bisep trisep mereka yang besar. Tommy merasa
digagahi hanya dengan berada satu ruangan bersama mereka.
Yang Tommy ketahui berikutnya, dia
sudah duduk di salah satu bangku cadangan selama pertandingan dimulai. Tommy
sibuk memijat tangan kanan Kyle yang terus-menerus bergetar. Tommy mencoba
menoleh ke arah Keysha. Cewek itu malah berteriak gembira sambil mengacungkan
jempol. “Yaaay!” Keysha mengirimkan
Whatsapp kepada Tommy. Saat Tommy menyalakan layar ponsel untuk melihat
notifikasi, Keysha mengirimkan pesan, “Minta
nomor HP Kyle, please—“
Dua baris di belakang Tommy, Revan
duduk sambil memperhatikan Tommy yang sedang sibuk memijat tangan Kyle. Sebisa
mungkin Tommy tidak mengacuhkan kehadiran Revan di sana, atau fakta bahwa Revan
mengamatinya terus-menerus, bukannya mengamati pertandingan yang sudah dimulai.
“Sejak kapan ini terjadi, Kak?”
tanya Tommy, mengalihkan fokus dari Revan, mulai serius menangani Kyle.
Kyle tampak gelisah dan kesal.
Mungkin karena dia tak bisa main pada ronde pertama. “Tadi,” jawabnya pendek.
“Sebelum berangkat.”
“Kakak melakukan pekerjaan berat?”
“Ck!” Kyle berdecak kesal. Dia
tampak tak suka Tommy menginterogasinya seperti itu, tetapi Kyle cukup tahu
bahwa memberikan informasi kesehatan yang tepat akan lebih cepat menyembuhkan
penyakitnya. “Enggak.”
“Oke,” jawab Tommy, tak mendapat
info apa-apa soal kemungkinan penyebab getaran tangan itu.
“Elo enggak lambe, kan?” bisik Kyle kemudian, mencondongkan tubuh ke arah
Tommy, celingukan berbagai arah memastikan tak ada yang mendengarnya. Satu poin
dihasilkan oleh sekolah mereka. Riuh penonton membuat Tommy harus mendengarkan
dengan jelas kata-kata Kyle.
“Lambe?”
“Elo enggak akan bilang ke orang-orang,
kan? Apa pun yang bakal gue omongin sekarang?”
Kalau Tommy seorang ember bocor,
sudah berhari-hari lalu video Jerome dan Sheena tersebar di Twitter. Tommy
ajaibnya seorang penjaga rahasia yang apik. “Enggak akan, Kak.”
“Janji?”
“Janji.”
Kyle menghela napas dan memutuskan
untuk mengatakan yang sebenarnya. “Oke. Gue kebanyakan coli.”
Tommy membelalak saat mendengarnya.
Tommy mengira Kyle akan mengatakan sesuatu seperti kanker, riwayat diabetes,
atau strok ringan. Namun jawaban yang ini pun tetap kedengaran luar biasa di
telinga Tommy.
“Hari ini gue coli sampe tiga kali gara-gara cewek gue enggak bisa diewe,” bisik Kyle sambil mendengus. “Tapi karena gue kelamaan
ngocok kontol gue, di coli yang
ketiga, tangan gue mulai kayak tremor begini.”
Ternyata ini hanyalah kasus tangan
kelelahan. Tommy tanpa basa-basi meminta Kyle untuk melemaskan tangannya dan
beristirahat dengan relaks di bangku pemain cadangan. Tommy tak begitu tahu
bagaimana mengatasinya, tetapi dia cukup sering memijat bagian tubuh yang
kelelahan hingga merasa lebih segar kembali.
Pada jeda sepuluh menit antara
ronde kedua dan ketiga, tangan Kyle sudah tak bergetar lagi. Kyle diizinkan
bergabung di ronde terakhir, meski tim basket sekolah Tommy pada akhirnya kalah
dalam pertandingan.
Sejak awal memang tim basket
sekolah Tommy tak menunjukkan performa yang baik. Beberapa dari mereka
menyayangkan ketidakhadiran Kyle pada tiga ronde pertama, karena mereka yakin
Kyle bisa mendorong tim tampil lebih baik lagi. Kekalahan itu juga didukung
oleh Bara yang terjatuh pada ronde ketiga, membuat pergelangan kakinya cedera.
(Jadi setelah memijat tangan Kyle, Tommy harus memijat kaki Bara.) Pelatih
bahkan menyalahkan Jerome yang kurang fokus pada permainan.
“Maaf, Pak. Saya lagi sibuk banget
sama OSIS, jadinya—“
“Jangan banyak alasan!” sentak
pelatih pada jeda babak ketiga dan keempat.
Keysha untungnya tak masalah
ketika Tommy pada akhirnya harus duduk di bangku pemain cadangan lebih lama.
Pada setiap jeda sepuluh menit antar ronde, Keysha selalu menghampiri Tommy.
Atau dibaca: pura-pura menghampiri Tommy padahal ingin PDKT dengan Kyle.
“Sorry ya aku jadi duduk di sini, padahal harusnya nemenin kamu,”
bisik Tommy.
Keysha mengibaskan tangan di depan
wajah. “Yaolo ... nyantai aja, kali.
Kamu fokus aja gih pijitin Kak Kyle,”
katanya, sambil mencondongkan tubuh dan mencoba menyapa Kyle dengan ganjen,
“Haaai Kak Kyle ...! Kak Kyle rumahnya di mana, sih? Jauh enggak?”
Pada akhir pertandingan, seluruh
tim basket sekolah Tommy masuk ke dalam ruang ganti dengan kepala menunduk dan
wajah lesu. Tommy terpaksa membuntuti mereka karena Syahri merasa badannya
masuk angin, sehingga ingin dipijat punggungnya. Terinspirasi dari Arthur yang
sering menolong orang tanpa pamrih, Tommy pun menyetujui untuk ikut ke ruang
ganti dan memijat bahu Syahri.
Sepanjang tiga puluh menit berada
di ruang ganti, Tommy jadi terpaksa mendengarkan tim basket sekolahnya
disemprot habis-habisan oleh sang pelatih karena performa yang buruk. Untungnya
Tommy sibuk memijat Syahri.
Selesai diomeli, para pemain
langsung membuka baju dan celananya untuk mandi atau sekadar mengganti baju.
Tommy membelalak gembira, melihat cowok-cowok maskulin nyaris telanjang bulat
di satu ruangan yang sama. Namun Tommy tahu dia tak boleh kelihatan
bersemangat, sehingga Tommy berusaha menunduk menatap lantai dan mengabaikan
semua pemandangan surga itu. Sesekali Tommy mencuri pandang, melihat dada Bara
yang besar, rambut-rambut halus di sekitar pusar Teuku, punggung Alex yang
lebar, hamparan kulit Kyle yang putih dan menawan ... tetapi segera Tommy
mengalihkan pandangan ke arah lain supaya tidak dicurigai menikmati pemandangan
itu.
“Kamu boleh pulang,” ujar Syahri.
“Aku udah agak baikan. Thanks, ya.”
Syahri pun berdiri dan melepaskan celana basketnya hingga telanjang bulat.
Tommy memelotot lagi melihat kelamin mungil yang mengerut tidur itu menggantung
di depan buah zakar yang besar dan rimbunnya rambut keriting. Mengapa dia berani-beraninya?
Oh,
tidak. Bara pun telanjang bulat di ruangan ini! pekik Tommy panik. Enggak bisa. Terlalu banyak testosteron dan pemandangan surga. Tommy
bisa meninggal karena terangsang!
Salah tingkah, Tommy buru-buru
berlari ke pintu keluar ruang ganti. Dia tak mau identitasnya sebagai penyuka
sesama jenis diketahui oleh belasan orang di ruang ganti yang jelas-jelas straight, manly, dan berbadan besar nan tangguh. Tommy harus menguasai diri
sendiri dengan cara pergi.
Namun sebelum mencapai pintu,
seseorang mencegatnya. Dan itu Jerome.
“Mau ke mana?” tanyanya.
“P-pulang, Kak.” Tommy menunduk
menatap lantai. Jerome sama saja. Hanya mengenakan celana dalam Hugo Boss-nya,
sehingga tubuh telanjangnya terpapar di depan wajah Tommy. Dia tak mau ketahuan
sedang ereksi sehingga Tommy sebisa mungkin meletakkan tasnya di depan
selangkangan.
“Dibayar berapa elo sama si Syahri? Atau Bara?”
Tommy mengerutkan alis.
“M-maksudnya, Kak?”
“Elo kan ke sini buat bantu Kyle
doang.”
“A-aku cuma diminta sama Kak Bara
dan Kak Syahri untuk—“
“Gue enggak suka elo mijitin orang lain tanpa izin
dari gue!” tegas Jerome. Suaranya terdengar kokoh, tetapi tak terlalu keras
karena tak ada satu pun orang di ruang ganti yang mendengar Jerome. “Elo private masseur gue. Enggak bisa seenaknya ngelayanin orang lain
tanpa bilang sama gue. Paham?”
Tommy tak tahu harus melakukan apa
selain mengangguk mengiakan. Tommy sebenarnya tak ingat sejak kapan dia menjadi
private masseur Jerome. Sejauh ini
memang hanya Jerome-lah yang secara eksklusif dipijat oleh Tommy. Arthur yang
juga ingin dipijat Tommy kalau-kalau dia cedera, hingga hari ini belum menuntut
haknya itu. Namun Tommy tak merasa pernah diangkat menjadi pekerjanya Jerome
atau apalah, meski dia memang selalu dibayar sebagai pekerja setiap pulang dari
rumah Jerome. Uang-uang hasil memijat itu muncul di rekening Dana-nya Tommy.
Jerome berlalu ke kamar mandi
sambil menatap Tommy dengan tegas. Tommy hanya bisa berjalan keluar sambil
menatap ubin lantai di bawahnya. Bagaimana pun, Tommy masih merasa
terintimidasi oleh presensi Jerome—tak peduli seberapa banyak dia sudah memijat
kaki cowok manis itu. Tommy masih menganggap Jerome ketua OSIS yang patut
dihormati karena dia juga seorang kakak kelas.
Ketika Tommy keluar dari ruang
ganti, Keysha sedang menunggu di sebuah bangku di dekat situ.
“Kamu belum pulang?” tanya Tommy.
Keysha mengibaskan tangan. “Aku
pulang bareng Kyle. Hihihi. Kamu duluan aja, Tom. Makasih ya udah nemenin!”
“I-iya.” Tommy memang ingin segera
pulang. Dia melakukan cipika-cipiki
bersama Keysha, lalu bergegas pergi dari GOR. (Meski seingat Tommy, Kyle sudah
punya pacar.)
Tommy bergegas pulang karena sudah
tak tahan ingin masturbasi. Rekaman visual dalam kepalanya akan kemaluan Bara
dan Syahri, dan tubuh-tubuh telanjang tim basket sekolahnya, harus tetap dia
ingat sebagai fantasi melakukan onani di rumah nanti. Bahkan, sejujurnya, saat
Jerome mencegatnya penuh dominasi di pintu barusan, Tommy juga merasa horny. Jadi rencana Tommy adalah memesan
GoJek sampai rumah, lalu menutup mata sepanjang perjalanan, jangan sampai
melihat visual apa pun yang tak menarik seperti kakek-kakek atau kuli bangunan
berwajah kampung di pinggir jalan. Semua visual ruang ganti itu masih harus
melekat dalam memorinya sebagai bacol
(bahan coli).
Namun apa mau dikata. Dewi Fortuna sudah pergi entah ke mana. Belum juga Tommy mencapai gerbang, seseorang mencegatnya lagi dengan intimidatif.
“Hey, Bencong!” Revan. Berdiri tegap dengan senyum sebelah. Di tangannya ada segelas minuman boba yang masih penuh, yang lima menit kemudian seluruh isinya mendarat di kepala Tommy.
To be continued ....
Pesannya gimana bang next part?
BalasHapusThis giving Glee Vibe. Slushie!
BalasHapus